Queensha.id – Jepara,

 

Pemerintah Kabupaten Jepara resmi membuka Festival Literasi Jepara Tahun 2026 pada Rabu (7/10/2026). Mengusung tema “Literasi Menyala, Jepara Punya Cerita”, festival yang berlangsung hingga 9 Oktober 2026 ini menjadi ajang untuk memperkuat budaya literasi sekaligus mendorong masyarakat mengubah pengetahuan menjadi karya dan aksi nyata.

Pembukaan festival dihadiri Bupati Jepara H. Witiarso Utomo yang diwakili Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Asisten I) Sekretariat Daerah Kabupaten Jepara, Ali Hidayat.

Turut hadir Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Demak, Kudus, Pati, dan Rembang, kepala perangkat daerah, Bunda Literasi Kecamatan se-Kabupaten Jepara, Kepala Cabang Pembantu Bank Jateng, komunitas dan pegiat literasi, kepala sekolah, ratusan pelajar, serta masyarakat umum.

Dalam sambutannya, Ali Hidayat menegaskan bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan kegiatan membaca buku, tetapi juga mencakup kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, menemukan gagasan, menghasilkan karya, hingga memanfaatkan pengetahuan untuk menyelesaikan berbagai persoalan.

“Literasi bukan hanya soal seberapa banyak buku yang kita baca. Literasi adalah kemampuan untuk memahami informasi, berpikir kritis, menemukan gagasan, menghasilkan karya, dan menggunakan pengetahuan untuk menyelesaikan persoalan,” ujarnya.

Ia menambahkan, penguatan budaya literasi memerlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, sekolah, perpustakaan, komunitas, lembaga pendidikan, dunia usaha, hingga masyarakat luas. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk menciptakan lingkungan yang mendorong kebiasaan membaca dan belajar sepanjang hayat.

Menurutnya, gerakan literasi juga selaras dengan visi pembangunan Kabupaten Jepara, yakni “Bersama Membangun Kabupaten Jepara yang Makmur, Unggul, Lestari, dan Religius.”

Semangat tersebut diwujudkan melalui gerakan “Baca, Kreasi, Beraksi”, yang mengajak masyarakat membaca, melahirkan ide, kemudian mengubahnya menjadi karya dan tindakan nyata.

“Festivalnya boleh selesai, tetapi gerakan literasi harus terus menyala,” tegas Ali Hidayat.

Festival Literasi Jepara 2026 juga menjadi momentum memperkuat fungsi perpustakaan sebagai ruang bertemunya pengetahuan, kreativitas, komunitas, dan berbagai gagasan. Perpustakaan diharapkan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan buku, tetapi juga mampu memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat.

Literasi Digital dan Pemasaran Online

Pada hari pertama pelaksanaan festival, panitia menggelar sesi gelar wicara bertajuk “Mengenal Pemasaran Online: Memperkaya Literasi, Memperluas Peluang.”

Kegiatan tersebut menghadirkan praktisi pemasaran digital dari UNISNU Jepara, Mohamad Rifqy Roosdhany, yang memberikan pembekalan kepada pelaku UMKM dan generasi muda mengenai strategi memanfaatkan platform digital untuk mengembangkan usaha.

Rifqy menjelaskan bahwa pemasaran digital kini menjadi kebutuhan penting karena perilaku konsumen telah berubah. Banyak masyarakat mencari dan membandingkan informasi secara daring sebelum memutuskan membeli suatu produk.

Ia memperkenalkan lima tahapan pemasaran online, yaitu membuat usaha dikenal, ditemukan, dipercaya, dihubungi, hingga akhirnya menghasilkan transaksi pembelian.

“Literasi digital tidak sebatas bisa menggunakan ponsel pintar, tetapi bagaimana kita mampu menyaring informasi dan memanfaatkannya secara produktif untuk membuka peluang usaha maupun karier baru,” jelasnya.

Sebagai langkah praktis, peserta juga diperkenalkan dengan program “Tantangan 7 Hari”, yang dirancang untuk membantu masyarakat mulai mempraktikkan pemasaran online secara langsung melalui telepon pintar.

Melalui berbagai rangkaian kegiatan tersebut, Festival Literasi Jepara 2026 diharapkan mampu menjadi ruang kolaborasi untuk menumbuhkan budaya membaca, memperluas wawasan masyarakat, sekaligus melahirkan karya, inovasi, dan peluang ekonomi baru di Kabupaten Jepara.

 

***

Sumber: Diskominfo Jepara/FR.