Queensha.id – Jepara,

 

Fenomena konten kreator Facebook yang mengunggah foto disertai narasi tidak sesuai fakta kian marak di media sosial. Demi mengejar FB Pro, FYP, tingginya jumlah tayangan, hingga pendapatan dari program monetisasi, sebagian kreator dinilai rela mengorbankan akurasi informasi dengan membuat judul maupun keterangan yang sensasional.

Praktik tersebut memunculkan kekhawatiran karena tidak sedikit foto seseorang, sebuah lokasi, maupun suatu peristiwa yang sebenarnya tidak saling berkaitan justru dipadukan dengan narasi yang mengada-ada. Tujuannya tidak lain untuk memancing rasa penasaran pengguna media sosial agar meningkatkan interaksi dan jumlah penonton.

Akibatnya, banyak warganet mempercayai isi unggahan tanpa melakukan pengecekan terhadap sumber maupun kebenaran informasi yang disampaikan.

Fenomena ini dinilai tidak sekadar melanggar etika bermedia sosial, tetapi juga berpotensi menyesatkan masyarakat. Narasi yang tidak sesuai fakta dapat merusak nama baik seseorang, memicu keresahan publik, hingga mempercepat penyebaran hoaks di ruang digital.

Media sosial sejatinya menjadi ruang bagi setiap orang untuk berkarya dan menyampaikan informasi. Namun, kebebasan tersebut tetap harus dibarengi dengan tanggung jawab moral serta komitmen menjaga kebenaran.

Konten yang menarik tidak harus dibangun melalui cerita yang dilebih-lebihkan atau bahkan memutarbalikkan fakta. Justru, konten yang informatif, edukatif, dan dapat dipertanggungjawabkan akan memiliki nilai lebih di mata masyarakat.

Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai fenomena tersebut menunjukkan masih rendahnya kesadaran sebagian kreator terhadap pentingnya etika dalam bermedia sosial.

Menurutnya, mengejar popularitas maupun keuntungan finansial melalui monetisasi merupakan hal yang wajar. Namun, hal itu tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan kejujuran dan kredibilitas informasi.

“Jangan sampai demi mengejar FB Pro, FYP, atau monetisasi, seseorang mengabaikan fakta. Sekali masyarakat kehilangan kepercayaan, akan sangat sulit mengembalikannya. Konten yang baik adalah konten yang informatif, edukatif, dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Purnomo Wardoyo, Selasa (7/7/2026).

Ia menegaskan bahwa kepercayaan publik merupakan aset terbesar bagi seorang kreator konten. Popularitas yang diperoleh melalui informasi yang menyesatkan mungkin mampu mendatangkan keuntungan dalam waktu singkat, tetapi akan berdampak buruk terhadap reputasi dalam jangka panjang.

Selain mengingatkan para kreator, Purnomo juga mengajak masyarakat agar lebih bijak dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar di media sosial.

Menurutnya, setiap pengguna internet harus membiasakan diri membaca informasi secara utuh, memeriksa sumber pemberitaan, serta melakukan verifikasi sebelum ikut membagikan sebuah unggahan kepada orang lain.

“Jadilah pengguna media sosial yang cerdas. Jangan langsung percaya hanya karena melihat sebuah foto dengan tulisan yang meyakinkan. Periksa dulu kebenarannya agar tidak ikut menyebarkan informasi yang keliru,” tambahnya.

Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan literasi digital menjadi salah satu bekal penting bagi masyarakat. Pengguna media sosial dituntut mampu membedakan informasi faktual, opini pribadi, satire, hingga konten yang sengaja dibuat hanya untuk menarik perhatian atau mengejar keuntungan.

Fenomena penyebaran narasi yang tidak sesuai fakta juga menjadi pengingat bahwa keberhasilan di media sosial seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah tayangan, pengikut, maupun pendapatan monetisasi. Integritas, kejujuran, dan tanggung jawab terhadap informasi yang disampaikan merupakan fondasi utama dalam membangun kepercayaan publik.

Dengan meningkatnya kesadaran kreator konten maupun pengguna media sosial terhadap pentingnya etika dan literasi digital, diharapkan ruang digital Indonesia menjadi lebih sehat, edukatif, serta terbebas dari penyebaran informasi yang menyesatkan. Sebab, popularitas dapat diraih dalam waktu singkat, tetapi kepercayaan masyarakat hanya dapat dibangun melalui konsistensi menyampaikan informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.