Queensha.id – Edukasi Sosial,
Jatuh cinta merupakan bagian alami dari kehidupan manusia. Perasaan itu mampu menghadirkan kebahagiaan, semangat, dan harapan. Namun, para psikolog mengingatkan bahwa cinta yang sehat tidak boleh membuat seseorang kehilangan harga diri, terus-menerus terluka, atau bertahan dalam hubungan yang dipenuhi pengabaian dan pengkhianatan.
Guru Besar Psikologi dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., serta psikolog keluarga Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si. (Nina), dalam berbagai kesempatan menekankan bahwa hubungan yang sehat dibangun atas dasar saling menghargai, komunikasi yang baik, kepercayaan, dan tanggung jawab. Cinta tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus dibuktikan melalui sikap dan perilaku yang konsisten.
Berikut penjelasan mengenai beberapa pesan yang sering beredar di media sosial tentang cinta dan hubungan, ditinjau dari sudut pandang psikologi.
1. Terlalu Sering Memaafkan Kesalahan yang Terus Diulang
Memaafkan merupakan tindakan yang baik. Namun, psikologi menjelaskan bahwa memaafkan tidak berarti membiarkan perilaku yang sama terus terjadi.
Jika pasangan berkali-kali mengulangi kebohongan, perselingkuhan, kekerasan verbal, atau sikap yang menyakiti tanpa ada perubahan nyata, maka hubungan tersebut menjadi tidak sehat.
Dalam kondisi seperti ini, seseorang perlu mengevaluasi apakah permintaan maaf benar-benar disertai tanggung jawab atau hanya menjadi cara untuk mengulangi kesalahan.
2. Menangis Terus karena Hubungan
Setiap hubungan pasti memiliki konflik. Namun apabila hampir setiap hari dipenuhi tangisan, kecemasan, dan tekanan batin, kondisi tersebut dapat memengaruhi kesehatan mental.
Psikolog menjelaskan bahwa hubungan yang sehat memang tidak selalu mudah, tetapi seharusnya lebih banyak menghadirkan rasa aman dibanding rasa takut.
3. Kesabaran yang Dianggap Kelemahan
Bersabar adalah sifat yang mulia. Namun kesabaran bukan berarti membiarkan diri terus disakiti.
Ketika pasangan menganggap kesabaran sebagai kesempatan untuk terus berbuat semaunya, hubungan berubah menjadi tidak seimbang karena hanya satu pihak yang terus berkorban.
4. Pasangan Datang Hanya Saat Membutuhkan
Hubungan yang sehat dibangun atas perhatian dua arah.
Jika seseorang hanya menghubungi pasangan ketika membutuhkan bantuan, sedang kesepian, atau memiliki kepentingan tertentu, hal itu menunjukkan kurangnya komitmen emosional.
Psikologi menyebut hubungan semacam ini cenderung bersifat transaksional, bukan hubungan yang saling mendukung.
5. Mengabaikan Pasangan
Setiap orang memang membutuhkan ruang pribadi.
Namun jika pasangan terus-menerus mengabaikan komunikasi, tidak peduli terhadap perasaan pasangannya, atau menghilang tanpa penjelasan, kondisi tersebut dapat menimbulkan luka emosional.
Perhatian sederhana sering kali jauh lebih berarti dibanding hadiah yang mahal.
6. Dikhianati Berulang Kali
Kepercayaan merupakan fondasi utama hubungan.
Saat pengkhianatan terus terjadi tanpa adanya penyesalan maupun perubahan perilaku, kepercayaan akan semakin sulit dipulihkan.
Dalam situasi seperti ini, keputusan untuk mempertahankan atau mengakhiri hubungan perlu dipertimbangkan secara matang dengan melihat keselamatan, kesehatan mental, dan masa depan kedua belah pihak.
7. Bertahan Karena Berharap Pasangan Berubah
Harapan adalah hal yang baik.
Namun psikolog mengingatkan bahwa perubahan sejati hanya terjadi jika seseorang memang memiliki kemauan dari dalam dirinya sendiri.
Tidak ada jaminan seseorang akan berubah hanya karena pasangannya terus bertahan dan berkorban.
8. Jangan Kehilangan Harga Diri
Mencintai orang lain tidak berarti berhenti mencintai diri sendiri.
Harga diri yang sehat membuat seseorang mampu menetapkan batasan (boundaries), mengatakan “tidak” terhadap perlakuan yang menyakitkan, dan berani mengambil keputusan demi kesehatan mentalnya.
9. Cinta Sehat Dibangun dengan Tindakan
Psikologi menyebut bahwa cinta bukan hanya soal kata-kata romantis.
Pasangan yang benar-benar mencintai biasanya akan menunjukkan sikap seperti:
- Menghormati pasangan.
- Menjaga kepercayaan.
- Mau meminta maaf dan memperbaiki kesalahan.
- Mendengarkan ketika pasangan berbicara.
- Mendukung perkembangan pasangannya.
- Menyelesaikan konflik tanpa merendahkan atau melakukan kekerasan.
10. Jangan Memeluk Penderitaan Terlalu Lama
Setiap orang berhak memperoleh hubungan yang memberikan rasa aman, dihargai, dan dicintai.
Jika hubungan justru terus menghadirkan penderitaan tanpa perubahan, tidak ada salahnya melakukan evaluasi, berdiskusi secara terbuka, mencari bantuan konselor atau psikolog, dan mengambil keputusan yang terbaik.
Perlu dipahami bahwa setiap hubungan memiliki kondisi yang berbeda. Karena itu, keputusan untuk bertahan atau berpisah tidak dapat disamaratakan. Yang terpenting adalah mengutamakan keselamatan, kesehatan mental, saling menghormati, serta komunikasi yang jujur.
Pada akhirnya, cinta yang sehat bukan membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri, melainkan membantu kedua pasangan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, saling menghargai, dan saling menjaga sepanjang perjalanan kehidupan bersama.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan