Queensha.id – Edukasi Kesehatan,

 

Ginjal merupakan organ vital yang berfungsi menyaring darah, membuang zat sisa melalui urine, menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit, mengontrol tekanan darah, serta membantu pembentukan sel darah merah.

Menurut Kementerian Kesehatan RI dan para pakar dari Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI), penyakit ginjal kronis sering disebut sebagai “silent disease” atau penyakit yang diam-diam berkembang tanpa gejala berarti. Banyak penderita baru mengetahui kondisi ginjalnya setelah memasuki stadium lanjut hingga membutuhkan cuci darah (hemodialisis).

1. Urine Berbusa

Salah satu tanda awal yang paling sering ditemukan adalah urine berbusa terus-menerus.

Hal ini bisa menjadi tanda adanya protein yang bocor ke dalam urine (proteinuria), yang menandakan kerusakan pada penyaring ginjal.

Apabila busa tidak hilang meski sudah beberapa kali buang air kecil, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.

2. Warna Urine Berubah

Perubahan warna urine patut diwaspadai, seperti:

  • Merah karena bercampur darah.
  • Cokelat tua.
  • Sangat keruh.
  • Terlalu pekat.

Menurut PERNEFRI, darah dalam urine merupakan salah satu tanda penting adanya gangguan ginjal yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

3. Bengkak pada Kaki, Tangan, atau Wajah

Ketika ginjal tidak mampu membuang cairan dengan baik, cairan akan menumpuk di dalam tubuh.

Gejalanya meliputi:

  • Kaki membengkak.
  • Pergelangan kaki membesar.
  • Tangan bengkak.
  • Kelopak mata sembap saat bangun pagi.

4. Sering Buang Air Kecil Terutama Malam Hari

Buang air kecil lebih sering pada malam hari (nokturia) juga bisa menjadi tanda gangguan ginjal.

Sebaliknya, produksi urine yang sangat sedikit bahkan tidak keluar sama sekali juga merupakan kondisi darurat yang membutuhkan penanganan medis.

5. Mudah Lelah

Ginjal menghasilkan hormon eritropoietin yang membantu pembentukan sel darah merah.

Jika ginjal rusak:

  • tubuh kekurangan sel darah merah,
  • terjadi anemia,
  • penderita cepat lelah,
  • tubuh terasa lemas,
  • mudah mengantuk.

6. Tekanan Darah Tinggi Sulit Dikendalikan

Hipertensi dapat menjadi penyebab sekaligus akibat penyakit ginjal.

Apabila tekanan darah tetap tinggi meski sudah mengonsumsi obat, dokter biasanya akan mengevaluasi fungsi ginjal.

7. Mual dan Muntah

Saat fungsi ginjal menurun, racun yang seharusnya dibuang akan menumpuk dalam darah.

Akibatnya muncul:

  • mual,
  • muntah,
  • nafsu makan berkurang,
  • berat badan turun.

8. Kulit Gatal

Ginjal yang rusak menyebabkan penumpukan limbah metabolisme.

Akibatnya penderita sering mengalami:

  • kulit kering,
  • gatal seluruh tubuh,
  • iritasi tanpa penyebab yang jelas.

9. Sesak Napas

Kerusakan ginjal dapat menyebabkan:

  • penumpukan cairan di paru,
  • anemia berat.

Kedua kondisi tersebut membuat penderita mudah sesak napas.

10. Sulit Berkonsentrasi

Penumpukan racun dalam darah menyebabkan suplai oksigen ke otak menurun.

Gejalanya:

  • mudah lupa,
  • sulit fokus,
  • sulit berkonsentrasi,
  • merasa linglung.

11. Kram Otot

Gangguan keseimbangan mineral seperti kalsium, natrium, dan kalium dapat menyebabkan kram otot berulang.

12. Nyeri Pinggang

Nyeri pinggang memang tidak selalu berarti penyakit ginjal.

Namun apabila disertai:

  • demam,
  • urine berdarah,
  • nyeri saat buang air kecil,

kemungkinan terdapat infeksi atau batu ginjal sehingga perlu diperiksa oleh dokter.

Faktor Risiko Penyakit Ginjal

Menurut pakar kesehatan Indonesia, risiko penyakit ginjal meningkat pada orang yang memiliki:

  • Diabetes melitus.
  • Hipertensi.
  • Obesitas.
  • Riwayat keluarga penyakit ginjal.
  • Merokok.
  • Kurang minum air putih.
  • Sering mengonsumsi makanan tinggi garam.
  • Terlalu sering mengonsumsi obat pereda nyeri tanpa pengawasan dokter.
  • Usia lanjut.

Cara Menjaga Ginjal Tetap Sehat

Pakar Kementerian Kesehatan RI dan PERNEFRI menyarankan beberapa langkah berikut:

  • Minum air putih yang cukup.
  • Kendalikan tekanan darah.
  • Kendalikan gula darah.
  • Kurangi makanan asin dan tinggi gula.
  • Berolahraga secara rutin.
  • Berhenti merokok.
  • Hindari konsumsi obat anti nyeri secara berlebihan tanpa resep dokter.
  • Jaga berat badan ideal.
  • Lakukan pemeriksaan urine dan fungsi ginjal secara berkala, terutama bagi penderita diabetes dan hipertensi.

Pentingnya Deteksi Dini

Menurut PERNEFRI, banyak pasien gagal ginjal kronis tidak merasakan keluhan pada stadium awal. Gejala biasanya baru muncul ketika fungsi ginjal sudah menurun drastis hingga stadium lanjut. Oleh karena itu, pemeriksaan urine, kreatinin darah, dan fungsi ginjal secara berkala sangat penting bagi kelompok berisiko tinggi.

Deteksi dini dapat membantu memperlambat kerusakan ginjal, mencegah komplikasi, serta mengurangi risiko pasien harus menjalani cuci darah atau transplantasi ginjal di kemudian hari.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.