Queensha.id – Jepara,
Perdebatan mengenai keberadaan hiburan orkes dangdut kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, polemik muncul setelah akun Facebook Abdallah Badri yang dimiliki oleh Abdullah Badri mengunggah sebuah tulisan berjudul “Orkesan Perusak Tatanan Nomor Wahid”, yang viral di media sosial pada Sabtu (27/6/2026).
Dalam tulisannya, Abdallah Badri mengungkapkan pandangannya bahwa hiburan orkes dangdut tidak hanya menjadi tempat pertunjukan musik, tetapi juga dinilai kerap memunculkan berbagai perilaku negatif yang dianggap merusak tatanan moral masyarakat.
Ia mengisahkan seorang guru asal Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara, yang disebut kerap memberikan sanksi kepada murid mengajinya apabila diketahui menghadiri pertunjukan orkes dangdut.
Menurutnya, sang guru memandang orkes sebagai salah satu penyebab lunturnya nilai-nilai moral di lingkungan masyarakat.
“Baginya, orkesan adalah perusak tatanan moral nomor wahid yang maha sulit diberantas,” tulis Abdallah Badri dalam unggahannya, Sabtu (27/6/2026).
Abdallah Badri Soroti Fenomena yang Dianggap Lumrah di Arena Orkes
Dalam narasinya, Abdallah Badri menyebut sejumlah perilaku yang menurutnya sering ditemukan di lokasi hiburan orkes dangdut, antara lain:
- Pengunjung mabuk akibat minuman keras.
- Perkelahian antarpenonton.
- Joget dalam kondisi mabuk.
- Buang air kecil sembarangan.
- Perilaku yang dianggap tidak sopan di ruang publik.
Ia juga menyoroti adanya sebagian masyarakat yang rela menabung demi menggelar pertunjukan orkes maupun memberikan uang sawer kepada penyanyi dangdut.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya pergeseran nilai dalam kehidupan sosial masyarakat.
Mengutip Hadis tentang Mujahirin
Untuk memperkuat pandangannya, Abdallah Badri turut mengutip sejumlah hadis Nabi Muhammad SAW yang membahas tentang larangan melakukan kemaksiatan secara terang-terangan (mujahirin).
Ia menilai, seseorang yang secara terbuka mempertontonkan perbuatan yang dilarang agama seharusnya lebih berhati-hati karena dapat memberi contoh buruk kepada masyarakat lainnya.
Dalam tulisannya, ia juga mengajak masyarakat menjauhi berbagai bentuk kemaksiatan serta memperbanyak doa agar terhindar dari musibah.
Perdebatan Lama yang Kembali Mengemuka
Polemik mengenai hiburan orkes dangdut sebenarnya bukan hal baru di Kabupaten Jepara maupun sejumlah daerah lain di Indonesia.
Di satu sisi, orkes dangdut telah lama menjadi bagian dari hiburan rakyat yang menggerakkan sektor ekonomi. Kehadirannya memberikan ruang bagi musisi, penyanyi, pelaku UMKM, pedagang kaki lima, hingga jasa parkir untuk memperoleh penghasilan.
Namun di sisi lain, berbagai insiden seperti konsumsi minuman keras, perkelahian, keributan, hingga kecelakaan usai menonton orkes kerap menjadi perhatian masyarakat dan aparat penegak hukum.
Karena itu, sebagian kalangan mendorong agar penyelenggaraan hiburan rakyat dilakukan dengan pengawasan yang lebih ketat sehingga tetap memberikan manfaat tanpa menimbulkan dampak sosial yang merugikan.
Persoalan Ada pada Perilaku, Bukan Musiknya
Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai bahwa fenomena yang disampaikan Abdallah Badri mencerminkan adanya keresahan sebagian masyarakat terhadap dampak sosial dari sejumlah pertunjukan orkes.
Menurut Purnomo, persoalan utama bukan terletak pada musik dangdut sebagai sebuah karya seni, melainkan pada perilaku sebagian oknum penonton maupun lemahnya pengawasan dalam penyelenggaraan acara.
“Musik adalah bagian dari kebudayaan dan hiburan masyarakat. Yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana penyelenggara, aparat, tokoh masyarakat, dan penonton bersama-sama menjaga agar hiburan berlangsung tertib, aman, serta tidak memicu pelanggaran hukum maupun norma sosial,” ujarnya, Sabtu (27/6/2026).
Ia menambahkan, apabila dalam suatu kegiatan hiburan terjadi penyalahgunaan minuman keras, kekerasan, atau tindakan yang mengganggu ketertiban umum, maka hal tersebut merupakan persoalan penegakan aturan dan perilaku individu, bukan semata-mata kesalahan dari jenis hiburannya.
Tuai Pro dan Kontra di Media Sosial
Unggahan Abdallah Badri pun memicu beragam tanggapan dari warganet. Sebagian mendukung pandangannya karena menilai sejumlah pertunjukan orkes memang kerap diwarnai tindakan yang mengganggu ketertiban.
Namun tidak sedikit pula yang berpendapat bahwa dangdut merupakan bagian dari budaya hiburan masyarakat Indonesia. Mereka menilai yang perlu dibenahi adalah pengawasan penyelenggaraan acara, bukan melarang seluruh pertunjukan orkes.
Perdebatan tersebut menunjukkan bahwa isu hiburan rakyat, moral masyarakat, dan pelestarian budaya masih menjadi topik yang terus memunculkan beragam pandangan di tengah masyarakat.
***
Sumber: Akun Facebook Abdalla Badri.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan