Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Tren meninggalkan kehidupan kota demi mencari ketenangan di desa semakin diminati. Namun, tidak semua orang benar-benar siap menghadapi realitas sosial yang ada di baliknya.

Hal ini dialami Anjani (32), warga Jakarta yang sempat mencoba tinggal di desa bersama suaminya. Awalnya, ia membayangkan hidup yang lebih tenang, sederhana, dan penuh keakraban. Namun, kenyataan yang dihadapi justru berbeda jauh dari harapan.

Keputusan pindah ke desa bermula dari kejenuhan hidup di Jakarta Pusat yang padat dan penuh tekanan. Situasi pandemi pada 2020 menjadi titik balik, saat pasangan ini memutuskan kembali ke kampung halaman suami di Jawa Tengah.

Di awal kepindahan, suasana hangat khas pedesaan sempat membuat Anjani merasa nyaman. Namun, kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Ia mulai merasakan tekanan sosial yang tidak pernah ia alami selama tinggal di kota.

Budaya bergaul intens di lingkungan desa menjadi tantangan tersendiri. Ketika tidak ikut kegiatan warga, ia mengaku kerap menjadi bahan pembicaraan.

“Sekali tidak ikut kumpul, langsung dianggap tidak mau bergaul,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menyoroti kebiasaan bergosip yang menurutnya cukup kuat. Kehidupan pribadi, termasuk soal keluarga dan ekonomi, kerap menjadi bahan perbincangan di lingkungan sekitar.

Pengalaman tersebut membuatnya merasa kehilangan privasi dan tidak nyaman secara emosional. Ia menilai, ketenangan yang selama ini dibayangkan ternyata tidak sepenuhnya nyata.

Setelah hampir satu tahun bertahan, Anjani akhirnya memutuskan kembali ke Jakarta. Meski kehidupan kota memiliki banyak kekurangan, ia merasa lebih bebas dan tidak tertekan secara sosial.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa pindah ke desa bukan hanya soal mencari ketenangan, tetapi juga kesiapan menghadapi budaya dan dinamika sosial yang berbeda.

 

***
(Queensha Jepara, 11 April 2026)