Queensha.id – Jepara,
Maraknya penipuan online di Indonesia kembali menjadi sorotan. Meski pelaku kerap menyertakan identitas seperti KTP, alamat lengkap, hingga akun media sosial yang tampak meyakinkan, praktik kejahatan digital ini tetap sulit dibendung.
Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, mengatakan bahwa kepercayaan publik seringkali dimanfaatkan oleh pelaku untuk melancarkan aksinya.
“Banyak masyarakat berpikir bahwa adanya KTP dan alamat lengkap itu sudah cukup menjamin. Padahal di lapangan, data tersebut bisa dipalsukan, dicuri, atau bahkan digunakan tanpa sepengetahuan pemilik aslinya,” ujarnya, Jumat (3/4/2026).
Menurutnya, mayoritas korban berasal dari transaksi jarak jauh antar pulau, seperti dari Sumatera ke Jawa atau Kalimantan ke Jawa. Pelaku sengaja menargetkan korban di lokasi yang jauh untuk mempersulit pelacakan dan meminimalkan risiko konfrontasi langsung.
“Pelaku sangat paham psikologi korban. Mereka menawarkan harga murah, menampilkan foto produk yang menarik, bahkan menciptakan aktivitas palsu di media sosial agar terlihat kredibel. Ini bukan kejahatan biasa, tapi sudah terstruktur,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa banyak korban yang akhirnya memilih untuk tidak melanjutkan kasusnya. Kerugian yang berkisar antara Rp5 juta hingga Rp10 juta seringkali dianggap tidak sebanding dengan biaya, waktu, dan tenaga untuk mengejar pelaku.
“Korban biasanya hanya meluapkan kekecewaan di media sosial seperti Facebook. Setelah itu, mereka lelah dan memilih mengikhlaskan. Di sinilah pelaku merasa aman untuk terus beraksi,” ungkapnya.
Dalam aspek penegakan hukum, ia mengakui bahwa pelacakan kasus penipuan online memang memiliki tantangan tersendiri.
“Meski dilaporkan ke pihak berwajib, proses pelacakan seringkali memerlukan waktu dan data pendukung yang kuat. Apalagi jika pelaku menggunakan identitas palsu atau jaringan yang terputus-putus,” jelasnya.
Edukasi untuk Masyarakat
Purnomo Wardoyo menekankan pentingnya kewaspadaan dalam bertransaksi online. Ia mengingatkan bahwa masyarakat tidak boleh hanya bergantung pada tampilan luar sebuah akun atau identitas yang ditampilkan.
“Jangan mudah tergiur harga murah. Selalu lakukan verifikasi ulang, cek rekam jejak penjual, dan usahakan menggunakan platform transaksi yang memiliki sistem perlindungan konsumen,” sarannya.
Ia juga menyarankan agar calon pembeli melakukan komunikasi langsung melalui video call atau meminta bukti tambahan yang sulit dimanipulasi.
Solusi dari Pengamat Sosial
Sebagai langkah pencegahan, ia memberikan beberapa solusi praktis:
Gunakan rekening bersama atau marketplace terpercaya.
Hindari transfer langsung ke rekening pribadi tanpa verifikasi kuat.
Simpan semua bukti transaksi, termasuk chat dan bukti transfer.
Segera laporkan jika menemukan indikasi penipuan, baik ke pihak berwajib maupun platform terkait.
Pertimbangkan menggunakan jasa investigasi profesional untuk kasus dengan nilai kerugian besar.
“Intinya, jangan hanya percaya pada apa yang terlihat. Di dunia digital, yang tampak meyakinkan belum tentu benar. Kewaspadaan adalah perlindungan utama,” pungkasnya.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa literasi digital masyarakat harus terus ditingkatkan, agar tidak semakin banyak korban berjatuhan dalam jebakan penipuan online yang kian canggih.
***
Jumat, 3 April 2026

Tinggalkan Balasan