Queensha.id – Edukasi Sosial,
Sebuah unggahan yang dibagikan akun Facebook Al Muhajirin Wal Anshar menjadi perhatian warganet. Unggahan tersebut memuat pesan mengenai pentingnya peran ayah dalam tumbuh kembang anak, terutama dalam membangun kesehatan mental dan emosinya sejak dini.
Berikut isi narasi yang tertulis dalam unggahan tersebut:
Peringatan Keras Psikolog Buat Bapak-bapak
1. Jarang peluk dan validasi emosi anak?
Siap-siap, saat dewasa dia rentan depresi, kesepian, dan susah percaya sama orang lain.
2. Sering mengancam meninggalkan anak saat rewel?
Jagoan kita bakal tumbuh jadi anak yang gampang cemas (anxiety) dan selalu merasa tidak aman (insecure).
3. Kadang baik, kadang main tangan?
Ini memicu gangguan dalam regulasi emosi. Anak bisa tumbuh bingung, emosinya mudah meledak, dan kesulitan membangun hubungan yang sehat saat dewasa.
4. Fakta pahitnya:
Kita hanya memiliki waktu dari usia 0 sampai sekitar 18 tahun untuk membangun fondasi pengasuhan yang sehat.
5. Lewat umur 18 tahun?
Karakter seseorang memang semakin terbentuk. Perubahan tetap mungkin terjadi, tetapi biasanya membutuhkan proses yang lebih panjang, usaha yang konsisten, dan dukungan yang tepat.
Unggahan tersebut kemudian mengajak para orang tua, khususnya ayah, untuk lebih menyadari pentingnya kualitas pengasuhan selama masa pertumbuhan anak.
Peran Ayah Tidak Hanya Mencari Nafkah
Dalam psikologi modern, ayah bukan hanya berperan sebagai pencari nafkah. Kehadiran ayah secara emosional juga memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan kepribadian anak.
Psikolog anak Seto Mulyadi (Kak Seto) berulang kali menyampaikan bahwa anak membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Kehadiran ayah yang hangat, mampu mendengarkan, serta memberikan rasa aman akan membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan memiliki kemampuan bersosialisasi yang baik.
Menurut Kak Seto, anak tidak membutuhkan sosok ayah yang sempurna, tetapi ayah yang hadir, mendengarkan, dan memberikan perhatian secara konsisten.
Pentingnya Validasi Emosi Anak
Psikolog klinis Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si. (Nina) menjelaskan bahwa memvalidasi emosi bukan berarti membenarkan semua perilaku anak.
Validasi berarti mengakui bahwa perasaan anak nyata dan layak didengarkan.
Sebagai contoh, ketika anak menangis karena mainannya rusak, orang tua dapat mengatakan:
“Ayah tahu kamu sedih karena mainanmu rusak. Yuk kita cari solusi bersama.”
Respons seperti ini membantu anak belajar mengenali dan mengelola emosinya dengan cara yang sehat.
Sebaliknya, jika anak terus-menerus dimarahi atau dianggap berlebihan, ia bisa belajar memendam emosinya atau kesulitan mengekspresikan perasaan secara sehat.
Ancaman kepada Anak Dapat Menimbulkan Rasa Tidak Aman
Kalimat seperti:
- “Ayah tinggal ya!”
- “Kalau nakal nanti Ayah pergi.”
- “Kamu bukan anak Ayah lagi.”
sering dianggap sebagai cara agar anak menurut.
Padahal, menurut para psikolog, ancaman semacam ini dapat membuat anak merasa kehilangan rasa aman. Anak usia dini belum mampu memahami bahwa kalimat tersebut hanya ancaman sesaat. Ia bisa menganggapnya sebagai kemungkinan yang benar-benar akan terjadi.
Dalam jangka panjang, sebagian anak menjadi lebih cemas atau takut ditinggalkan, sementara yang lain bisa menjadi lebih tertutup atau sulit mempercayai orang lain.
Pola Asuh yang Tidak Konsisten Membingungkan Anak
Unggahan tersebut juga menyoroti pola asuh yang berubah-ubah, misalnya kadang sangat lembut tetapi di lain waktu menggunakan kekerasan.
Psikolog menjelaskan bahwa ketidak konsistenan dalam pengasuhan dapat membuat anak bingung mengenai batasan dan cara merespons situasi. Namun, perlu dipahami bahwa gangguan kepribadian seperti Borderline Personality Disorder (BPD) tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Para ahli menyebutkan bahwa kondisi tersebut merupakan hasil interaksi berbagai faktor, seperti kerentanan biologis, lingkungan, dan pengalaman hidup.
Karena itu, lebih tepat mengatakan bahwa pola asuh yang tidak sehat dapat meningkatkan risiko berbagai masalah emosional, tetapi bukan menjadi penyebab tunggal dari suatu gangguan kepribadian.
Apakah Karakter Anak Berhenti Berkembang Setelah Usia 18 Tahun?
Dalam unggahan disebutkan bahwa setelah usia 18 tahun karakter telah “mengeras”.
Secara psikologi, masa kanak-kanak dan remaja memang merupakan periode yang sangat penting dalam pembentukan karakter. Namun, kepribadian dan perilaku manusia tetap dapat berubah sepanjang hidup melalui pengalaman, pendidikan, lingkungan, hubungan yang sehat, maupun pendampingan profesional jika diperlukan.
Artinya, perubahan tetap mungkin terjadi, meski sering kali membutuhkan waktu dan usaha lebih besar dibandingkan saat masa anak-anak.
Ayah adalah Madrasah Pertama bagi Anak
Dalam pandangan Islam, ayah memiliki amanah besar sebagai pemimpin keluarga.
Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut mengingatkan bahwa mendidik anak bukan hanya memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga membangun karakter, akhlak, serta memberikan rasa aman dan kasih sayang.
Membangun Kedekatan Sejak Dini
Pesan utama dari unggahan ini bukan untuk menyalahkan para ayah, melainkan mengajak melakukan refleksi bahwa kehadiran emosional, komunikasi yang hangat, dan pola asuh yang konsisten merupakan investasi jangka panjang bagi kesehatan mental anak.
Dengan meluangkan waktu untuk bermain, mendengarkan cerita anak, memeluknya ketika sedih, serta mendidik dengan kasih sayang dan batasan yang jelas, ayah dapat membantu membentuk generasi yang lebih percaya diri, tangguh, dan mampu membangun hubungan yang sehat di masa depan.
***
Sumber: Akun Facebook.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan