Queensha.id – Edukasi Sosial,
Fenomena seseorang yang mengaku memiliki “indra keenam” atau kemampuan melihat makhluk gaib kembali menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Di satu sisi dianggap kelebihan, namun di sisi lain justru menimbulkan ketakutan, gangguan psikis, hingga keinginan kuat untuk “sembuh” dari kondisi tersebut.
Lalu, benarkah kemampuan semacam itu harus diterima? Atau justru bisa dihilangkan?
Antara Keyakinan dan Kondisi Psikologis
Dalam pandangan Islam, hal-hal gaib memang diakui keberadaannya. Namun, kemampuan melihat makhluk gaib bukanlah sesuatu yang dianjurkan untuk dicari, apalagi dipelihara.
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, KH Miftachul Akhyar, pernah menegaskan bahwa manusia tidak dianjurkan membuka diri terhadap hal-hal gaib tanpa dasar syariat yang jelas.
“Jika hal itu justru membuat takut, gelisah, dan mengganggu kehidupan, maka yang harus dilakukan adalah mendekatkan diri kepada Allah, bukan malah mengembangkan kemampuan tersebut,” tegasnya dalam berbagai kesempatan dakwah.
Bisa Disembuhkan?
Ulama kharismatik asal Rembang, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha, menyampaikan bahwa ketakutan berlebihan terhadap hal gaib seringkali bukan karena “kemampuan khusus”, melainkan sugesti dan kondisi batin yang lemah.
Menurutnya, Islam justru mengajarkan ketenangan, bukan ketakutan terhadap makhluk selain Allah.
“Kalau sampai ketakutan, itu berarti ada yang salah dalam cara memahami. Yang perlu diperbaiki adalah hati dan pikirannya,” ujarnya dalam salah satu pengajian.
Langkah yang Dianjurkan
Para ulama sepakat, jika seseorang merasa terganggu dengan hal semacam ini, maka yang perlu dilakukan bukan mencari pembenaran, melainkan mencari ketenangan.
Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain:
– Memperkuat ibadah, seperti salat dan dzikir.
– Membaca ayat-ayat perlindungan seperti Ayat Kursi dan Al-Mu’awwidzat.
– Menghindari praktik-praktik yang membuka pintu pada hal gaib.
Berkonsultasi dengan ahli, baik ulama maupun tenaga profesional di bidang psikologi.
Jangan Terjebak Stigma “Kelebihan”
Fenomena “indra keenam” kerap disalahartikan sebagai kelebihan spiritual. Padahal, jika justru menimbulkan ketakutan dan mengganggu kehidupan sehari-hari, kondisi itu lebih tepat dipahami sebagai gangguan yang perlu ditangani.
Pendekatan agama dan psikologis dinilai harus berjalan beriringan agar seseorang bisa kembali hidup normal tanpa bayang-bayang ketakutan.
Pesan untuk Masyarakat
Kasus ini menjadi pengingat bahwa tidak semua hal yang dianggap “istimewa” membawa kebaikan.
Ulama menekankan, ketenangan jiwa dan kedekatan kepada Tuhan jauh lebih utama dibanding kemampuan melihat sesuatu yang seharusnya tidak menjadi urusan manusia.
Pada akhirnya, yang paling penting bukanlah apakah seseorang bisa melihat yang gaib, tetapi apakah ia bisa hidup dengan tenang, aman, dan tidak diliputi rasa takut.
***
(30 April 2026)

Tinggalkan Balasan