Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Tradisi saling bermaafan saat Idul Fitri menjadi momen yang paling dinanti. Kalimat “mohon maaf lahir dan batin” seolah menjadi jembatan untuk mencairkan hubungan yang sempat renggang.

Namun di tengah masyarakat, berkembang anggapan bahwa yang lebih muda sebaiknya lebih dulu meminta maaf kepada yang lebih tua. Lalu, apakah hal ini bagian dari ajaran Islam atau sekadar budaya?

Secara umum, Islam memang mengajarkan adab (etika) dalam bersikap, termasuk kepada orang yang lebih tua. Menghormati yang lebih tua adalah nilai penting yang dijunjung tinggi, sehingga tidak heran jika dalam praktik sosial, yang muda sering didorong untuk lebih dulu menyapa dan meminta maaf.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, KH Miftachul Akhyar, dalam berbagai tausiyah menegaskan bahwa meminta maaf adalah akhlak mulia yang tidak dibatasi usia.

“Yang terbaik adalah yang lebih dulu memulai kebaikan,” menjadi prinsip yang kerap disampaikan dalam dakwah keislaman.

Pandangan ini menegaskan bahwa dalam Islam, tidak ada aturan baku yang mewajibkan yang muda harus selalu lebih dulu meminta maaf. Namun, jika dilakukan sebagai bentuk penghormatan, hal tersebut justru menjadi nilai tambah dalam adab.
Senada dengan itu, tokoh Nahdlatul Ulama, KH Maimun Zubair (alm), pernah menyampaikan bahwa merendahkan hati untuk meminta maaf adalah tanda kemuliaan, bukan kelemahan.

Menurutnya, siapa pun yang lebih dulu meminta maaf justru menunjukkan kedewasaan spiritual dan keluasan hati.
Sementara itu, Ketua Umum Muhammadiyah, KH Haedar Nashir, menekankan pentingnya membangun budaya saling memaafkan tanpa melihat siapa yang lebih tua atau lebih muda.

“Jangan menunggu orang lain memulai. Mulailah dari diri sendiri,” menjadi pesan moral yang sering digaungkan.

Dari perspektif ini, tradisi yang mendorong anak muda lebih dulu meminta maaf bisa dipahami sebagai bagian dari budaya ketimuran yang menjunjung tinggi sopan santun. Namun secara substansi ajaran Islam, yang paling utama adalah keikhlasan dan kesiapan hati untuk saling memaafkan.

Di momen Lebaran, ego sering kali menjadi penghalang utama. Padahal, siapa pun yang lebih dulu mengulurkan tangan justru berada pada posisi yang lebih mulia.

Tradisi boleh berbeda, tetapi nilai yang dijaga tetap sama yaitu mempererat silaturahmi, menghapus kesalahan, dan kembali kepada hati yang bersih.
Pada akhirnya, bukan soal siapa yang lebih dulu, melainkan siapa yang lebih tulus.

 

***