Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Perubahan zaman membuat semakin banyak keluarga yang memilih suami dan istri sama-sama bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Namun, di balik meningkatnya peran perempuan di dunia kerja, masih banyak istri yang harus memikul beban ganda (double burden).

Mereka bekerja penuh waktu di kantor, tetapi setibanya di rumah tetap menjadi pihak yang mengurus seluruh pekerjaan domestik, mulai dari memasak, mencuci pakaian, membersihkan rumah, hingga mengurus anak.

Sementara itu, tidak sedikit suami atau anggota keluarga lain yang memilih beristirahat tanpa turut membantu pekerjaan rumah.

Fenomena inilah yang banyak disoroti masyarakat melalui berbagai unggahan di media sosial. Pesannya sederhana, namun menyentuh: istri bukan robot. Ia juga manusia yang memiliki batas kemampuan, bisa lelah, bahkan bisa jatuh sakit.

Kelelahan Seorang Ibu Sering Tidak Terlihat

Pekerjaan rumah tangga sering dianggap ringan karena dilakukan setiap hari. Padahal, pekerjaan tersebut membutuhkan tenaga, waktu, dan konsentrasi yang besar.

Seorang ibu yang pulang bekerja masih harus:

  • Memasak makanan untuk keluarga.
  • Mencuci pakaian.
  • Membersihkan rumah.
  • Menemani anak belajar.
  • Menyiapkan kebutuhan sekolah anak.
  • Mengatur keuangan keluarga.
  • Menjadi tempat curhat seluruh anggota keluarga.

Sering kali semua pekerjaan itu dilakukan tanpa mengeluh, meskipun tubuhnya sudah sangat lelah.

Islam Mengajarkan Suami Bersikap Baik kepada Istri

Dalam Islam, kehidupan rumah tangga dibangun atas dasar kasih sayang, saling menghormati, dan tolong-menolong.

Allah SWT berfirman:

“Dan bergaullah dengan mereka (istri-istrimu) secara patut.”
(QS. An-Nisa: 19)

Ayat tersebut mengajarkan bahwa suami wajib memperlakukan istrinya dengan baik, penuh kelembutan, dan tidak membebaninya secara berlebihan.

Rasulullah SAW Memberi Teladan Membantu Pekerjaan Rumah

Aisyah RA pernah menceritakan bahwa Rasulullah SAW turut membantu pekerjaan rumah tangga.

Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dijelaskan bahwa Rasulullah membantu keluarganya di rumah, dan ketika waktu salat tiba, beliau berangkat menunaikan salat.

Teladan ini menunjukkan bahwa membantu pekerjaan rumah bukanlah hal yang merendahkan martabat seorang laki-laki. Justru itulah akhlak mulia yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

Rumah Tangga Adalah Kerja Sama

Islam tidak memandang rumah tangga sebagai tempat saling menuntut, melainkan tempat saling melengkapi.

Ketika istri ikut bekerja mencari nafkah, maka suami sebaiknya juga memiliki kepedulian untuk membantu pekerjaan rumah sesuai kemampuan.

Begitu pula anak-anak perlu diajarkan sejak dini untuk merapikan tempat tidur, mencuci piring, membuang sampah, atau membantu pekerjaan ringan lainnya. Selain meringankan beban ibu, hal itu juga membentuk rasa tanggung jawab.

Jangan Menunggu Ibu Jatuh Sakit

Banyak orang baru menyadari besarnya pengorbanan seorang ibu ketika ia jatuh sakit dan tidak lagi mampu melakukan aktivitas seperti biasa.

Padahal, bentuk perhatian tidak selalu harus besar. Membantu mencuci piring, menyapu rumah, memasak sesekali, menjaga anak agar istri bisa beristirahat, atau sekadar mengucapkan terima kasih merupakan bentuk penghargaan yang sangat berarti.

Penutup

Rumah tangga yang harmonis tidak dibangun hanya dengan nafkah materi, tetapi juga dengan rasa saling menghargai, kerja sama, dan kasih sayang.

Islam mengajarkan bahwa suami adalah pemimpin keluarga, namun kepemimpinan bukan berarti membiarkan istri memikul seluruh beban sendirian. Rasulullah SAW telah memberikan teladan dengan membantu pekerjaan rumah dan memperlakukan keluarganya dengan penuh kasih sayang.

Karena itu, ketika suami dan istri sama-sama bekerja, sudah selayaknya tugas rumah tangga menjadi tanggung jawab bersama sesuai kesepakatan dan kemampuan masing-masing. Dengan saling membantu, keluarga akan lebih harmonis, istri merasa dihargai, anak-anak memperoleh teladan yang baik, dan rumah tangga lebih dekat kepada cita-cita sakinah, mawaddah, wa rahmah.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.