Queensha.id – Edukasi Sosial,
Perkembangan media sosial yang begitu pesat membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Di satu sisi, teknologi digital memudahkan komunikasi dan penyebaran informasi. Namun di sisi lain, ruang digital juga dinilai semakin dipenuhi ujaran kasar, perundungan, hingga hilangnya rasa empati antar sesama.
Fenomena saling menghujat di kolom komentar, penyebaran hoaks, hingga kebiasaan menghakimi tanpa mengetahui fakta lengkap kini semakin sering terjadi di berbagai platform media sosial.
Sejumlah penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa rendahnya empati digital menjadi salah satu persoalan sosial yang mulai mengkhawatirkan di Indonesia. Penelitian tentang hubungan empati dan perilaku flaming atau komentar kasar di media sosial menunjukkan bahwa pengguna dengan tingkat empati rendah cenderung lebih mudah menyerang orang lain secara verbal di ruang digital.
Media Sosial Dinilai Mengubah Cara Masyarakat Bersikap
Pengamat sosial sekaligus akademisi komunikasi digital, Gun Gun Heryanto, menilai media sosial saat ini tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga membentuk pola perilaku masyarakat sehari-hari.
Menurutnya, banyak pengguna media sosial yang mulai kehilangan batas antara kritik sehat dan ujaran yang melukai orang lain.
“Ruang digital seharusnya menjadi tempat bertukar informasi dan gagasan secara sehat. Tetapi hari ini kita melihat banyak orang lebih mudah marah, menghakimi, bahkan menyerang tanpa memahami dampak psikologis terhadap orang lain,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa rendahnya literasi sosial dan digital membuat masyarakat mudah terpancing emosi oleh informasi yang belum tentu benar.
Anak Muda Jadi Kelompok yang Rentan
Generasi muda menjadi kelompok yang paling dekat dengan media sosial. Karena itu, edukasi sosial dinilai sangat penting untuk membangun karakter dan empati sejak dini.
Penelitian tentang literasi sosial-digital menyebutkan bahwa penggunaan media sosial tanpa pendampingan dapat meningkatkan risiko bullying, penyalahgunaan media digital, hingga menurunnya sensitivitas sosial pada anak dan remaja.
Psikolog pendidikan Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto juga kerap mengingatkan pentingnya pendidikan karakter di era digital.
Menurutnya, anak-anak perlu diajarkan bahwa setiap tulisan dan komentar di media sosial dapat memengaruhi perasaan orang lain.
“Anak-anak harus belajar bahwa dunia digital tetap membutuhkan sopan santun, empati, dan rasa menghargai sesama,” tuturnya.
Hoaks dan Budaya Menghakimi Jadi Ancaman Sosial
Selain perundungan digital, maraknya hoaks juga dinilai memperburuk kondisi sosial masyarakat. Banyak orang langsung mempercayai informasi viral tanpa melakukan pengecekan fakta terlebih dahulu.
Akibatnya, muncul budaya menghakimi yang dapat merusak nama baik seseorang bahkan memicu konflik sosial.
Penelitian mengenai literasi budaya dan kecerdasan empati di Indonesia juga menyebut dominasi media sosial serta algoritma digital berpotensi memperkuat mis informasi dan polarisasi sosial jika tidak diimbangi kemampuan berpikir kritis.
Pentingnya Menghidupkan Kembali Empati Sosial
Di tengah derasnya arus digitalisasi, para akademisi menilai masyarakat perlu kembali menghidupkan budaya empati, saling menghormati, dan menjaga etika komunikasi.
Hal sederhana seperti memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikan, menghindari komentar kasar, hingga belajar memahami sudut pandang orang lain dianggap penting untuk menjaga kesehatan sosial masyarakat.
Budayawan Indonesia Sujiwo Tejo pernah menyampaikan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan rasa kemanusiaannya.
“Teknologi boleh maju, tetapi hati manusia jangan sampai mundur,” ujarnya dalam sebuah diskusi kebudayaan.
Edukasi Sosial Dinilai Jadi Kebutuhan Mendesak
Meningkatnya konflik di media sosial membuat edukasi sosial kini dianggap sama pentingnya dengan literasi digital.
Masyarakat diharapkan tidak hanya cerdas menggunakan teknologi, tetapi juga bijak dalam bersikap, menjaga empati, dan memahami dampak sosial dari setiap tindakan di ruang digital.
Karena pada akhirnya, media sosial hanyalah alat. Baik buruknya ruang digital tetap bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya.
***
Queensha Jepara, 22 Mei 2026.

Tinggalkan Balasan