Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Fenomena istri menjadi tulang punggung keluarga semakin banyak terjadi di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu. Salah satu kisah yang mencuat adalah seorang istri yang harus bekerja sebagai guru SMP sekaligus berjualan makanan ringan demi mencukupi kebutuhan rumah tangga, karena suaminya tidak bekerja selama hampir satu tahun.

Di sisi lain, kondisi semakin rumit ketika orang tua sang suami justru membela anaknya dan meminta sang istri untuk “memaklumi keadaan”, tanpa benar-benar memahami beban psikologis dan ekonomi yang ditanggung menantunya.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar: sampai kapan seorang istri harus memikul beban sebagai tulang punggung keluarga seorang diri?

 

Beban Ganda yang Tak Terlihat

Dalam banyak kasus, perempuan yang berada di posisi ini tidak hanya menanggung beban finansial, tetapi juga tekanan mental. Ia harus tetap menjadi ibu bagi anak-anaknya, menjalankan pekerjaan utama, bahkan mencari penghasilan tambahan.

Ketakutan untuk menegur suami pun menjadi dilema tersendiri. Banyak istri memilih diam karena khawatir memicu konflik rumah tangga yang lebih besar.
Padahal, komunikasi adalah kunci utama dalam hubungan suami istri.

 

Pandangan Ulama: Kewajiban Nafkah Ada pada Suami

Menurut ulama terkemuka Indonesia, M. Quraish Shihab, dalam ajaran Islam, tanggung jawab utama mencari nafkah berada di pundak suami.

Beliau menjelaskan bahwa, “Suami memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sementara istri yang bekerja adalah bentuk kebaikan dan kontribusi tambahan, bukan kewajiban utama, ” ungkapan yang dikutip dari berbagai sumber.

Artinya, ketika istri bekerja dan bahkan menjadi penopang utama ekonomi, itu adalah bentuk pengorbanan, bukan sesuatu yang seharusnya dianggap normal dalam jangka panjang tanpa usaha dari suami.

 

Bolehkah Istri Menegur Suami?

Dalam perspektif Islam, istri diperbolehkan mengingatkan suami dengan cara yang baik dan penuh hikmah.

Ulama menyarankan beberapa pendekatan:

– Menyampaikan keluhan dengan bahasa lembut, bukan menyalahkan.

– Memilih waktu yang tepat untuk berbicara.

Fokus pada solusi, bukan emosi.

– Mengajak suami mencari pekerjaan atau peluang usaha bersama.

 

Menegur bukan berarti melawan, tetapi bagian dari upaya menjaga keutuhan rumah tangga.

 

Peran Orang Tua: Jangan Memperkeruh Keadaan

Sikap orang tua yang selalu membela anak tanpa objektivitas justru dapat memperparah konflik. Dalam Islam, orang tua dianjurkan untuk bersikap adil dan menjadi penengah, bukan memperkuat ego salah satu pihak.

Membela tanpa melihat fakta hanya akan memperpanjang masalah dan menyakiti pihak lain.

 

Sampai Kapan Istri Harus Bertahan?

Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban pasti, tetapi ulama memberikan garis besar yaitu,

– Jika suami masih berusaha dan memiliki itikad baik, maka istri dianjurkan bersabar.

– Namun jika suami tidak menunjukkan usaha sama sekali, maka perlu ada evaluasi serius dalam rumah tangga.

– Dalam kondisi tertentu, istri berhak mencari jalan keluar terbaik demi masa depan dirinya dan anak-anak.

– Kesabaran dalam Islam bukan berarti membiarkan ketidakadilan terus terjadi tanpa batas.

Solusi Realistis yang Bisa Ditempuh
Beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam kondisi seperti ini:

– Bangun komunikasi terbuka antara suami dan istri.

– Libatkan pihak ketiga yang bijak, seperti tokoh agama atau keluarga yang netral.

– Dorong suami untuk bangkit, bukan dengan tekanan, tetapi motivasi.

– Perkuat kemandirian ekonomi istri, tanpa mengabaikan haknya untuk dihargai.

– Jaga kesehatan mental, karena beban berlebih bisa berdampak jangka panjang.

Kisah ini menjadi cerminan realitas yang terjadi di banyak rumah tangga. Seorang istri yang berjuang sendiri bukanlah tanda kekuatan semata, tetapi juga sinyal bahwa ada peran yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Rumah tangga yang sehat adalah yang dibangun atas kerja sama, bukan pengorbanan sepihak.

Dan yang terpenting, dalam setiap masalah, selalu ada jalan keluar dan selama masih ada komunikasi, kesadaran, dan niat untuk berubah.

 

***
Queensha Jepara | 5 Mei 2026.