Queensha.id – Edukasi Sosial,
Grup WhatsApp keluarga, alumni sekolah, lingkungan, hingga komunitas sering kali dipenuhi berbagai pembahasan mengenai politik, ekonomi, sosial, budaya, hingga kebijakan pemerintah. Tidak sedikit anggotanya berasal dari kelompok usia 40 hingga 60 tahun yang aktif membagikan berita, foto, video, bahkan opini yang diperoleh dari media sosial.
Sayangnya, sebagian informasi tersebut belum tentu benar atau telah diverifikasi. Akibatnya, informasi yang belum akurat dapat menyebar dengan cepat dan memicu perdebatan panjang.
Lantas, mengapa kelompok usia 40–60 tahun cenderung lebih aktif membahas persoalan politik dan pemerintahan?
Menurut Pandangan Pakar Sosial
Dalam ilmu sosiologi, usia 40–60 tahun merupakan fase ketika seseorang telah memiliki pengalaman hidup yang panjang. Mereka telah melewati berbagai pergantian pemerintahan, perubahan ekonomi, krisis, hingga dinamika sosial yang membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan.
Karena pengalaman tersebut, mereka merasa memiliki pengetahuan dan tanggung jawab moral untuk memberikan pendapat mengenai arah pembangunan, kondisi ekonomi, maupun kebijakan pemerintah.
Selain itu, banyak dari mereka telah memiliki waktu luang lebih banyak dibandingkan saat masih membangun karier di usia muda sehingga lebih aktif mengikuti berita dan berdiskusi.
Menurut Pandangan Pakar Politik
Pakar politik menilai bahwa masyarakat yang aktif membahas politik tidak selalu memiliki tujuan negatif. Dalam sistem demokrasi, masyarakat memiliki hak untuk mengawasi jalannya pemerintahan, menyampaikan kritik, maupun memberikan dukungan terhadap kebijakan yang dianggap baik.
Diskusi politik dapat menjadi bentuk partisipasi warga negara selama dilakukan secara santun, berdasarkan fakta, dan menghormati perbedaan pendapat.
Namun, kritik yang dibangun di atas informasi yang tidak terverifikasi justru dapat menimbulkan kesalahpahaman, memperkeruh suasana, bahkan memecah persatuan masyarakat.
Mengapa Topik Politik Menarik bagi Kelompok Usia 40–60 Tahun?
Beberapa faktor yang sering menjadi penyebab antara lain:
- Memiliki pengalaman hidup yang lebih panjang sehingga mudah membandingkan kondisi masa lalu dan masa kini.
- Merasa memiliki kepedulian terhadap masa depan daerah maupun negara.
- Ingin menyampaikan aspirasi atau ketidakpuasan terhadap kebijakan tertentu.
- Memiliki jaringan pertemanan yang luas sehingga diskusi berkembang melalui grup WhatsApp.
- Menganggap berbagi informasi sebagai bentuk kepedulian kepada sesama, meskipun terkadang belum memeriksa kebenarannya.
Apa Tujuannya?
Setiap orang memiliki tujuan yang berbeda-beda, antara lain:
- Menyampaikan pendapat mengenai kebijakan publik.
- Memberikan kritik terhadap pemerintah agar pelayanan semakin baik.
- Mendukung program pemerintah yang dianggap bermanfaat.
- Berdiskusi mengenai kondisi ekonomi, pendidikan, kesehatan, atau kesejahteraan masyarakat.
- Menjalin komunikasi dengan teman atau komunitas melalui topik yang sedang hangat.
Namun, ada pula yang sekadar ingin mengikuti percakapan atau membagikan informasi yang menurutnya menarik tanpa menyadari bahwa informasi tersebut belum tentu benar.
Apa Manfaatnya?
Apabila dilakukan secara sehat dan berdasarkan informasi yang valid, diskusi politik memiliki sejumlah manfaat, seperti:
- Meningkatkan wawasan masyarakat mengenai kebijakan publik.
- Menumbuhkan kepedulian terhadap pembangunan daerah dan nasional.
- Mendorong masyarakat lebih aktif dalam kehidupan demokrasi.
- Menjadi ruang bertukar pendapat secara terbuka.
- Mendorong pemerintah menerima masukan dari masyarakat.
Sebaliknya, jika diskusi dipenuhi hoaks, fitnah, atau ujaran kebencian, manfaat tersebut dapat berubah menjadi dampak negatif berupa perpecahan, saling mencurigai, hingga menurunnya kepercayaan terhadap informasi.
Pentingnya Literasi Digital
Para pakar komunikasi dan literasi digital mengingatkan masyarakat agar selalu menerapkan prinsip saring sebelum sharing. Sebelum membagikan berita, foto, video, atau tautan portal media, sebaiknya dilakukan beberapa langkah berikut:
- Membaca isi berita secara utuh, bukan hanya judul.
- Memastikan sumber berasal dari media yang kredibel.
- Membandingkan informasi dengan sumber resmi atau media lain.
- Tidak langsung menyebarkan informasi yang belum jelas asal-usulnya.
- Menghindari provokasi yang dapat memecah persatuan.
Jangan Lupakan Peran di Tengah Keluarga
Di sisi lain, para pakar sosiologi keluarga juga mengingatkan bahwa usia 40–60 tahun merupakan masa ketika seseorang memiliki peran besar sebagai orang tua, pasangan, maupun kepala keluarga. Karena itu, keseimbangan perlu dijaga.
Kesibukan mengikuti isu politik dan berdiskusi di media sosial hendaknya tidak mengurangi waktu untuk membangun komunikasi dengan pasangan, mendampingi anak, memperhatikan kesehatan, maupun menjalankan aktivitas sosial di lingkungan sekitar.
Meluangkan waktu bersama keluarga, berdiskusi secara langsung, serta menjadi teladan dalam menyaring informasi justru dapat memberikan dampak positif yang lebih besar dibandingkan terlibat dalam perdebatan berkepanjangan di dunia maya.
Ketertarikan masyarakat usia 40–60 tahun terhadap politik, ekonomi, sosial, dan budaya merupakan hal yang wajar dalam kehidupan demokrasi. Pengalaman hidup membuat mereka lebih peduli terhadap arah pembangunan dan kebijakan pemerintah.
Namun, kepedulian tersebut sebaiknya diwujudkan melalui diskusi yang sehat, berbasis fakta, dan menghargai perbedaan pendapat. Menyampaikan kritik maupun dukungan kepada pemerintah adalah hak setiap warga negara, tetapi penyebaran informasi harus dilakukan secara bertanggung jawab. Di saat yang sama, menjaga keharmonisan keluarga, memperkuat hubungan sosial, dan menjadi teladan dalam bermedia digital tetap menjadi tanggung jawab yang tidak kalah penting.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan