Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Fenomena penggunaan iPhone di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil kini menjadi sorotan publik. Di berbagai kalangan, ponsel premium tersebut tidak lagi dipandang sekadar alat komunikasi, melainkan simbol status sosial dan gengsi.

Tak sedikit orang rela mengambil cicilan panjang, menggunakan layanan paylater, hingga berutang demi memiliki perangkat dengan logo apel tersebut.

Kondisi ini dinilai memunculkan pola konsumtif yang berpotensi membebani kondisi finansial masyarakat, khususnya generasi muda.

Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai fenomena tersebut dipicu oleh dorongan validasi sosial di era media digital.

“Ironisnya, banyak orang lebih sibuk terlihat kaya dibanding mempersiapkan diri untuk benar-benar mapan secara ekonomi,” ujarnya.

 

iPhone Dinilai Jadi Simbol Status Sosial

Menurut Purnomo, iPhone kini telah berubah menjadi simbol kelas sosial di tengah masyarakat modern. Akibatnya, sebagian orang merasa harus memiliki perangkat tersebut agar dianggap lebih sukses, modern, atau berkelas.

Padahal, lanjut dia, memaksakan gaya hidup di luar kemampuan finansial justru bisa menjadi beban jangka panjang.

“Ketika gengsi lebih besar daripada kemampuan ekonomi, orang mudah terjebak dalam utang konsumtif,” katanya, Selasa (12/5).

Fenomena membeli iPhone bekas, unit inter, hingga mengambil cicilan panjang dinilai menjadi gambaran bagaimana tekanan sosial dapat memengaruhi keputusan keuangan seseorang.

 

Paylater dan Cicilan Jadi Sorotan

Maraknya layanan paylater dan kredit digital turut memperbesar dorongan konsumtif masyarakat. Kemudahan akses cicilan membuat sebagian orang tergoda membeli barang di luar kebutuhan utama.

Purnomo mengingatkan bahwa kemudahan tersebut seharusnya digunakan secara bijak agar tidak berubah menjadi jebakan finansial.

“Memiliki barang mahal tidak otomatis membuat seseorang naik kelas secara ekonomi. Yang menentukan adalah kestabilan keuangan dan kemampuan mengelola penghasilan,” jelasnya.

Ia menambahkan, tekanan gaya hidup di media sosial juga ikut memperkuat fenomena tersebut. Banyak orang merasa perlu mengikuti tren demi mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar.

Kekayaan Dinilai Bukan dari Gengsi
Menurutnya, masyarakat perlu mulai membedakan antara kebutuhan dan keinginan agar tidak terjebak dalam pola hidup konsumtif.

Ia menilai kekayaan sejati bukan diukur dari merek ponsel yang digunakan, melainkan dari ketenangan hidup tanpa tekanan utang dan tagihan bulanan.

“Jangan sampai demi terlihat mewah, justru masa depan finansial dikorbankan,” tegasnya.

Fenomena ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya literasi keuangan di tengah perkembangan gaya hidup digital dan budaya flexing yang semakin marak di media sosial.

 

***

Queensha Jepara, Selasa 12 Mei 2026.