Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Generasi Z kembali menjadi sasaran empuk kritik. Di dunia kerja, mereka kerap dicap “lembek”, tidak tahan tekanan, hingga dianggap tak punya etos kerja. Namun, benarkah masalahnya ada pada generasi ini, atau justru pada sistem kerja yang selama ini dibiarkan bermasalah?

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan tingkat pengangguran usia 15–24 tahun masih menjadi yang tertinggi. Fakta ini kemudian memperkuat stigma bahwa Gen Z sulit terserap dunia kerja. Narasi yang berkembang pun cenderung menyudutkan yaitu kurang motivasi, tidak profesional, hingga antikritik. Namun di balik tudingan itu, muncul perspektif lain yang tak kalah kuat.

 

Gen Z Bukan Lemah, Tapi Lebih Sadar

Seorang praktisi rekrutmen di Bali mengungkapkan bahwa Gen Z justru memiliki kesadaran tinggi terhadap nilai diri (self value). Mereka tidak lagi sekadar mencari pekerjaan, tetapi juga mempertimbangkan apakah lingkungan kerja tersebut sehat atau tidak.

Berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung bertahan dalam kondisi apa pun, Gen Z berani menilai: apakah perusahaan itu green flag atau justru red flag.

Kesadaran ini membuat mereka lebih selektif yang bukan malas, melainkan tidak ingin terjebak dalam sistem kerja yang eksploitatif.

 

Speak Up, Bukan Membangkang

Karakter Gen Z yang vokal sering disalahartikan sebagai sikap melawan. Padahal, keberanian mereka untuk speak up justru menjadi indikator meningkatnya kesadaran hukum dan etika kerja.

Mereka tidak segan mengkritisi kebijakan perusahaan yang tidak sesuai aturan. Bahkan, membawa referensi hukum atau regulasi untuk memperkuat argumen mereka.

 

Masalahnya Ada di Sistem

Pengalaman pekerja muda di Jakarta menunjukkan persoalan yang lebih dalam yakni ketidaksesuaian antara kebutuhan industri dan kompetensi tenaga kerja.

Belum lagi budaya kerja yang tidak sehat di mulai dari beban kerja tidak masuk akal, manajemen buruk, hingga minimnya apresiasi.

Dalam kondisi seperti ini, keputusan Gen Z untuk pindah kerja justru rasional. Label “kutu loncat” sering kali menutup fakta bahwa banyak perusahaan gagal menciptakan lingkungan kerja yang layak.

 

Siapa yang Harus Berbenah?

Alih-alih terus menyalahkan Gen Z, dunia kerja justru perlu bercermin. Apakah sistem yang ada sudah adil? Apakah budaya kerja sudah sehat?
Karena bisa jadi, generasi yang selama ini dicap “lembek” justru sedang menetapkan standar baru yaitu bekerja dengan martabat, bukan sekadar bertahan dalam tekanan.

 

***