Queensha.id – Jepara,
Kehidupan seorang lansia bernama Sumberikah menjadi gambaran nyata kerasnya perjuangan hidup masyarakat kecil di Desa Robayan.
Perempuan berusia 70 tahun itu tinggal bersama delapan anaknya di sebuah rumah sederhana berukuran sekitar 3×5 meter di Kecamatan Kalinyamatan.
Rumah berdinding bata tanpa plester semen tersebut menjadi saksi bisu perjuangan hidup keluarga Sumberikah yang setiap hari harus bertahan di tengah keterbatasan ekonomi.
Rumah Sempit Dihuni Sembilan Orang
Kondisi rumah yang ditempati Sumberikah jauh dari kata layak. Tidak ada sekat ruangan yang memadai, sementara seluruh anggota keluarga harus tinggal dalam satu bangunan kecil yang sempit.
Meski hidup dalam kondisi serba kekurangan, Sumberikah tetap berusaha kuat demi anak-anaknya.
Di usia senja, perempuan renta itu justru menjadi tulang punggung keluarga.
Bertahan Hidup dari Upah Rp30 Ribu per Hari
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Sumberikah bekerja sebagai buruh makloon anyaman parsel milik tetangganya.
Pekerjaan tersebut sudah cukup lama ia tekuni demi menyambung hidup keluarganya.
Namun dari pekerjaannya itu, Sumberikah hanya memperoleh upah sekitar Rp30 ribu per hari.
Jumlah tersebut tentu sangat berat untuk mencukupi kebutuhan makan, kehidupan sehari-hari, hingga kebutuhan anggota keluarga yang tinggal bersamanya.
Kondisi itu semakin mengiris hati karena Sumberikah juga harus merawat anak bungsunya yang menyandang disabilitas.
Kisahnya Mengetuk Hati Kapolsek Kalinyamatan
Kisah perjuangan hidup Sumberikah akhirnya mengetuk hati Kapolsek Kalinyamatan, Iptu Hery Sutanto.
Pada Jumat (22/5/2026), Kapolsek bersama anggota mendatangi langsung rumah Sumberikah untuk memberikan bantuan sosial berupa sembako.
“Kami hadir bukan hanya sebagai penegak hukum, namun juga ingin memastikan warga yang membutuhkan uluran tangan tetap mendapat perhatian,” ujar Iptu Hery Sutanto.
Menurutnya, bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian Polri terhadap masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan hidup.
“Kami berharap bantuan ini bisa sedikit meringankan kebutuhan dan menjadi penyemangat ibu Sumberikah agar tetap kuat menjalani kehidupan,” lanjutnya.
Tangis Haru Saat Terima Bantuan
Saat menerima bantuan, tangan Sumberikah tampak gemetar. Air matanya pun jatuh saat mengucapkan rasa syukur kepada para anggota kepolisian yang datang membantunya.
Dengan suara lirih, ia mengaku tidak mampu membalas kebaikan yang diberikan.
“Terima kasih kepada bapak kapolsek dan semuanya. Kami sangat terbantu, semoga selalu diberi kesehatan,” ucap Sumberikah sambil menahan haru.
Momen tersebut juga membuat warga sekitar ikut tersentuh melihat kondisi keluarga Sumberikah.
Warga Apresiasi Kepedulian Polisi
Kehadiran anggota polisi di tengah kondisi warga yang kesulitan hidup mendapat apresiasi dari masyarakat sekitar.
Warga menilai aparat tidak hanya hadir dalam penegakan hukum, tetapi juga membawa kepedulian sosial bagi masyarakat kecil.
Salah seorang warga sekitar, Nur Khamidah (45), mengaku prihatin dengan kondisi yang dialami keluarga Sumberikah.
“Sudah lama hidupnya susah. Bu Sumberikah itu orangnya kuat dan tetap kerja meskipun usianya sudah sepuh,” ujarnya.
Sementara itu, Ahmad Rifai (39), warga Kalinyamatan, berharap ada perhatian lanjutan dari berbagai pihak untuk membantu keluarga tersebut.
“Kalau lihat kondisi rumah dan keluarganya memang sangat memprihatinkan. Mudah-mudahan ada bantuan lanjutan,” katanya.
Potret Kemiskinan yang Masih Nyata
Kisah Sumberikah menjadi potret bahwa persoalan kemiskinan masih nyata terjadi di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Jepara.
Di balik hiruk pikuk pembangunan dan kemajuan zaman, masih ada warga yang harus bertahan hidup dalam kondisi sangat terbatas.
Namun di tengah kesulitan itu, kepedulian sosial dan rasa kemanusiaan tetap menjadi harapan bagi mereka yang membutuhkan uluran tangan.
Kisah Sumberikah juga menjadi pengingat bahwa perhatian terhadap masyarakat kecil tidak selalu harus besar, tetapi bisa dimulai dari rasa empati dan kepedulian terhadap sesama.
***
Queensha Jepara, 23 Mei 2026.

Tinggalkan Balasan