Queensha.id – Jepara,

 

Sebuah peristiwa dramatis terjadi di Desa Mindahan Kidul, kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara, Minggu siang (05/04/2026). Seorang pemuda, Nur Rohman (22), nekat melompat ke dalam sumur sedalam sekitar 20 meter, memicu kepanikan warga sekaligus menguji kecepatan respons tim penyelamat.

Insiden terjadi sekitar pukul 13.00 WIB, tak lama setelah korban makan siang bersama ibunya, Siti Aminah (51). Tanpa tanda-tanda mencurigakan sebelumnya, Nur Rohman tiba-tiba berlari keluar rumah menuju sumur milik warga setempat di RT 7/RW 1, lalu menjatuhkan diri ke dalam lubang sempit tersebut.

Jeritan anak-anak yang menyaksikan kejadian itu langsung memecah suasana. Warga berhamburan, sementara saksi mata Sigit Kamseno (36) dengan sigap melaporkan kejadian tersebut kepada petugas.

Tak butuh waktu lama, tim gabungan dari Basarnas, BPBD Kabupaten Jepara, serta relawan tiba di lokasi. Dalam operasi yang berlangsung cepat dan penuh ketegangan, korban berhasil dijangkau dari dasar sumur yang gelap dalam waktu sekitar 15 menit.

Pukul 13.45 WIB, Nur Rohman berhasil dievakuasi dalam kondisi hidup merupakan sebuah keberhasilan yang mencerminkan koordinasi solid dan kesiapsiagaan tim di lapangan. Korban kemudian langsung dilarikan ke RSUD Kartini Jepara untuk mendapatkan penanganan medis.

Namun di balik keberhasilan penyelamatan tersebut, tersimpan persoalan yang jauh lebih kompleks. Pihak keluarga mengungkapkan bahwa korban memiliki riwayat gangguan kejiwaan dan tengah menjalani pengobatan.

Fakta ini mengubah sudut pandang peristiwa yang bukan sekadar kecelakaan, melainkan cerminan nyata dari persoalan kesehatan mental yang masih sering terabaikan di lingkungan masyarakat.

Kasus ini sekaligus membuka dua persoalan krusial yang kerap luput dari perhatian.

 

Pertama, minimnya pengamanan pada infrastruktur sederhana seperti sumur terbuka yang masih banyak ditemui di permukiman warga.

 

Kedua, lemahnya sistem perlindungan dan pendampingan bagi individu dengan gangguan mental di tingkat keluarga maupun komunitas.

Peristiwa di Mindahan Kidul menjadi pengingat bahwa keselamatan tidak hanya bergantung pada respons cepat saat darurat, tetapi juga pada langkah pencegahan yang sistematis dan berkelanjutan.

Respons sigap tim penyelamat memang layak diapresiasi. Namun, tanpa perbaikan dalam aspek keamanan lingkungan dan penguatan layanan kesehatan mental berbasis masyarakat, kejadian serupa berpotensi terulang.

Karena pada akhirnya, menyelamatkan nyawa bukan hanya soal kecepatan bertindak saat krisis, melainkan juga keberanian untuk membenahi akar masalah sebelum tragedi benar-benar terjadi.

 

***

Wartawan: Wakhid Obeng.
(05 April 2026)