Queensha.id – Jepara,

 

Gelombang kepulangan puluhan ribu perantau asal Jepara sejak pekan pertama Ramadan 1447 Hijriah bukan sekadar tradisi tahunan. Di balik arus mudik itu, tersimpan kekuatan besar yang menggerakkan ekonomi sekaligus memperkuat ikatan sosial masyarakat.

 

Para perantau yang tersebar di berbagai kota besar hingga luar negeri memilih pulang di tengah kesibukan kerja demi satu hal sederhana: menghabiskan sisa Ramadan bersama keluarga di kampung halaman.

 

“Inilah hebatnya perantau Jepara yang tetap memperhatikan keluarga dan bahkan desa serta kotanya,” ujar Wakil Ketua DPRD Jepara, Junarso, Rabu (18/03/2026).

 

Menurutnya, perantau Jepara dikenal memiliki etos kerja tinggi, kompetensi yang mumpuni, serta kemampuan adaptasi yang kuat. Tak heran jika mereka tersebar di berbagai wilayah seperti Jakarta, Kalimantan, Papua, Sumatera, Sulawesi, hingga Bali, bahkan merambah ke luar negeri.

 

Lebih dari sekadar pekerja, para perantau ini juga membangun jaringan sosial yang solid. Di sejumlah kota besar, komunitas perantau Jepara tumbuh terorganisir, seperti Keluarga Perantau Jepara di Jakarta dan komunitas serupa di Bali yang aktif menggelar kegiatan sosial.

 

Fenomena ini oleh Junarso disebut sebagai “Spirit Jepara Incorporated” merupakan sebuah kekuatan kolektif yang lahir dari rasa cinta terhadap daerah asal.

 

“Spirit ini muncul karena perantau Jepara, baik pengusaha maupun pekerja, memiliki kebanggaan terhadap daerahnya dan selalu teringat kampung halaman,” jelasnya, dikutip dari berbagai sumber.

 

Dampak kepulangan mereka tidak berhenti pada lingkup keluarga. Dalam pengamatan Junarso, para perantau juga aktif terlibat dalam kegiatan sosial dan keagamaan di desa, mulai dari pembangunan fasilitas umum, tempat ibadah, sekolah, hingga pelestarian budaya lokal dan santunan sosial.
Peran mereka juga signifikan dalam membuka akses kerja bagi warga Jepara.

 

Banyak perantau yang menjadi penghubung tenaga kerja terampil dari daerah untuk bekerja di luar kota.
“Secara jujur harus diakui, belum semua lulusan sekolah dapat tertampung di Jepara,” tegasnya.

 

Tak hanya itu, arus mudik juga menjadi penggerak ekonomi lokal. Perputaran uang meningkat tajam, sektor usaha kecil kembali bergairah, dan aktivitas pasar mengalami lonjakan signifikan.

 

Atas kontribusi tersebut, Junarso menyampaikan apresiasi dan rasa hormat kepada seluruh perantau Jepara yang dinilai telah berperan besar dalam pembangunan daerah, baik secara langsung maupun tidak.

 

Mudik, pada akhirnya, bukan hanya soal pulang kampung. Bagi Jepara, ia adalah denyut ekonomi, energi sosial, dan bukti bahwa keterikatan pada tanah kelahiran tetap hidup, sejauh apa pun langkah merantau membawa mereka pergi.

 

Hadepe.
(18/03/2026)