Queensha.id – Edukasi Sosial,
Di tengah kehidupan modern dan derasnya perdebatan di media sosial, masyarakat semakin sering menjumpai perilaku saling menyalahkan, merendahkan pendapat orang lain, hingga merasa diri paling benar.
Padahal, sikap seperti itu justru menjadi salah satu penyakit hati yang sejak lama diingatkan para ulama untuk dijauhi.
Dalam pandangan banyak tokoh agama di Indonesia, perilaku merasa paling benar dapat merusak hubungan sosial, memecah persaudaraan, bahkan menutup hati seseorang dari kebenaran itu sendiri.
Merasa Paling Benar Dinilai Dekat dengan Sifat Takabur
Dalam ajaran Islam, sikap merasa paling benar sering dikaitkan dengan sifat takabur atau sombong.
Sejumlah ulama menjelaskan bahwa kesombongan bukan hanya soal harta atau jabatan, tetapi juga ketika seseorang menganggap dirinya paling suci, paling pintar, dan paling benar dibanding orang lain.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam salah satu kajiannya mengingatkan bahwa kesombongan bisa muncul melalui ucapan, cara berbicara, hingga kebiasaan merendahkan pendapat orang lain.
Sementara itu, Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Agus Salim HS pernah menegaskan bahwa pendakwah maupun masyarakat umum harus melepaskan sifat sombong dan merasa paling benar karena hal tersebut mencerminkan kotornya hati.
Gus Baha: Kesombongan Bisa Menutup Hidayah
Ulama kharismatik Indonesia, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha, juga beberapa kali mengingatkan pentingnya rendah hati dalam kehidupan.
Dalam salah satu ceramahnya, Gus Baha menjelaskan bahwa Allah memiliki cara tersendiri agar manusia tidak menjadi sombong. Menurutnya, sehebat apa pun manusia, tetap memiliki kekurangan di hadapan Tuhan.
Pandangan itu mengajarkan bahwa manusia tidak layak membanggakan diri secara berlebihan, apalagi sampai meremehkan orang lain.
Fenomena Merasa Paling Benar Semakin Marak
Perilaku merasa paling benar kini banyak terlihat dalam kehidupan sehari-hari, terutama di media sosial.
Perbedaan pendapat yang seharusnya menjadi ruang diskusi sehat justru berubah menjadi ajang saling menghina dan menghakimi.
Tidak sedikit orang mudah menuduh pihak lain salah hanya karena berbeda pandangan, baik dalam urusan agama, sosial, maupun kehidupan pribadi.
Padahal dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, sikap saling menghormati dan terbuka terhadap perbedaan menjadi bagian penting dalam menjaga persatuan.
Dampak Buruk Sikap Merasa Paling Benar
Para ulama menilai perilaku merasa paling benar dapat memunculkan berbagai dampak negatif, di antaranya:
– Sulit menerima nasihat.
– Mudah merendahkan orang lain.
– Menimbulkan konflik sosial.
– Memicu permusuhan.
– Menutup ruang dialog.
– Membuat seseorang enggan introspeksi diri.
Dalam banyak kasus, konflik berkepanjangan justru bermula dari ego dan keengganan seseorang mengakui bahwa dirinya juga bisa salah.
Cara Menghindari Sikap Merasa Paling Benar
Ulama Indonesia mengajarkan beberapa cara untuk menghindari sifat tersebut, antara lain:
– Membiasakan introspeksi diri.
– Mau mendengarkan pendapat orang lain.
– Tidak mudah menghakimi.
– Menjaga adab dalam berbicara.
– Menanamkan rasa rendah hati.
– Menyadari bahwa manusia tidak luput dari kesalahan.
Selain itu, masyarakat juga diingatkan agar tidak mudah terpancing emosi ketika menghadapi perbedaan pendapat.
Rendah Hati Jadi Kunci Kehidupan Harmonis
Dalam kehidupan sosial, rendah hati bukan berarti lemah. Justru sikap tersebut menunjukkan kedewasaan seseorang dalam menyikapi perbedaan.
Ulama mengingatkan bahwa kebenaran sejati tidak selalu harus disampaikan dengan kemarahan atau kesombongan. Sikap bijak, santun, dan menghargai orang lain jauh lebih mencerminkan akhlak mulia.
Karena itu, masyarakat diajak menjauhi perilaku merasa paling benar agar kehidupan sosial tetap harmonis dan penuh rasa saling menghormati.
***
Queensha Jepara, 18 Mei 2026.

Tinggalkan Balasan