Queensha.id – Jakarta,
Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitas vulkanik tinggi. Erupsi yang terjadi sejak Jumat malam, 4 September 2026, menjadi perhatian masyarakat karena disertai suara gemuruh, dentuman, pijaran lava, serta semburan abu vulkanik.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Status tersebut menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik meningkat sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan.
Erupsi Menerus dengan Fenomena Lava Fountain
Salah satu fenomena yang terlihat dalam aktivitas terbaru Gunung Anak Krakatau adalah erupsi menerus (continuous eruption) dengan tipe letusan strombolian.
Erupsi strombolian merupakan tipe letusan gunung api yang menghasilkan lontaran material vulkanik secara berkala, termasuk:
- Lava pijar.
- Batu pijar.
- Abu vulkanik.
- Gas vulkanik.
Fenomena yang terjadi juga menyerupai lava fountain atau air mancur lava, yaitu semburan material lava pijar yang terlihat menyala dari kawah aktif.
Badan Geologi menjelaskan bahwa erupsi menerus Gunung Anak Krakatau pada periode ini menghasilkan semburan lava dan abu vulkanik serta suara gemuruh yang terdengar dari beberapa wilayah.
Dentuman Gunung Anak Krakatau Terdengar hingga Sejumlah Wilayah
Aktivitas Gunung Anak Krakatau juga menyebabkan suara gemuruh dan dentuman yang dilaporkan terdengar hingga beberapa wilayah seperti:
- Banten.
- Lampung.
- Jawa Barat.
Suara tersebut berasal dari energi letusan dan aktivitas magma yang bergerak di dalam tubuh gunung api.
Masyarakat tidak perlu langsung panik, tetapi tetap harus mengikuti informasi resmi dari pemerintah karena aktivitas gunung api dapat berubah sewaktu-waktu.
Abu Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke Beberapa Wilayah
Erupsi Gunung Anak Krakatau menyebabkan sebaran abu vulkanik di atmosfer.
Berdasarkan pemantauan BMKG dan Badan Geologi, abu vulkanik terpantau menyebar menuju wilayah:
- Banten.
- DKI Jakarta.
- Jawa Barat.
- Lampung.
- Bengkulu.
BMKG melakukan pemantauan menggunakan berbagai teknologi, termasuk citra satelit, untuk melihat perkembangan sebaran abu vulkanik dan dampaknya terhadap atmosfer serta penerbangan.
Apakah Erupsi Anak Krakatau Bisa Menyebabkan Tsunami?
Pertanyaan terbesar masyarakat adalah:
Apakah erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini bisa menyebabkan tsunami seperti tahun 2018?
Badan Geologi menyatakan bahwa kondisi tubuh Gunung Anak Krakatau saat ini masih relatif kecil setelah mengalami perubahan akibat erupsi besar tahun 2018.
Hasil evaluasi menunjukkan belum ada indikasi potensi runtuhan tubuh gunung dalam skala besar yang dapat memicu tsunami.
Selain itu, BMKG melalui sistem pemantauan tsunami juga menyampaikan bahwa hingga 6 September 2026 tidak terdeteksi adanya anomali muka laut yang mengindikasikan tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Namun, masyarakat tetap diminta waspada karena kondisi gunung api masih aktif.
Mengapa Gunung Anak Krakatau Harus Diawasi?
Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif yang berada di kawasan Selat Sunda, wilayah yang memiliki sejarah aktivitas vulkanik besar.
Gunung ini menjadi perhatian dunia setelah peristiwa tahun 1883 dan erupsi 2018 yang menyebabkan perubahan bentuk tubuh gunung serta tsunami akibat longsoran material ke laut.
Karena berada di tengah laut, setiap perubahan aktivitas Gunung Anak Krakatau selalu mendapatkan pemantauan khusus dari berbagai lembaga.
Radius Bahaya Gunung Anak Krakatau
Pemerintah menetapkan masyarakat, nelayan, wisatawan, dan kapal untuk tidak mendekati kawasan kawah aktif.
Zona larangan aktivitas berada dalam radius:
3 kilometer dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau.
Ancaman yang perlu diwaspadai antara lain:
1. Lontaran Batu Pijar
Material panas dari kawah dapat terlontar saat terjadi erupsi.
2. Lava
Aliran lava dan semburan lava pijar dapat membahayakan siapa pun yang berada terlalu dekat.
3. Abu Vulkanik
Abu dapat mengganggu:
- Pernapasan.
- Penglihatan.
- Aktivitas masyarakat.
- Penerbangan.
Kementerian Kesehatan juga mengimbau masyarakat terdampak abu vulkanik untuk menggunakan masker dan membatasi aktivitas luar ruangan jika kondisi memburuk.
Dampak Erupsi Anak Krakatau terhadap Transportasi
Sebaran abu vulkanik juga berdampak pada sektor penerbangan.
Abu vulkanik dapat berbahaya bagi mesin pesawat karena partikel halusnya dapat mengganggu sistem mesin dan keselamatan penerbangan.
BMKG meningkatkan pemantauan atmosfer serta menerbitkan informasi peringatan bagi sektor penerbangan terkait sebaran abu vulkanik.
Imbauan untuk Masyarakat
Masyarakat di sekitar Selat Sunda diminta:
- Tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer.
- Menggunakan masker ketika terjadi hujan abu.
- Melindungi mata dari paparan abu vulkanik.
- Mengikuti informasi resmi PVMBG, BMKG, dan MAGMA Indonesia.
- Tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Aktivitas Mulai Menurun, Tetapi Status Masih Siaga
Pada Minggu, 6 September 2026, PVMBG menyampaikan bahwa episode erupsi menerus sekitar 25 jam telah berhenti, tetapi status Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III (Siaga).
Pemantauan tetap dilakukan karena aktivitas vulkanik masih dapat berkembang dan evaluasi status dilakukan secara berkala.
Jadi, Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda menjadi perhatian nasional karena aktivitasnya berupa letusan menerus, lava fountain, suara gemuruh, dan sebaran abu vulkanik.
Meski demikian, berdasarkan pemantauan Badan Geologi dan BMKG, belum terdapat indikasi tsunami akibat erupsi saat ini. Masyarakat diminta tidak panik, tetapi tetap waspada dengan mengikuti arahan resmi pemerintah.
Gunung Anak Krakatau adalah pengingat bahwa Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), sehingga kesiapsiagaan terhadap bencana gunung api menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan