Queensha.id – Jepara,
Tradisi sakral sekaligus pesta rakyat, Lomban ke-171 di Jepara pada Sabtu (28/3/2026) tampil lebih semarak dari tahun-tahun sebelumnya. Perayaan yang berakar sejak 1855 ini bukan sekadar ritual, tetapi telah menjelma menjadi panggung besar budaya, spiritualitas, dan strategi pariwisata daerah.
Sejarah mencatat, Lomban pertama kali digelar sebagai bentuk syukur dua pejabat yang selamat dari amukan badai saat perjalanan menuju Karimunjawa. Kini, lebih dari satu setengah abad kemudian, tradisi itu tumbuh menjadi identitas kolektif masyarakat pesisir.
Prosesi dimulai sejak pagi di TPI Ujungbatu dengan doa bersama, sambutan Bupati Witiarso Utomo, serta pelepasan larungan kepala kerbau bule dan berbagai sesaji. Iringan gamelan mengalun sepanjang prosesi, menambah nuansa sakral yang berpadu dengan euforia ribuan warga.
“Ini adalah ekspresi spiritual atas limpahan rezeki tahun 2025, dan harapan agar tahun 2026 serta seterusnya semakin baik,” ujar Witiarso, Sabtu (28/3).
Ia juga menegaskan pentingnya percepatan perbaikan sarana dan prasarana di kawasan TPI Ujungbatu sebagai penopang kegiatan nelayan dan wisata.
Sorotan utama tahun ini adalah larungan kepala kerbau bule yang untuk pertama kalinya dilakukan dalam sejarah Lomban. Sesaji ditempatkan dalam miniatur perahu Samudro Joyo, karya Agus Mardiko, lalu diusung enam nelayan menuju kapal utama sebelum dilarung ke perairan utara Pulau Panjang.
Bupati Witiarso bersama Wakil Bupati M. Ibnu Hajar dan jajaran Forkopimda turut naik satu kapal bersama rombongan sesaji. Kehadiran mereka menegaskan bahwa Lomban bukan sekadar seremoni budaya, tetapi juga simbol komitmen pemerintah terhadap pelestarian tradisi.

Lebih dari itu, Lomban kini telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Pemerintah daerah pun mendorong agar tradisi ini berkembang menjadi magnet wisata unggulan.
Rangkaian acara berlanjut di Pantai Kartini melalui Festival Kupat Lepet yang menampilkan seniman lokal hingga atraksi dari komunitas seperti Pagar Nusa Petekeyan. Warna-warni budaya ini memperlihatkan kekayaan Jepara yang tidak hanya terletak di laut, tetapi juga di daratan dan pegunungan.
Menurut Witiarso, potensi wisata Jepara sangat besar dan tersebar di berbagai wilayah. “Harus dioptimalkan, bukan hanya untuk meningkatkan PAD, tetapi agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” tegasnya.
Lomban ke-171 bukan hanya tentang tradisi yang bertahan, tetapi juga tentang arah masa depan. Dari laut yang menjadi saksi larungan, Jepara sedang menatap cakrawala baru: menjadikan budaya sebagai kekuatan ekonomi dan identitas global.
***
(28 Maret 2026)

Tinggalkan Balasan