Queensha.id – Jepara,

 

Tidak banyak masyarakat yang menyadari bahwa Kabupaten Jepara memiliki usia yang jauh lebih tua dibandingkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jika Indonesia diproklamasikan sebagai negara merdeka pada 17 Agustus 1945, maka Jepara telah memiliki tonggak sejarah pemerintahan sejak 10 April 1549, atau hampir empat abad lebih dahulu.

Hari Jadi Jepara ditetapkan berdasarkan penobatan Putri Retna Kencana sebagai Ratu Kalinyamat, yang kemudian memimpin Jepara menjadi salah satu kerajaan maritim terkuat di Nusantara. Penetapan tanggal tersebut juga diabadikan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Jepara Nomor 9 Tahun 1988 dengan candra sengkala “Trus Karya Tataning Bumi”, yang bermakna terus bekerja keras membangun negeri.

Artinya, ketika Indonesia baru berusia sekitar 81 tahun pada 2026, Jepara telah memasuki usia 477 tahun. Fakta ini menunjukkan bahwa Jepara memiliki perjalanan sejarah, pemerintahan, budaya, dan perdagangan yang sangat panjang sebelum lahirnya Republik Indonesia.

 

Jepara Pernah Menjadi Kekuatan Maritim Nusantara

Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, Jepara berkembang sebagai pelabuhan internasional yang ramai dikunjungi pedagang dari berbagai negara. Selain menjadi pusat perdagangan, Jepara juga dikenal memiliki armada laut yang kuat.

Sejarah mencatat Ratu Kalinyamat dua kali mengirim ekspedisi besar ke Malaka untuk melawan Portugis, yakni pada tahun 1551 dan 1574. Meski belum berhasil merebut Malaka, keberanian armada Jepara membuat kekuatan Portugis sangat mewaspadai kerajaan maritim tersebut.

Di samping itu, Jepara juga menjadi daerah yang melahirkan warisan budaya bernilai tinggi, seperti seni ukir yang hingga kini dikenal di berbagai belahan dunia sebagai identitas khas Bumi Kartini.

 

Sejarah Bukan Sekadar Angka

Usia Jepara yang lebih tua dari Indonesia bukan berarti Jepara berdiri sebagai negara yang terpisah dari NKRI. Sejarah tersebut menunjukkan bahwa Jepara telah memiliki pemerintahan, wilayah kekuasaan, dan peradaban jauh sebelum Indonesia diproklamasikan sebagai negara modern pada tahun 1945.

Karena itu, Hari Jadi Jepara menjadi momentum penting untuk mengenang jasa para pemimpin terdahulu, khususnya Ratu Kalinyamat, yang berhasil membawa Jepara menjadi daerah yang makmur, disegani, dan berpengaruh di kawasan Asia Tenggara.

 

 

Pengamat Sosial: Sejarah Jepara Harus Menjadi Kebanggaan Generasi Muda

Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, mengatakan bahwa masyarakat perlu memahami sejarah daerahnya agar memiliki rasa bangga sekaligus tanggung jawab dalam menjaga warisan leluhur.

“Jepara memang lebih tua daripada Republik Indonesia jika dilihat dari sejarah berdirinya pemerintahan daerahnya. Namun, hal itu jangan dipahami sebagai pembanding dengan Indonesia, melainkan sebagai bukti bahwa Jepara memiliki peradaban yang panjang dan memberikan kontribusi besar bagi perjalanan bangsa. Generasi muda harus menjadikan sejarah ini sebagai inspirasi untuk terus berkarya, menjaga budaya, serta membangun Jepara agar semakin maju tanpa melupakan akar sejarahnya,” ujar Purnomo Wardoyo, Minggu (19/7/2026).

Menurutnya, sejarah panjang Jepara juga menjadi pengingat bahwa daerah tersebut sejak dahulu telah dikenal sebagai pusat perdagangan, pelayaran, dan kebudayaan yang mampu berinteraksi dengan dunia internasional.

“Kalau masyarakat mengenal sejarahnya dengan baik, rasa memiliki terhadap Jepara akan semakin kuat. Dari situlah semangat untuk menjaga ukiran, budaya, pariwisata, hingga nilai-nilai gotong royong akan terus tumbuh,” pungkasnya.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.