Queensha.id – Edukasi Sosial,
Berbagai pantangan yang diwariskan secara turun-temurun masih hidup di tengah masyarakat Indonesia. Sebagian orang mempercayainya sebagai nasihat leluhur, sementara sebagian lainnya menganggapnya sebagai mitos yang tidak memiliki dasar ilmiah.
Pada gambar yang beredar di media sosial akun Facebook Ida Yuliatin terdapat lima pantangan yang disebut tidak boleh dilakukan pada malam hari. Menariknya, gambar tersebut juga telah memberikan catatan bahwa hal-hal tersebut merupakan mitos atau kepercayaan masyarakat, bukan fakta yang telah terbukti secara ilmiah.
Lalu bagaimana sebenarnya asal-usul pantangan tersebut? Dan bagaimana pandangan Islam serta para ulama terhadap kepercayaan semacam ini?
1. Menjemur Pakaian di Malam Hari
Masyarakat dahulu percaya bahwa pakaian yang dijemur pada malam hari akan ditempeli jin atau energi negatif.
Asal-usul kepercayaan
Pada zaman dahulu, penerangan masih sangat terbatas. Menjemur pakaian malam hari membuat pakaian terkena embun sehingga lebih lama kering, mudah lembap, berbau, bahkan berjamur.
Agar anak-anak tidak membiasakan hal tersebut, muncullah cerita bahwa pakaian akan ditempeli makhluk halus.
Penjelasan ilmiah
Hingga kini tidak ada bukti ilmiah bahwa jin akan menempel pada pakaian yang dijemur pada malam hari. Namun dari sisi kesehatan, pakaian memang lebih baik dijemur pada siang hari agar mendapat sinar matahari yang membantu mengurangi kelembapan.
2. Memberi Pakaian kepada Pacar
Ada anggapan bahwa memberikan pakaian kepada pacar akan membuat hubungan berakhir.
Asal-usul mitos
Tidak diketahui secara pasti dari mana kepercayaan ini berasal. Sebagian budayawan menduga mitos tersebut muncul sebagai simbol bahwa hubungan asmara tidak boleh hanya dinilai dari pemberian materi.
Penjelasan logis
Bertahan atau berakhirnya sebuah hubungan ditentukan oleh komunikasi, kepercayaan, tanggung jawab, dan komitmen, bukan oleh hadiah berupa pakaian.
3. Menyapukan Pakaian Bekas ke Wajah
Sebagian masyarakat percaya tindakan ini dapat membuat rezeki menjadi seret.
Makna budaya
Kemungkinan besar nasihat ini bertujuan mengajarkan kebersihan. Pakaian bekas mengandung keringat, debu, dan kuman sehingga tidak baik jika diusap-usapkan ke wajah.
Penjelasan kesehatan
Secara medis, kebiasaan tersebut memang dapat meningkatkan risiko iritasi kulit atau jerawat apabila pakaian dalam keadaan kotor.
Namun tidak ada bukti bahwa kebiasaan tersebut menyebabkan rezeki menjadi seret.
4. Menjahit pada Malam Hari
Dalam beberapa daerah, menjahit malam hari dipercaya membawa kesialan.
Asal-usul budaya
Pada masa lampau, penerangan hanya menggunakan lampu minyak atau pelita sehingga aktivitas menjahit pada malam hari berisiko melukai tangan akibat jarum.
Agar anggota keluarga tidak terluka, muncullah larangan yang kemudian berkembang menjadi mitos.
Penjelasan logis
Saat ini, dengan penerangan yang memadai, menjahit pada malam hari tidak menjadi persoalan selama dilakukan dengan aman.
5. Memakai Pakaian Terbalik Tanpa Sengaja
Ada kepercayaan bahwa memakai pakaian terbalik merupakan pertanda akan datangnya rezeki.
Penjelasan budaya
Kepercayaan ini berkembang di beberapa daerah sebagai bentuk harapan atau doa agar seseorang memperoleh keberuntungan.
Penjelasan ilmiah
Tidak ada hubungan sebab-akibat antara memakai pakaian terbalik dengan datangnya rezeki. Rezeki diperoleh melalui usaha, doa, dan izin Allah SWT.
Pandangan Islam
Dalam Islam, seorang muslim diajarkan untuk meyakini bahwa segala manfaat dan mudarat hanya terjadi atas izin Allah SWT.
Kepercayaan bahwa suatu benda atau tindakan tertentu pasti mendatangkan sial maupun keberuntungan tanpa dalil dari Al-Qur’an dan hadis termasuk keyakinan yang tidak boleh diyakini sebagai kebenaran agama.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an bahwa tidak ada musibah yang menimpa kecuali dengan izin-Nya. Karena itu, umat Islam dianjurkan menggantungkan harapan dan rasa takut hanya kepada Allah, bukan kepada mitos atau pertanda tertentu.
Pandangan Ulama
Para ulama menjelaskan bahwa tradisi atau adat istiadat boleh dijaga selama tidak bertentangan dengan syariat Islam.
Apabila suatu pantangan hanya dimaknai sebagai nasihat agar lebih berhati-hati, menjaga kebersihan, atau menjaga keselamatan, maka hal tersebut dapat menjadi bagian dari kearifan lokal.
Namun jika seseorang meyakini bahwa suatu perbuatan pasti membawa sial, mengundang jin, atau mendatangkan rezeki tanpa dasar syariat, maka keyakinan tersebut tidak dibenarkan dalam Islam.
Ulama juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah mempercayai mitos yang dapat mengarah kepada tathayyur (anggapan sial karena pertanda tertentu) atau tahayul, karena Islam mengajarkan agar setiap keyakinan didasarkan pada wahyu dan ilmu yang benar.
Ambil Hikmahnya, Bukan Mitosnya
Banyak pantangan yang berkembang di masyarakat sebenarnya memiliki tujuan baik, seperti menjaga kesehatan, keselamatan, kebersihan, dan sopan santun.
Karena itu, masyarakat dapat menghormati warisan budaya sebagai bagian dari kearifan lokal, namun tetap bersikap kritis dan menjadikan Al-Qur’an serta sunah sebagai pedoman utama dalam menentukan keyakinan.
Dengan demikian, tradisi tetap dapat dilestarikan sebagai nilai budaya, sementara akidah tetap terjaga sesuai ajaran Islam.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan