Queensha.id – Semarang,

 

Di lereng Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, berdiri sebuah situs bersejarah yang belum banyak dikenal wisatawan, yakni Candi Ngempon. Meski ukurannya tidak sebesar Candi Borobudur maupun Prambanan, candi ini menyimpan jejak penting peradaban Hindu pada masa Kerajaan Mataram Kuno sekitar abad ke-8 hingga ke-9 Masehi.

Selain memiliki nilai sejarah tinggi, Candi Ngempon juga dikenal dengan berbagai cerita mistis yang berkembang di masyarakat. Mulai dari kisah penjaga gaib, keberadaan roh para pendeta kerajaan, hingga mata air suci yang dipercaya tidak pernah mengering sepanjang tahun.

 

Jejak Peradaban Mataram Kuno

Berdasarkan kajian arkeologi, Candi Ngempon merupakan candi bercorak Hindu yang diperkirakan dibangun pada masa Kerajaan Mataram Kuno sekitar abad VIII–IX Masehi. Nama “Ngempon” diyakini berasal dari kata Empu, yang merujuk pada tempat pendidikan para brahmana atau resi pada masa lampau.

Kompleks ini sebenarnya terdiri dari sembilan bangunan candi. Namun hingga kini baru empat bangunan yang berhasil direkonstruksi karena sebagian besar batu penyusunnya telah hilang atau rusak dimakan waktu.

Candi ini ditemukan secara tidak sengaja sekitar tahun 1951–1952 oleh seorang petani bernama Kasri saat sedang mencangkul sawah. Penemuan tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh pemerintah melalui penelitian dan pemugaran sehingga akhirnya ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional.

 

Arca dan Mata Air yang Menjadi Misteri

Saat proses penggalian dilakukan, ditemukan berbagai arca Hindu seperti Durga, Ganesha, Kinara-Kinari dan Nandi. Saat ini arca-arca tersebut disimpan di Museum Ronggowarsito Semarang demi keamanan dan pelestarian.

Di sekitar kompleks candi juga terdapat sumber air panas maupun air dingin yang sejak dahulu dianggap sebagai bagian dari kawasan suci. Bahkan pada 2018, petugas kembali menemukan struktur batu yang diduga bagian dari kompleks kuno di sekitar jalur mata air yang tidak pernah kering.

 

Benarkah Dijaga Roh Pendeta Kerajaan?

Di kalangan masyarakat sekitar berkembang cerita turun-temurun bahwa kawasan Candi Ngempon dijaga oleh para roh pendeta atau brahmana yang dahulu mengabdikan hidupnya untuk kegiatan spiritual di tempat tersebut.

Sebagian warga percaya suasana kawasan berubah lebih sunyi ketika malam-malam tertentu. Ada pula keyakinan bahwa siapa pun yang datang dengan niat baik akan memperoleh ketenangan batin, sedangkan mereka yang berniat merusak atau berlaku tidak sopan dipercaya akan mengalami kebingungan atau kesulitan menemukan jalan keluar.

Namun demikian, hingga kini tidak ada bukti ilmiah yang dapat membuktikan keberadaan kisah-kisah supranatural tersebut. Cerita tersebut merupakan bagian dari tradisi lisan dan kepercayaan masyarakat setempat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

 

Menurut Pakar Sejarah

Sejarawan sekaligus arkeolog Indonesia Prof. Agus Aris Munandar dalam berbagai kajian mengenai candi-candi masa klasik menjelaskan bahwa situs-situs peninggalan Hindu-Buddha pada dasarnya merupakan pusat aktivitas keagamaan, pendidikan, serta kehidupan spiritual masyarakat masa lampau. Nilai utamanya terletak pada fungsi religius dan sejarahnya, sehingga masyarakat diimbau menghormati situs-situs tersebut sebagai warisan budaya, bukan semata-mata karena cerita mistis yang berkembang.

Pandangan serupa juga terlihat dalam berbagai publikasi arkeologi yang menyebut Candi Ngempon sebagai salah satu bukti berkembangnya peradaban Hindu di Jawa Tengah sekaligus kawasan pendidikan para brahmana pada masa Mataram Kuno.

 

Destinasi Wisata Edukasi

Kini Candi Ngempon menjadi salah satu destinasi wisata sejarah di Kabupaten Semarang. Letaknya yang berada di tengah persawahan dengan latar Gunung Ungaran menghadirkan suasana tenang dan asri.

Selain menjadi objek wisata budaya, kompleks candi masih dimanfaatkan umat Hindu untuk beribadah pada hari-hari besar keagamaan. Para pengunjung pun diimbau menjaga sopan santun, tidak merusak situs, serta menghormati nilai-nilai budaya yang melekat pada kawasan cagar budaya tersebut.

 

***

Sumber: BS.