Queensha.id – Edukasi Sosial,
Tidak sedikit pasangan suami istri yang mengalami hal unik setelah bertengkar hebat. Setelah saling diam, menangis, atau berdebat, justru muncul keinginan untuk kembali dekat melalui hubungan intim.
Fenomena ini bukan sesuatu yang aneh. Dalam ilmu psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai salah satu bentuk reconciliation behavior, yaitu perilaku yang membantu memulihkan kembali ikatan emosional setelah terjadi konflik.
Emosi Cinta dan Marah Berasal dari Respons Emosional yang Sama
Marah dan cinta sama-sama merupakan emosi yang kuat. Saat pertengkaran terjadi, emosi meningkat dan tubuh berada dalam kondisi siaga.
Ketika konflik mulai mereda, muncul keinginan untuk kembali merasa aman dan diterima oleh pasangan. Keinginan itulah yang pada sebagian pasangan diwujudkan melalui pelukan, sentuhan, hingga hubungan intim.
Dengan kata lain, hasrat yang muncul setelah bertengkar tidak selalu didorong oleh nafsu semata, tetapi juga oleh kebutuhan emosional untuk memperbaiki hubungan.
Tubuh Berusaha Mengurangi Stres
Saat bertengkar, tubuh meningkatkan produksi hormon stres seperti adrenalin dan kortisol.
Setelah situasi mereda, tubuh secara alami mencari cara untuk kembali rileks. Kedekatan fisik, termasuk pelukan maupun hubungan intim, dapat membantu meningkatkan hormon seperti oksitosin, yang sering dikaitkan dengan rasa percaya, kedekatan, dan kasih sayang.
Karena itu, sebagian pasangan merasa lebih tenang dan lebih dekat setelah berdamai.
Hubungan Intim Bukan Pengganti Penyelesaian Masalah
Meski dapat membantu mempererat hubungan, hubungan intim bukanlah solusi untuk menyelesaikan akar persoalan.
Jika setiap pertengkaran selalu ditutup dengan hubungan intim tanpa komunikasi yang baik, masalah yang sebenarnya belum selesai dapat terus menumpuk dan berpotensi memicu konflik yang lebih besar di kemudian hari.
Karena itu, komunikasi yang jujur dan saling memaafkan tetap menjadi fondasi utama dalam membangun rumah tangga yang sehat.
Cara Sehat Memulihkan Hubungan Setelah Bertengkar
Beberapa langkah yang dapat dilakukan pasangan setelah konflik antara lain:
- Saling meminta maaf dengan tulus, meskipun masing-masing merasa memiliki alasan.
- Mendengarkan perasaan pasangan tanpa saling menyalahkan.
- Memberikan sentuhan lembut seperti menggenggam tangan atau berpelukan untuk menenangkan suasana.
- Berdoa agar diberikan hati yang lapang dan hubungan yang kembali harmonis.
- Jika keduanya sudah tenang, saling memaafkan, dan sama-sama menghendaki, hubungan intim dapat menjadi bagian dari proses rekonsiliasi.
Pandangan Islam tentang Keintiman Suami Istri
Dalam Islam, hubungan suami istri tidak hanya dipandang sebagai pemenuhan kebutuhan biologis, tetapi juga sebagai bentuk kasih sayang (rahmah) dan ketenangan (sakinah) dalam rumah tangga.
Al-Qur’an menggambarkan suami dan istri sebagai “libās” (pakaian) bagi satu sama lain, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 187. Makna tersebut menunjukkan bahwa pasangan saling melindungi, menenangkan, dan menjaga satu sama lain.
Oleh karena itu, ketika dilakukan dalam suasana saling memaafkan, penuh kasih sayang, dan atas kerelaan kedua belah pihak, hubungan intim dapat menjadi salah satu cara mempererat kembali ikatan suami istri, bukan sekadar pelarian dari konflik.
Keinginan berhubungan intim setelah bertengkar merupakan fenomena yang cukup umum dalam kehidupan rumah tangga. Dari sisi psikologi, hal itu berkaitan dengan upaya tubuh dan emosi untuk memulihkan rasa aman serta kedekatan.
Namun, hubungan yang sehat tetap memerlukan komunikasi, penyelesaian masalah, dan saling memaafkan. Dengan demikian, keintiman menjadi simbol rekonsiliasi yang memperkuat hubungan, bukan menutupi persoalan yang belum terselesaikan.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan