Queensha.id – Jepara,

 

Tetesan hujan sore yang membasahi tanah menjadi awal perjalanan seorang gadis muda mengenal dunia lewat lensa kamera. Di balik sosok pendiam dan sederhana itu, tersimpan mimpi besar untuk mengabadikan cerita melalui fotografi.

Dialah Meisyana Asyfa Azis (16), remaja yang mulai menekuni dunia fotografi bukan sekadar karena hobi, melainkan karena kecintaannya terhadap cerita di balik setiap gambar.

Bagi Meisya, kamera bukan hanya alat untuk memotret. Kamera adalah teman perjalanan yang membantunya memahami manusia, menangkap emosi, hingga menyimpan setiap momen agar tak hilang oleh waktu.

“Setiap gambar selalu punya cerita. Itu yang bikin aku tertarik,” ungkap Meisya.

Ketertarikannya pada dunia fotografi tumbuh sejak sering memperhatikan karya para fotografer profesional. Dari situlah ia mulai belajar memahami pencahayaan, sudut pengambilan gambar, hingga bagaimana sebuah foto mampu menyampaikan pesan yang dalam tanpa kata-kata.

Menurutnya, memotret aktivitas manusia jauh lebih menarik dibanding benda mati. Sebab, dalam setiap gerakan manusia selalu tersimpan kisah yang tidak semua orang mampu melihatnya.

“Tangan yang sibuk bekerja, langkah kaki yang terus berjalan, sampai tatapan mata seseorang itu punya makna sendiri,” ujarnya.

 

Angkat Tema Lingkungan di FLS3N

Kemampuan Meisya dalam dunia fotografi semakin terasah ketika ia mengikuti Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS3N) cabang fotografi.

Dalam kompetisi tersebut, Meisya bersama pembimbingnya, Dewi Mariatul Qibtiyah (18), memilih konsep yang berbeda dari peserta lain. Saat banyak peserta fokus memotret pengrajin tenun, Meisya justru tertarik mengangkat proses pembuatan pewarna alami dari tanaman indigofera di Omah Petrok milik Ahmad Karomi.

 

Karya itu diberi judul “Sentuhan Alam di Setiap Serat.”

Melalui foto tersebut, Meisya ingin menyampaikan pesan penting tentang kepedulian terhadap lingkungan dan penggunaan bahan alami yang lebih ramah lingkungan dibanding bahan kimia.

“Aku pengin nunjukin kalau pewarna alami bisa jadi alternatif yang lebih ramah lingkungan,” katanya.

Menurutnya, alam dan manusia memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Karena itu, ia ingin karya fotografinya mampu menyadarkan masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan hidup.

 

Perjuangan di Balik Kemenangan

Di balik hasil karya yang memukau, tersimpan perjuangan panjang yang tidak mudah. Meisya harus membagi waktu antara persiapan lomba dan aktivitas sekolah.

Kurangnya waktu istirahat membuat tubuhnya lelah. Bahkan menjelang perlombaan, ia masih sibuk memperbaiki hasil foto yang dianggap kurang maksimal dari sisi pencahayaan.

Hari perlombaan menjadi momen paling menegangkan baginya. Tangan gemetar dan rasa gugup sempat menghampiri saat harus mempresentasikan karya di depan juri.

Namun perlahan rasa takut itu hilang ketika ia mulai berbicara tentang sesuatu yang benar-benar ia cintai, yakni fotografi dan cerita di balik setiap potret.
Puncak emosinya terjadi saat pengumuman pemenang dibacakan. Meisya mengaku sempat tidak percaya ketika namanya diumumkan sebagai Juara 1 FLS3N cabang fotografi.

Baginya, kemenangan itu bukan sekadar tentang trofi atau penghargaan, melainkan bukti bahwa hal-hal sederhana pun bisa melahirkan karya besar jika dilakukan dengan hati.

“Memotret itu bukan cuma soal gambar, tapi cara menyimpan cerita agar tidak hilang oleh waktu,” tuturnya.

Kini, kamera kecil yang dulu hanya digunakan untuk menangkap momen sederhana telah membawa Meisya menuju mimpi yang lebih besar. Dan selama hidup terus berjalan, ia ingin terus mengabadikan cerita dunia lewat setiap jepretan kameranya.

 

***

Queensha Jepara, Kamis (14 Mei 2026).