Queensha.id – Sejarah,

 

Nama Pangeran Diponegoro menjadi salah satu simbol perjuangan terbesar bangsa Indonesia dalam melawan penjajahan Belanda. Namun, hingga kini masih banyak masyarakat yang bertanya, benarkah Pangeran Diponegoro menyerahkan diri kepada Belanda?

Pertanyaan tersebut muncul karena berbagai lukisan dan catatan kolonial sering menggambarkan seolah-olah Diponegoro datang secara sukarela untuk menyerahkan diri kepada Jenderal Hendrik Merkus de Kock. Padahal, banyak sejarawan menilai peristiwa tersebut lebih tepat disebut sebagai penangkapan melalui tipu muslihat saat perundingan damai, bukan penyerahan diri secara sukarela.

 

Awal Mula Perang Diponegoro

Pangeran Diponegoro lahir dengan nama Bendara Raden Mas Mustahar, kemudian dikenal sebagai Raden Mas Ontowiryo. Ia merupakan putra sulung Sultan Hamengkubuwono III dari Kesultanan Yogyakarta.

Perlawanan Diponegoro terhadap pemerintah kolonial meletus pada tahun 1825. Penyebabnya bukan hanya persoalan pemasangan patok jalan yang melintasi tanah leluhurnya di Tegalrejo, tetapi juga karena campur tangan Belanda dalam urusan Keraton Yogyakarta, beban pajak yang tinggi, serta penderitaan rakyat akibat kebijakan kolonial.

Perang yang kemudian dikenal sebagai Perang Jawa (Java Oorlog) berlangsung selama lima tahun, yakni 1825–1830, dan menjadi salah satu perang terbesar yang pernah dihadapi pemerintah kolonial Belanda di Nusantara.

 

Strategi Gerilya yang Membuat Belanda Kewalahan

Selama bertahun-tahun, pasukan Diponegoro menerapkan strategi perang gerilya yang sangat efektif.

Pasukannya menyerang secara tiba-tiba, memanfaatkan kondisi geografis pegunungan, hutan, dan pedesaan di Jawa Tengah serta Yogyakarta. Strategi tersebut membuat pasukan Belanda mengalami kerugian besar, baik dari sisi personel maupun biaya perang.

Diperkirakan perang ini menewaskan ratusan ribu penduduk Jawa serta ribuan tentara Belanda dan menguras keuangan pemerintah kolonial hingga puluhan juta gulden.

 

Strategi Benteng Stelsel Mengubah Jalannya Perang

Melihat sulitnya mengalahkan Diponegoro melalui peperangan terbuka, Jenderal Hendrik Merkus Baron de Kock mengubah strategi.

Belanda membangun ratusan benteng kecil atau Benteng Stelsel yang saling terhubung dengan jalan-jalan militer. Strategi ini mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro, memutus jalur logistik, serta melemahkan dukungan dari para pengikutnya.

Seiring waktu, banyak panglima Diponegoro yang gugur, tertangkap, maupun menyerah sehingga posisi pasukan semakin terdesak.

 

Kronologi Penangkapan Pangeran Diponegoro

Pada awal tahun 1830, Belanda menawarkan perundingan damai kepada Diponegoro.

Sebagai seorang bangsawan Jawa yang menjunjung tinggi kehormatan dan etika perundingan, Diponegoro memenuhi undangan tersebut dan datang ke rumah Residen Kedu di Magelang pada 28 Maret 1830.

Namun, di balik undangan damai itu, Belanda telah menyiapkan pasukan untuk menangkapnya.

Bahkan, beberapa hari sebelum pertemuan berlangsung, De Kock telah memerintahkan pasukannya bersiaga apabila Diponegoro datang ke Magelang. Setelah perundingan berlangsung, Diponegoro langsung ditangkap tanpa kesempatan melanjutkan negosiasi.

 

Benarkah Diponegoro Menyerahkan Diri?

Inilah bagian yang sering disalahpahami.

Dalam arsip dan lukisan kolonial Belanda, peristiwa tersebut diberi judul “Penyerahan Pangeran Diponegoro kepada Jenderal De Kock” sehingga seolah-olah Diponegoro mengakui kekalahan dan menyerahkan diri.

Namun, banyak sejarawan Indonesia menilai istilah tersebut merupakan sudut pandang kolonial.

Faktanya, Diponegoro datang untuk menghadiri perundingan damai, bukan untuk menyerahkan diri. Penangkapannya justru dipandang sebagai bentuk pelanggaran terhadap etika diplomasi dan muslihat perang yang dilakukan Belanda.

Pandangan ini juga diperkuat oleh karya pelukis Indonesia Raden Saleh, yang melukiskan peristiwa penangkapan Diponegoro dari perspektif berbeda. Dalam lukisannya, Diponegoro digambarkan berdiri tegak dan penuh martabat, sementara De Kock tampak sebagai pihak yang memanfaatkan tipu daya.

 

Dari Magelang ke Pengasingan

Setelah ditangkap, Diponegoro dibawa ke Semarang, kemudian ke Batavia (Jakarta).

Belanda memutuskan mengasingkannya ke Manado pada tahun 1830 agar tidak lagi memiliki pengaruh terhadap rakyat Jawa.

Beberapa tahun kemudian, ia dipindahkan ke Benteng Rotterdam, Makassar, Sulawesi Selatan.

Di tempat pengasingan itulah Pangeran Diponegoro menghabiskan sisa hidupnya hingga wafat pada 8 Januari 1855 dalam usia sekitar 69 tahun. Makamnya kini berada di kompleks Benteng Rotterdam, Makassar.

 

Warisan Perjuangan Diponegoro

Meskipun Perang Jawa berakhir dengan penangkapan Diponegoro, semangat perjuangannya tidak pernah padam.

Perang Diponegoro menjadi salah satu perang terbesar dalam sejarah kolonial Hindia Belanda sekaligus membangkitkan kesadaran nasional tentang pentingnya melawan penjajahan.

Kini, nama Diponegoro diabadikan menjadi nama jalan utama di berbagai kota, universitas, museum, hingga satuan militer. Pemerintah Indonesia juga menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional karena jasa-jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa.

 

 

Pernyataan bahwa Pangeran Diponegoro menyerahkan diri kepada Belanda perlu dipahami dalam konteks sejarah. Berdasarkan berbagai kajian, Diponegoro datang ke Magelang untuk memenuhi undangan perundingan damai, bukan untuk menyerah. Penangkapannya pada 28 Maret 1830 terjadi setelah Belanda menjalankan strategi tipu muslihat yang mengakhiri Perang Jawa.

Karena itu, banyak sejarawan lebih memilih menyebut peristiwa tersebut sebagai penangkapan Pangeran Diponegoro daripada penyerahan diri. Terlepas dari akhir perjuangannya, keberanian dan pengorbanan Diponegoro tetap dikenang sebagai bagian penting dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonialisme.

 

***

Sumber: BS.

Penulis: Vico Rahman.