Queensha.id – Edukasi Sosial,
Di era media sosial yang sarat validasi, standar kesuksesan sering kali tidak lagi diukur dari kestabilan hidup, melainkan dari tampilan gaya hidup. Liburan mewah, nongkrong di kafe mahal, hingga kepemilikan gawai terbaru kerap dijadikan simbol keberhasilan.
Akibatnya, tidak sedikit masyarakat kelas menengah yang berusaha tampil mapan meski kondisi keuangannya sebenarnya rapuh. Fenomena ini bahkan memunculkan istilah baru: fake rich middle class atau “orang kaya palsu”.
Gaya Hidup demi Pengakuan Sosial
Tekanan sosial dan gengsi disebut menjadi faktor utama di balik perilaku tersebut. Banyak orang merasa harus menunjukkan tanda-tanda kesuksesan agar tidak dianggap gagal oleh lingkungan sekitar, bahkan oleh keluarga sendiri.
Situasi ini semakin terasa menjelang momen sosial seperti Lebaran. Sebagian orang bahkan mengaku enggan pulang kampung karena khawatir akan dicecar pertanyaan tentang pencapaian hidup.
Di sisi lain, media sosial juga memainkan peran besar dalam membentuk persepsi tentang sukses. Foto liburan, restoran mahal, atau barang bermerek yang sering muncul di beranda membuat banyak orang merasa perlu mengikuti standar yang sama.
Dosen dari IPB University, Tanti Novianti, menjelaskan bahwa fenomena ini berkaitan dengan demonstration effect.
Menurutnya, seseorang cenderung meniru gaya hidup kelompok yang dianggap memiliki status sosial lebih tinggi.
“Hal ini sejalan dengan teori conspicuous consumption yang diperkenalkan oleh Thorstein Veblen. Konsumsi tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan, tetapi juga untuk menunjukkan status sosial atau prestise,” jelasnya.
Tampak Kaya, Tapi Rentan Finansial
Dalam praktiknya, kelompok “orang kaya palsu” sering terlihat memiliki gaya hidup mapan. Mereka mampu membeli gawai terbaru, rutin berlibur, atau aktif mengunjungi pusat perbelanjaan dan kafe.
Namun di balik itu, kondisi keuangan mereka sering kali tidak sekuat yang terlihat.
Minim tabungan, investasi, dan perlindungan keuangan membuat kelompok ini sangat rentan terhadap guncangan ekonomi, seperti kehilangan pekerjaan atau kebutuhan darurat.
Beberapa kajian bahkan memproyeksikan bahwa tanpa perencanaan finansial yang baik, sebagian masyarakat kelas menengah berisiko memasuki usia tua dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil.
Lifestyle Inflation dan Akses Kredit
Fenomena ini juga dipengaruhi oleh lifestyle inflation, yaitu peningkatan gaya hidup yang mengikuti kenaikan pendapatan.
Ketika penghasilan meningkat, banyak rumah tangga justru menaikkan pola konsumsi tanpa diimbangi dengan pembentukan aset atau tabungan jangka panjang.
Kemudahan akses kredit juga mempercepat pola tersebut. Kartu kredit, cicilan kendaraan, hingga layanan pay later membuat konsumsi menjadi semakin mudah dilakukan, meski kemampuan finansial sebenarnya terbatas.
Literasi Keuangan Masih Rendah
Tanti Novianti menilai rendahnya literasi keuangan juga menjadi faktor penting. Banyak masyarakat belum memahami pentingnya dana darurat, pengelolaan utang, serta investasi jangka panjang.
“Tanpa tabungan, investasi, atau aset produktif, peningkatan pendapatan tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Meski demikian, realitas ekonomi masyarakat juga tidak bisa diabaikan. Bagi sebagian pekerja, pendapatan yang diperoleh sering kali hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Kondisi tersebut membuat menabung atau berinvestasi menjadi hal yang sulit dilakukan.
Antara Realitas dan Tekanan Sosial
Fenomena “orang kaya palsu” menunjukkan bagaimana tekanan sosial, budaya konsumsi, dan pengaruh media digital dapat membentuk perilaku ekonomi masyarakat.
Di satu sisi, keinginan untuk terlihat sukses menjadi dorongan kuat bagi banyak orang. Namun di sisi lain, tanpa pengelolaan keuangan yang sehat, gaya hidup tersebut justru dapat menjerumuskan pada kerentanan finansial di masa depan.
Bagi sebagian orang, terlihat sukses memang penting. Tetapi bagi kehidupan jangka panjang, stabilitas keuangan jauh lebih menentukan.
***
(Queensha Jepara – 15 Maret 2026)

Tinggalkan Balasan