Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Fenomena berkurangnya partisipasi Generasi Z dalam kegiatan tahlilan mulai menjadi perhatian para tokoh masyarakat di berbagai desa. Bukan semata-mata karena persoalan hukum agama yang masih menjadi perbedaan pendapat di kalangan umat Islam, tetapi karena tahlilan selama ini dipandang sebagai salah satu ruang sosial yang mampu menjaga kerukunan, mempererat silaturahmi, dan menumbuhkan kepedulian antartetangga.

Bagi masyarakat pedesaan, tahlilan bukan hanya rangkaian doa untuk keluarga yang sedang berduka. Tradisi ini juga menjadi sarana berkumpulnya warga tanpa memandang status sosial, usia, maupun latar belakang ekonomi. Dalam suasana sederhana, warga saling bertemu, menyapa, dan memperkuat hubungan kekeluargaan yang menjadi ciri khas kehidupan desa.

Namun, belakangan ini para tetua desa mengaku mulai cemas karena semakin sedikit anak muda yang hadir dalam kegiatan tersebut.

 

 

Tahlilan Lebih dari Sekadar Doa Bersama

Di banyak desa di Pulau Jawa, tahlilan telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat selama puluhan bahkan ratusan tahun. Selain membaca tahlil, doa, dan ayat-ayat Al-Qur’an, kegiatan ini menjadi media komunikasi warga.

Sering kali berbagai informasi penting desa, kondisi warga yang membutuhkan bantuan, hingga rencana kerja bakti diketahui melalui pertemuan seperti ini.

Ketika seseorang mengalami musibah, warga yang hadir dalam tahlilan tidak hanya mendoakan, tetapi juga menunjukkan empati dan memberikan dukungan moral kepada keluarga yang ditinggalkan.

Karena itu, para sesepuh menilai jika tradisi tersebut semakin ditinggalkan, maka dikhawatirkan budaya srawung, gotong royong, dan kepedulian sosial juga ikut memudar.

 

 

Bukan Semata-Mata Karena Kesibukan Kerja

Alasan sibuk bekerja memang sering disampaikan oleh sebagian anak muda. Namun, dalam praktiknya, mayoritas kegiatan tahlilan di desa diselenggarakan setelah salat Magrib atau Isya, ketika sebagian besar pekerja telah selesai menjalankan aktivitasnya.

Karena itu, persoalan utama bukan selalu soal waktu, melainkan perubahan pola hidup, meningkatnya penggunaan gawai, media sosial, hiburan digital, hingga berkurangnya minat untuk berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar.

Banyak anak muda yang lebih memilih menghabiskan waktu luang di rumah atau di dunia digital dibandingkan menghadiri kegiatan kemasyarakatan.

 

 

Mengapa Anak Muda Perlu Dilibatkan?

Keikutsertaan generasi muda dalam kegiatan sosial memiliki manfaat yang besar.

Selain memperluas pergaulan, mereka belajar menghormati orang yang lebih tua, mengenal kondisi tetangga, membangun rasa empati, serta memahami pentingnya hidup bermasyarakat.

Hubungan sosial yang kuat juga menjadi modal penting ketika suatu saat mereka sendiri membutuhkan bantuan dari lingkungan sekitar.

 

 

Bagaimana Agar Generasi Z Tertarik Mengikuti Tahlilan?

Para pemerhati sosial menilai pendekatan kepada anak muda tidak cukup hanya dengan memberikan nasihat. Mereka perlu diajak memahami makna di balik tradisi tersebut.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Memberikan teladan dari orang tua dengan rutin menghadiri kegiatan kemasyarakatan.
  • Melibatkan anak muda dalam kepanitiaan atau tugas sederhana sehingga mereka merasa memiliki peran.
  • Menjelaskan bahwa tahlilan bukan sekadar membaca doa, tetapi juga membangun persaudaraan dan kepedulian sosial.
  • Menghindari sikap menghakimi atau memaksa, melainkan mengajak dengan pendekatan yang santun dan dialogis.
  • Mengemas kegiatan kemasyarakatan secara lebih inklusif tanpa menghilangkan nilai-nilai utamanya.

Pandangan Islam

Dalam Islam, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai bentuk dan tata cara tahlilan sebagai tradisi. Sebagian ulama membolehkannya sebagai sarana berdoa dan berdzikir selama tidak diyakini sebagai kewajiban agama. Sebagian ulama lainnya memiliki pandangan yang berbeda mengenai praktik tersebut.

Meski demikian, terdapat nilai-nilai yang disepakati luas dalam ajaran Islam, yaitu pentingnya silaturahmi, tolong-menolong dalam kebaikan, menghibur keluarga yang sedang berduka, serta mendoakan sesama Muslim.

Al-Qur’an juga memerintahkan umat Islam untuk saling bekerja sama dalam kebajikan dan ketakwaan (QS. Al-Ma’idah: 2), sementara Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya menjaga hubungan baik dengan tetangga dan mempererat persaudaraan.

Karena itu, terlepas dari adanya perbedaan pandangan mengenai bentuk tradisinya, semangat memperkuat ukhuwah, kepedulian sosial, dan silaturahmi tetap merupakan nilai yang sangat dianjurkan dalam Islam.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan kehidupan digital, menjaga budaya srawung menjadi tantangan bersama. Tradisi yang mampu mempererat hubungan antarsesama tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi sarana memperkuat solidaritas sosial agar kehidupan masyarakat desa tetap harmonis dari generasi ke generasi.

 

Tahlilan Mengajarkan Timbal Balik dalam Kehidupan Bermasyarakat

Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai bahwa tradisi tahlilan tidak hanya memiliki nilai religius dan sosial, tetapi juga mengajarkan pentingnya hubungan timbal balik (resiprositas) dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurutnya, kehadiran seseorang dalam kegiatan kemasyarakatan akan membangun ikatan emosional dan solidaritas antarwarga yang akan kembali dirasakan ketika dirinya atau keluarganya membutuhkan dukungan dari lingkungan sekitar.

“Gini, kalau kita rajin tahlilan, maka kelak ketika keluarga kita mengadakan acara tahlilan, otomatis yang datang juga banyak dan mereka datang dengan semangat. Itulah pentingnya menjaga hubungan baik dengan tetangga. Jangan sampai kita tidak pernah hadir di kegiatan masyarakat, tetapi berharap semua orang datang saat kita membutuhkan,” ujar pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, Minggu (19/7/2026).

Purnomo menambahkan, tahlilan sejatinya bukan sekadar menghadiri acara doa bersama, melainkan menjadi media memperkuat budaya srawung, gotong royong, dan kepedulian sosial yang telah lama menjadi identitas masyarakat pedesaan di Jawa.

“Di desa, kekuatan masyarakat itu ada pada kebersamaan. Tahlilan menjadi salah satu ruang untuk saling mengenal, saling peduli, dan mempererat silaturahmi. Kalau generasi muda mulai meninggalkan tradisi ini tanpa menggantinya dengan bentuk interaksi sosial yang lain, dikhawatirkan rasa kekeluargaan antar warga akan semakin memudar,” pungkasnya.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.