Queensha.id – Jepara,
Seekor kerbau bule dikirab dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujungbatu menuju Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di Kelurahan Jobokuto, Kecamatan Jepara, Jumat (27/3) pagi. Prosesi ini menjadi penanda dimulainya rangkaian tradisi tahunan Pesta Lomban yang sarat nilai budaya dan spiritual.
Kirab yang dimulai sejak pukul 06.00 WIB tersebut bukan sekadar seremoni. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jepara, Ali Hidayat, menegaskan bahwa prosesi ini bertujuan menjawab keraguan publik terkait keaslian hewan yang digunakan dalam ritual.
“Kirab kerbau ini untuk membuktikan bahwa memang ada kerbau yang dipotong, sekaligus mematahkan narasi bahwa kepala kerbau yang dilarung dibeli dari pasar,” ujarnya, Jum’at (27/3).
Tahun ini, kerbau yang digunakan bukan kerbau biasa. Pemerintah daerah memilih kerbau bule merupakan kerbau berkulit putih kemerah-merahan yang dipercaya masyarakat memiliki nilai sakral lebih tinggi. Dalam tradisi lokal, kerbau jenis ini melambangkan keselamatan, kemakmuran, serta penolak bala.
Penyembelihan kerbau bule tersebut dimaknai sebagai ritual spiritual untuk memohon perlindungan dari bencana sekaligus menjaga harmoni antara manusia dan alam, khususnya bagi masyarakat pesisir Jepara yang bergantung pada laut.
Setelah disembelih, daging kerbau akan dibagikan kepada warga dan dimasak untuk dinikmati bersama sebagai simbol kebersamaan. Sementara itu, kepala kerbau disiapkan untuk prosesi larungan yang akan digelar pada puncak acara.
Rangkaian Pesta Lomban sendiri tidak berhenti pada kirab. Pada sore hari, masyarakat melaksanakan ziarah ke makam tokoh lokal, yakni Makam Cik Lanang di Kelurahan Bulu dan Makam Mbah Ronggo.
Malam harinya, suasana semakin semarak dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk di TPI Ujungbatu. Tahun ini menghadirkan dalang Ki Danar Yogi Iswara dengan lakon “Wahyu Sandang Pangan”, dilanjutkan oleh Ki Muntohar yang membawakan lakon “Dewa Ruci”.
Puncak tradisi akan berlangsung Sabtu (28/3) pagi, ditandai dengan prosesi larungan kepala kerbau ke tengah laut. Ribuan warga diperkirakan memadati pesisir untuk menyaksikan ritual yang telah diwariskan turun-temurun ini.
Selepas larungan, kemeriahan berlanjut dengan Festival Kupat Lepet di Pantai Kartini. Sebanyak 1.447 kupat dan lepet disiapkan untuk diperebutkan masyarakat dalam suasana penuh kebersamaan.
Ali berharap, rangkaian Pesta Lomban tahun ini tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mampu mendongkrak sektor pariwisata daerah.
“Kami berharap event ini mampu menarik wisatawan untuk datang ke Jepara,” pungkasnya.
***
(27 Maret 2026)

Tinggalkan Balasan