Queensha.id – Jepara,

 

Dunia orkes dangdut di Kabupaten Jepara tengah menjadi perhatian publik. Berawal dari kritik yang disampaikan pengamat sosial keagamaan M. Abdullah Badri, yang dikenal dengan akun Facebook Abdalla Badri kini muncul semangat baru untuk membangun budaya pertunjukan yang lebih tertib, aman, dan bermartabat.

Alih-alih memicu konflik berkepanjangan, kritik tersebut justru menjadi pintu masuk bagi dialog antara tokoh masyarakat dan pelaku seni. Dalam suasana santai penuh keakraban sambil menikmati kopi, M. Abdullah Badri menerima kunjungan Wakil Ketua PAMDI (Persatuan Artis Musik Dangdut Indonesia) Jepara Ali Ar-Rafiq atau yang akrab disapa Lek Aleng, serta Ketua PPODJ (Persatuan Pemilik Orkes Dangdut Jepara) Robby Ibrahim.

Pertemuan tersebut menghasilkan kesamaan pandangan bahwa orkes dangdut di Jepara perlu ditata agar tetap menjadi hiburan rakyat yang sehat tanpa menghilangkan nilai seni dan budaya.

 

Kritik Ditujukan pada Fenomena, Bukan Pelaku Seni

Dalam kesempatan itu, M. Abdullah Badri menegaskan bahwa kritik yang selama ini disampaikannya sering kali disalahartikan oleh sebagian pihak. Ia menekankan bahwa dirinya tidak pernah mempersoalkan profesi para pelaku seni yang mencari nafkah secara halal.

“Saya tidak pernah mengkritik pelaku seni orkes. Apalagi MC, player, dan lainnya. Saya pun tidak pernah mengulas hukum musik. Sak karepmu kalau soal musik. Yang saya kritik adalah orkesan ojing amoral, pihak pemberi izin, dan penyelenggara atau EO,” tegas Badri, Rabu (8/7/2026).

Menurutnya, perkembangan musik merupakan bagian dari realitas kehidupan modern. Yang terpenting adalah bagaimana musik dimanfaatkan sebagai media hiburan yang positif tanpa disertai perilaku yang melanggar norma sosial maupun agama.

 

Tiga Persoalan yang Dinilai Perlu Ditertibkan

Dari hasil diskusi bersama PAMDI Jepara dan PPODJ Jepara, terdapat tiga persoalan utama yang dinilai kerap memicu kericuhan sekaligus merusak citra pertunjukan orkes dangdut di Jepara.

 

1. Banyu Gendeng (Minuman Keras)

Minuman keras disebut menjadi salah satu penyebab utama terjadinya keributan hingga perkelahian antar penonton. Karena itu, muncul usulan agar setiap penyelenggaraan orkes benar-benar bebas dari peredaran alkohol.

 

2. Busana Biduan yang Terlalu Terbuka

Penampilan sebagian penyanyi yang dinilai terlalu vulgar dianggap dapat mengurangi nilai kesopanan dan mencoreng citra hiburan rakyat. Solusi yang diusulkan adalah penyusunan standar busana panggung yang tetap menarik namun lebih santun.

 

3. Musik DJ Tanpa Lirik

Penggunaan musik DJ tanpa lirik dinilai sering memicu suasana yang berlebihan sehingga berpotensi memunculkan aksi “ojing” dan kericuhan di tengah penonton. Oleh sebab itu, muncul usulan agar musik tersebut tidak lagi menjadi bagian dari pertunjukan orkes dangdut.

 

Kesadaran Bersama untuk Menjaga Citra Jepara

Badri menegaskan bahwa tujuan utama dari kritik tersebut bukan untuk menyerang individu, melainkan membangun kesadaran kolektif agar pertunjukan orkes dangdut kembali menjadi hiburan yang aman dan nyaman bagi masyarakat.

“Targetnya adalah kesadaran massal, bukan keributan pribadi. Yang saya kritik adalah fenomena, bukan personal,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa apabila praktik-praktik yang dinilai amoral masih terus terjadi dan mencoreng nama baik Kabupaten Jepara, maka kritik terhadap penyelenggara maupun pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab akan terus disampaikan.

 

Harapan Menjadikan Dangdut Sebagai Hiburan Rakyat yang Sehat

Pertemuan antara pengamat sosial dan para pengurus organisasi seni tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat sinergi antara pelaku seni, penyelenggara, pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat.

Dengan komitmen bersama, orkes dangdut di Jepara diharapkan mampu menghadirkan hiburan yang tetap meriah, profesional, serta menjunjung nilai kesopanan, keamanan, dan ketertiban.

Tujuan akhirnya adalah mewujudkan pertunjukan orkes dangdut yang bebas dari minuman keras, jauh dari perkelahian, serta mampu menjaga marwah Kabupaten Jepara sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai budaya dan moral.

 

***

Sumber: SJ & Abdalla Badri.

Penulis: Vico Rahman.