Queensha.id – Edukasi Sosial,
Gangguan jiwa berat kini tidak lagi dipandang sebagai persoalan iman semata. Ulama dan psikolog di Indonesia semakin satu suara: penanganan harus dilakukan secara komprehensif, menggabungkan pendekatan medis, psikologis, dan spiritual.
Sebelumnya, para ulama telah menegaskan bahwa gangguan jiwa berat seperti depresi akut atau skizofrenia adalah kondisi medis yang membutuhkan terapi profesional, bukan sekadar nasihat keagamaan.
Ulama: Ikhtiar Medis adalah Bagian dari Syariat
Dalam berbagai kajian keislaman di Indonesia, ditegaskan bahwa berobat merupakan bagian dari ikhtiar yang dianjurkan agama. Gangguan jiwa tidak cukup ditangani dengan doa saja, tetapi juga perlu diagnosis dan terapi dari tenaga profesional.
Pandangan ini juga meluruskan stigma lama yang mengaitkan gangguan mental dengan lemahnya iman. Faktanya, gangguan jiwa dipengaruhi banyak faktor, mulai dari biologis hingga tekanan hidup.
Psikolog: “Tidak Adil Menyebut Ini Karena Kurang Iman”
Pandangan tersebut diperkuat oleh psikolog Indonesia, salah satunya Prof. Rena Latifa (Guru Besar Psikologi UIN Jakarta).
Dalam kajian akademik, ia menegaskan bahwa gangguan mental tidak bisa disederhanakan sebagai persoalan spiritual semata.
“Tidak adil kalau kita bilang orang depresi itu kurang iman. Ini kondisi medis dan psikologis yang perlu ditangani secara komprehensif,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa gangguan jiwa memiliki banyak faktor penyebab, seperti:
– Ketidakseimbangan biologis dalam otak.
– Faktor genetik.
– Trauma psikologis.
– Lingkungan sosial dan keluarga.
Karena itu, penanganannya harus melibatkan terapi psikologis, pengobatan, serta dukungan lingkungan.
Psikiater Indonesia: Integrasi Agama dan Ilmu
Pendekatan integratif ini sebenarnya sudah lama diperkenalkan oleh tokoh psikiatri Indonesia seperti Dadang Hawari, yang dikenal memadukan pendekatan medis dengan nilai-nilai keagamaan dalam praktik kejiwaan.
Pendekatan tersebut kini semakin relevan, terutama di masyarakat religius seperti Indonesia.
Spiritualitas Tetap Penting, Tapi Bukan Satu-Satunya
Baik ulama maupun psikolog sepakat bahwa spiritualitas tetap memiliki peran penting, seperti:
– Zikir dan doa untuk ketenangan batin.
– Ibadah untuk membangun harapan.
– Dukungan sosial berbasis nilai keagamaan.
Namun, fungsi spiritual lebih sebagai penguat mental, bukan pengganti pengobatan.
Bahaya Stigma di Masyarakat
Masalah terbesar saat ini justru bukan kurangnya metode penyembuhan, tetapi stigma masyarakat. Banyak penderita gangguan jiwa:
– Tidak dibawa ke psikolog atau psikiater
Dianggap “kerasukan” atau “kurang iman”.
– Dikucilkan dari lingkungan.
– Padahal stigma ini justru memperparah kondisi dan menghambat proses penyembuhan.
Sinergi antara agama dan ilmu pengetahuan kini menjadi kunci utama dalam menyembuhkan gangguan jiwa berat.
Ulama memberikan kekuatan spiritual, sementara psikolog dan psikiater memberikan penanganan ilmiah.
Gangguan jiwa bukan aib, bukan pula semata-mata soal iman melainkan penyakit yang harus diobati dengan serius dan manusiawi.
***
(30 April 2026)

Tinggalkan Balasan