Queensha.id – Edukasi Islam,
Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga kehormatan diri dan menjauhi segala bentuk perbuatan yang mendekati zina. Larangan ini bukan tanpa alasan, sebab zina termasuk dosa besar yang dapat merusak kehidupan pribadi, keluarga, hingga tatanan masyarakat.
Allah SWT tidak hanya melarang perbuatan zina, tetapi juga melarang segala sesuatu yang dapat mengantarkan seseorang kepada perzinaan.
Sebagaimana firman Allah SWT:
“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.”
(QS. Al-Isra: 32)
Ayat tersebut menegaskan bahwa seorang Muslim diperintahkan menjauhi sebab-sebab yang dapat mengarah kepada perzinaan, seperti pergaulan bebas, khalwat (berduaan dengan yang bukan mahram), hingga menjaga pandangan.
Dampak Zina Sangat Besar
Perbuatan zina tidak hanya berdampak pada kehidupan akhirat, tetapi juga menimbulkan berbagai persoalan di dunia, antara lain:
- Merusak keharmonisan rumah tangga.
- Menghancurkan kepercayaan dalam keluarga.
- Menimbulkan penyesalan dan beban psikologis.
- Berisiko menyebabkan penyakit menular seksual.
- Memicu konflik sosial hingga persoalan hukum dalam kondisi tertentu.
- Menghilangkan keberkahan hidup karena bermaksiat kepada Allah SWT.
Karena itu, Islam mendorong umatnya untuk menjaga kesucian diri melalui pernikahan yang sah dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan.
Taat kepada Allah SWT Adalah Jalan Menuju Surga
Sebaliknya, orang-orang yang beriman dan istiqamah menjalankan perintah Allah SWT dijanjikan berbagai kenikmatan di Surga yang tidak dapat dibandingkan dengan kenikmatan dunia.
Allah SWT berfirman:
“Masuklah kamu ke dalam Surga, kamu dan istri-istrimu dalam keadaan bergembira.”
(QS. Az-Zukhruf: 70)
Dalam ayat lain Allah berfirman:
“Di dalamnya mereka memperoleh pasangan-pasangan yang suci.”
(QS. Al-Baqarah: 25)
Selain itu Allah SWT juga berfirman:
“Dan Kami pasangkan mereka dengan bidadari-bidadari yang bermata indah.”
(QS. At-Tur: 20)
Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa penghuni Surga akan memperoleh kebahagiaan bersama pasangan yang suci sebagai bagian dari balasan atas keimanan dan amal saleh mereka.
Hubungan Suami Istri di Surga
Al-Qur’an dan hadits menjelaskan bahwa penghuni Surga akan menikmati berbagai kenikmatan bersama pasangan mereka. Namun, kehidupan di Surga sangat berbeda dengan kehidupan di dunia.
Rasulullah Saw bersabda:
“Mereka tidak buang air kecil, tidak buang air besar, tidak meludah dan tidak mengeluarkan ingus.”
(HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa tubuh penghuni Surga berada dalam kondisi sempurna tanpa penyakit, kotoran, maupun penderitaan.
Sebagian riwayat juga menyebutkan bahwa penghuni Surga diberi kekuatan luar biasa untuk menikmati kenikmatan bersama pasangan. Namun, para ulama mengingatkan bahwa sebagian riwayat yang menyebutkan angka-angka tertentu memiliki perbedaan penilaian mengenai tingkat kesahihannya. Karena itu, umat Islam dianjurkan berpegang pada dalil-dalil yang sahih dan tidak berspekulasi mengenai perkara gaib yang tidak dijelaskan secara rinci.
Kenikmatan Surga Tidak Dapat Dibayangkan
Allah SWT menegaskan bahwa kenikmatan Surga jauh melampaui apa yang dapat dibayangkan manusia.
“Tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu berbagai nikmat yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. As-Sajdah: 17)
Karena itu, tujuan utama seorang Muslim bukan sekadar menghindari dosa, tetapi juga mengharap ridha Allah SWT dan balasan Surga yang penuh kenikmatan tanpa rasa sakit, kesedihan, ataupun penderitaan.
Jadi, Zina merupakan dosa besar yang membawa dampak buruk bagi kehidupan dunia maupun akhirat. Islam mengajarkan agar setiap Muslim menjaga kehormatan diri, memperbanyak ibadah, serta menaati seluruh perintah Allah SWT.
Bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa, Allah SWT menjanjikan Surga dengan berbagai kenikmatan, termasuk kebahagiaan bersama pasangan yang suci. Namun, hakikat kehidupan di Surga adalah perkara gaib. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya meyakini apa yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadits shahih tanpa menambah atau mengurangi keterangan yang telah ditetapkan oleh wahyu.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan