Queensha.id – Jepara,
Pemikiran Raden Ajeng Kartini kembali dibaca dalam sudut pandang yang tak biasa. Di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan, gagasan emansipasi Kartini kini direkonstruksi sebagai “algoritma sosial” merupakan sebuah sistem berpikir yang mampu mentransformasi masyarakat secara bertahap dan terukur.
Gagasan tersebut disampaikan oleh H. Hisyam Zamroni dalam refleksi intelektualnya bertajuk “RA Kartini dalam Perspektif Algoritma Modern yaitu Rekonstruksi Pemikiran Emansipatif sebagai Sistem Transformasi Sosial.” Ia menilai, pemikiran Kartini bukan sekadar narasi sejarah, melainkan kerangka sistematis yang relevan dengan perkembangan zaman.
Menurut Hisyam, Kartini telah merumuskan pola perubahan sosial jauh sebelum konsep itu dikenal dalam teori modern. Melalui surat-suratnya yang kemudian dibukukan dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini mengawali perjuangan dari kesadaran atas “kegelapan” sosial yakni terutama keterbatasan perempuan dalam sistem patriarki.
“Dalam perspektif modern, itu adalah fase problem recognition. Kartini sadar ada ketimpangan, dan dari situlah proses perubahan dimulai,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Ia menjelaskan, tahap berikutnya adalah proses iteratif melalui pendidikan dan kesadaran kritis. Dalam kerangka algoritmik, proses ini menyerupai mekanisme pembelajaran berulang yang terus meningkatkan kualitas individu dan masyarakat.
Tak berhenti di situ, Kartini juga mendorong perubahan pola pikir atau reframing mindset. Ia menekankan bahwa hambatan terbesar bukan hanya struktur sosial, tetapi juga cara pandang manusia terhadap dirinya sendiri.
“Di sinilah Kartini sangat modern. Ia bicara tentang perubahan mental, yang dalam teori sekarang disebut cognitive restructuring,” jelasnya.
Hisyam juga menyoroti bagaimana Kartini memandang agama sebagai nilai universal yang mendorong kemajuan, bukan sekadar simbol formalitas. Dalam analogi algoritma, nilai-nilai kemanusiaan seperti kasih sayang menjadi parameter etika yang menentukan arah perubahan sosial.
Hasil akhir dari “algoritma” tersebut, lanjutnya, adalah terciptanya masyarakat yang emansipatif, inklusif, dan progresif. Individu tidak hanya merdeka, tetapi juga mampu membawa perubahan bagi lingkungan sekitarnya.
Dalam konteks kekinian, Hisyam mengaitkan pemikiran Kartini dengan era digital yang sarat algoritma, kecerdasan buatan, dan big data. Ia mengingatkan bahwa bias dalam teknologi sering kali mencerminkan bias sosial lama.
“Di sinilah Kartini relevan sebagai ‘debugger sosial’. Ia mengajarkan kita untuk berpikir kritis, melawan bias, dan membangun sistem yang inklusif,” tegasnya.
Ia menambahkan, pendidikan dalam era modern dapat dianalogikan sebagai “training data manusia”, sementara refleksi diri menjadi sistem umpan balik yang memastikan perubahan berjalan adaptif dan berkelanjutan.
Lebih jauh, Hisyam menegaskan bahwa transformasi yang ditawarkan Kartini bersifat menyeluruh hingga mengubah cara pandang, pola pikir, perilaku, hingga budaya masyarakat.
“Dari pasif menjadi kritis, dari tunduk menjadi mandiri, dari statis menjadi dinamis. Ini adalah revolusi cara berpikir,” katanya.
Di akhir refleksinya, Hisyam menyimpulkan bahwa Kartini bukan hanya tokoh sejarah, melainkan arsitek peradaban yang menawarkan model perubahan sistematis berbasis nilai kemanusiaan.
“Dalam bahasa modern, Kartini adalah perancang algoritma sosial. Ia tidak hanya menyalakan terang, tapi juga menunjukkan cara mencapainya,” tutur H. Hisyam Zamroni.
“Pemikiran Kartini bukan sekadar warisan sejarah, melainkan sistem transformasi yang hidup. Di era algoritma digital, kita tidak hanya butuh teknologi canggih, tetapi juga nilai kemanusiaan yang menjadi fondasinya. Kartini telah memberi kita kerangka itu yaitu untuk berpikir kritis, bertindak adil, dan membangun peradaban yang inklusif,” pungkasnya.
***
Oleh: H. Hisyam Zamroni.

Tinggalkan Balasan