Queensha.id – Jepara,

 

Misteri kematian tragis ARS (24), pemuda asal Dukuh Sekuping, Desa Tubanan, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, hingga kini masih terus menjadi perhatian masyarakat. Meski penyelidikan telah berlangsung selama beberapa bulan, polisi masih terus mendalami berbagai fakta dan alat bukti untuk mengungkap penyebab pasti kematian korban yang ditemukan bersimbah darah pada Minggu, 30 November 2025.

Perkembangan terbaru kasus tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang digelar di Mapolres Jepara, Rabu (3/6/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Wakapolres Jepara Kompol Faris Budiman mewakili Kapolres Jepara AKBP Hadi Kristanto, Kasat Reskrim Polres Jepara AKP M. Faizal Wildan Umar Rela, dokter forensik dari Bid Dokkes Polda Jawa Tengah, tim psikologi forensik, serta penyidik yang menangani perkara.

 

 

Berawal Saat Nenek Korban Hendak Salat Subuh

Berdasarkan keterangan penyidik, peristiwa itu pertama kali diketahui ketika nenek korban hendak berangkat menunaikan salat Subuh.

Saat itu keluarga mendapati ARS sudah tidak berada di rumah. Kondisi tersebut membuat keluarga khawatir karena korban pergi tanpa memberi tahu siapa pun.

Pencarian kemudian dilakukan oleh keluarga bersama warga sekitar. Tak lama kemudian ditemukan ceceran darah di belakang rumah yang mengarah ke area kebun rumput gajah.

Sekitar pukul 05.45 WIB, korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dengan sejumlah luka serius di tubuhnya. Lokasi penemuan berada sekitar 50 hingga 60 meter dari rumah korban.

Penemuan jasad korban langsung mengundang perhatian warga dan aparat kepolisian yang segera melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

 

 

Polisi Sudah Periksa 18 Saksi

Dalam konferensi pers tersebut, Wakapolres Jepara Kompol Faris Budiman mengungkapkan bahwa penyelidikan dilakukan secara bertahap dan terstruktur sejak hari pertama kasus ditemukan.

“Kami sudah melakukan proses penyelidikan secara terstruktur, termasuk di antaranya meminta keterangan 18 saksi terkait peristiwa itu,” terang Kompol Faris Budiman.

Para saksi yang dimintai keterangan berasal dari berbagai pihak yang dianggap memiliki keterkaitan dengan aktivitas korban sebelum ditemukan meninggal dunia.

Selain pemeriksaan saksi, polisi juga melakukan berbagai langkah ilmiah untuk memperkuat proses penyelidikan.

 

 

Tes DNA, Darah dan Kuku Korban Turut Diperiksa

Kasat Reskrim Polres Jepara AKP M. Faizal Wildan Umar Rela menjelaskan bahwa penyelidikan dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu.

Selain pemeriksaan barang bukti dan saksi, penyidik juga melakukan pemeriksaan DNA, sampel darah korban, hingga pemeriksaan kuku korban untuk kepentingan laboratorium forensik.

Barang bukti berupa dua bilah pisau yang ditemukan di lokasi kejadian juga telah diperiksa oleh tim INAFIS dan Laboratorium Forensik Polda Jawa Tengah.

Namun hasil awal menunjukkan tidak ditemukan sidik jari yang sempurna pada kedua pisau tersebut. Penyidik menduga sidik jari yang sebelumnya menempel telah mengalami gesekan sehingga sulit dilakukan identifikasi.

 

 

Dokter Forensik Ungkap Luka Akibat Senjata Tajam

Dokter Ahli Forensik Bid Dokkes Polda Jawa Tengah, dr. Dian Novitasari, mengungkapkan bahwa hasil autopsi menunjukkan adanya sejumlah luka akibat benda tajam pada tubuh korban.

Menurutnya, luka ditemukan pada area leher, pergelangan tangan kiri, serta bagian dada.

Luka paling fatal berada pada bagian leher yang menyebabkan kerusakan pembuluh darah besar sehingga menimbulkan pendarahan hebat yang berakibat fatal.

“Hasil autopsi menunjukkan adanya luka akibat senjata tajam pada area leher, pergelangan tangan kiri, dan dada,” jelas dr. Dian Novitasari dalam konferensi pers.

Meski demikian, pihak forensik menyerahkan seluruh kesimpulan hukum kepada penyidik yang masih melakukan pendalaman terhadap seluruh rangkaian peristiwa.

 

 

Psikologi Forensik Ungkap Karakter Korban

Dalam upaya mengungkap latar belakang korban, penyidik juga melibatkan tim psikologi forensik dari Asosiasi Psikologi Forensik (APSIFOR) Wilayah Jawa Tengah.

Perwakilan APSIFOR Jawa Tengah, Retno Ristiasih Utami, menjelaskan bahwa autopsi psikologis dilakukan melalui wawancara dengan berbagai pihak yang mengenal korban.

Proses tersebut melibatkan keluarga, orang tua, saudara, kerabat, hingga teman-teman korban guna memperoleh gambaran kondisi psikologis korban sebelum meninggal dunia.

Menurut hasil pendalaman psikologis, korban diketahui memiliki karakter yang cukup tertutup.

“Korban memiliki kepribadian yang tertutup, tidak banyak mengungkapkan persoalan atau permasalahan pribadi kepada orang lain, serta cenderung menarik diri dalam interaksi sosial,” ungkap Retno.

Selain itu, korban disebut memiliki jaringan dukungan sosial yang terbatas dan lebih sering memendam tekanan maupun stres dibandingkan mengungkapkannya kepada orang lain.

Namun demikian, hasil autopsi psikologis tersebut bukan merupakan kesimpulan penyebab kematian korban, melainkan salah satu bahan analisis yang digunakan penyidik dalam proses penyelidikan.

 

 

Polisi Minta Bantuan Masyarakat

Kasat Reskrim Polres Jepara AKP M. Faizal Wildan Umar Rela menegaskan bahwa penyelidikan masih terus berjalan dan seluruh kemungkinan masih didalami berdasarkan alat bukti serta pendekatan ilmiah.

“Penyelidikan masih terus kami lakukan. Kami mengharapkan bantuan dari masyarakat yang mengetahui informasi aktual terkait korban maupun peristiwa yang terjadi sebelum korban ditemukan meninggal dunia. Apabila ada masyarakat yang memiliki informasi yang dapat membantu pengungkapan kasus ini, silakan segera melaporkannya kepada penyidik Polres Jepara agar dapat kami dalami dan verifikasi,” ujarnya.

Menurutnya, setiap informasi yang masuk akan dianalisis dan dicocokkan dengan alat bukti serta hasil pemeriksaan yang telah dilakukan penyidik.

Polisi juga mengimbau masyarakat agar tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dan tidak membuat kesimpulan sendiri terkait penyebab kematian korban.

Hingga kini, Satreskrim Polres Jepara masih membuka ruang bagi masyarakat yang memiliki informasi relevan guna membantu mengungkap fakta sebenarnya di balik kematian ARS yang sempat menggemparkan warga Desa Tubanan dan Kabupaten Jepara.

 

***

(Queensha Jepara, 3 Juni 2026)