Queensha.id – Jepara,
Industri manufaktur kayu dan furnitur di Kabupaten Jepara menunjukkan sinyal pertumbuhan yang semakin kuat. Didukung kebijakan fiskal pemerintah melalui fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE), sektor yang menjadi tulang punggung ekonomi Bumi Kartini ini diproyeksikan mampu mencatat total investasi hingga Rp8,6 miliar pada tahun 2030 serta membuka lapangan pekerjaan bagi 520 tenaga kerja.
Optimisme tersebut muncul setelah PT Furnindo International, perusahaan furnitur berorientasi ekspor yang berlokasi di Desa Pekalongan, Kecamatan Batealit, resmi menerima fasilitas KITE dari Kantor Wilayah Bea Cukai Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta pada Senin (15/6/2026).
Fasilitas tersebut dinilai menjadi katalis penting bagi perusahaan untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas penetrasi pasar internasional yang terus menunjukkan tren positif.
Investasi Bertambah Rp4 Miliar Hingga Tahun 2030
Saat ini, PT Furnindo International telah merealisasikan investasi sebesar Rp4,6 miliar dengan jumlah tenaga kerja mencapai 379 orang, terdiri atas 377 pekerja lokal dan dua tenaga kerja asing.
Melalui dukungan fasilitas KITE, perusahaan berencana menambah investasi sebesar Rp4 miliar secara bertahap hingga tahun 2030. Dana tersebut akan difokuskan pada perluasan area produksi, modernisasi peralatan, serta peningkatan teknologi perakitan furnitur.
Dengan demikian, total investasi yang tertanam diperkirakan mencapai Rp8,6 miliar, menjadikan perusahaan tersebut sebagai salah satu motor penggerak pertumbuhan industri furnitur ekspor di Jepara.
Serap 520 Tenaga Kerja, Jadi Angin Segar bagi Warga Jepara
Selain meningkatkan investasi, ekspansi perusahaan juga diproyeksikan memberikan dampak signifikan terhadap sektor ketenagakerjaan.
Jumlah tenaga kerja yang saat ini mencapai 379 orang ditargetkan meningkat menjadi sekitar 520 pekerja pada tahun 2030.
Penambahan tenaga kerja tersebut diprioritaskan untuk masyarakat lokal, khususnya para pengrajin kayu, tenaga produksi, hingga generasi muda yang memiliki keterampilan di bidang industri kreatif dan manufaktur.
Langkah ini menjadi kabar baik bagi perekonomian Jepara yang selama puluhan tahun menggantungkan sebagian besar aktivitas ekonominya pada sektor furnitur dan kerajinan kayu.
KITE Dorong Daya Saing Furnitur Jepara di Pasar Dunia
Fasilitas KITE memungkinkan perusahaan memperoleh pembebasan atau keringanan bea masuk serta pajak impor terhadap bahan baku yang digunakan untuk menghasilkan produk ekspor.
Kebijakan tersebut memberikan efisiensi biaya produksi yang cukup besar sehingga perusahaan dapat meningkatkan daya saing produknya di pasar global.
Dengan biaya produksi yang lebih efisien, furnitur khas Jepara yang dikenal memiliki nilai seni tinggi dan kualitas ukiran terbaik dapat bersaing lebih kompetitif di pasar internasional, terutama di kawasan Eropa, Amerika Serikat, Timur Tengah, hingga Asia.
Bea Cukai Tegaskan Komitmen Dukung Industri Ekspor Nasional
Kepala Kanwil Bea Cukai Jawa Tengah dan DIY, Agus Yulianto, menegaskan bahwa pemberian fasilitas KITE merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam memperkuat sektor industri berorientasi ekspor.
“Pemberian fasilitas KITE merupakan wujud komitmen Bea Cukai dalam mendukung pertumbuhan industri nasional yang berorientasi ekspor. Melalui berbagai fasilitas kepabeanan, pemerintah berupaya menciptakan iklim usaha yang kondusif sehingga pelaku usaha dapat berkembang, meningkatkan produktivitas, serta memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian nasional,” ujarnya.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha menjadi kunci penting dalam meningkatkan daya saing industri nasional di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Jepara Berpeluang Menjadi Pusat Furnitur Ekspor Modern
Pengamat sosial dan ekonomi asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai ekspansi investasi yang dilakukan PT Furnindo International menunjukkan bahwa industri furnitur Jepara masih memiliki prospek cerah di masa depan.
“Jepara memiliki modal besar berupa keterampilan pengrajin yang sudah diakui dunia. Ketika kemampuan tersebut dipadukan dengan investasi, teknologi modern, dan dukungan kebijakan pemerintah, maka Jepara berpotensi menjadi pusat industri furnitur ekspor yang semakin kuat dan berdaya saing global,” katanya.
Menurutnya, peningkatan investasi juga akan menciptakan efek berantai bagi sektor lain seperti transportasi, perdagangan, jasa logistik, perhotelan, hingga pelaku UMKM yang menjadi bagian dari rantai pasok industri furnitur.
Momentum Kebangkitan Industri Kayu Jepara
Masuknya investasi baru dan dukungan kebijakan fiskal pemerintah menjadi momentum penting bagi kebangkitan industri kayu Jepara pasca berbagai tantangan global yang sempat memengaruhi sektor ekspor.
Dengan target investasi mencapai Rp8,6 miliar dan penyerapan tenaga kerja hingga 520 orang pada tahun 2030, PT Furnindo International diharapkan menjadi contoh sukses transformasi industri furnitur lokal menuju tata kelola modern yang lebih efisien, berkelanjutan, dan mampu bersaing di pasar internasional.
***
SJ.

Tinggalkan Balasan