Queensha.id – Jepara,

 

Selama ini, Kabupaten Jepara dikenal luas sebagai kota ukir yang mendunia. Namun di balik reputasi itu, tersimpan kisah inspiratif dari seorang pengrajin bambu yang berhasil menembus pasar internasional secara mandiri.

Dialah Hesti Prasetya (40), warga Desa Bandengan, Kecamatan Jepara. Selain berprofesi sebagai guru seni musik di SMPN 6 Jepara, ia juga dikenal sebagai kreator kerajinan bambu dengan brand “Carang Pakang” yang telah dirintis sejak 2014.

Perjalanan Prasetya tak dimulai dari kemapanan, melainkan dari kegagalan. Saat menempuh pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada 2009, ia sempat mengalami penolakan berulang terhadap proposal skripsinya.

Di tengah kebuntuan itu, sebuah informasi mengubah arah hidupnya. Ia mendengar tentang alat musik tradisional Krumpyung di Kulonprogo yang hampir punah. Tanpa ragu, ia mendatangi lokasi dan bertemu dengan seorang perajin senior, Mbah Sumitro.

Namun izin penelitian tidak datang cuma-cuma. Prasetya diminta tak sekadar meneliti, tetapi juga ikut melestarikan dan memproduksi alat musik tersebut.

Tantangan itu diterima. Dari situlah, perjalanan panjangnya sebagai pengrajin bambu dimulai.

Berbekal ilmu dari sang maestro, Prasetya mulai memproduksi alat musik bambu secara mandiri pada 2014. Awalnya hanya untuk kebutuhan pribadi. Namun setahun berselang, pesanan mulai berdatangan.

Sejak 2016, usahanya berkembang pesat. Produk yang dihasilkan tak lagi sebatas alat musik, tetapi merambah ke berbagai kerajinan seperti kursi, meja, pendapa, kap lampu, gelas bambu, hingga perlengkapan tradisional seperti egrang dan kentongan.

Untuk alat musik, Prasetya menciptakan berbagai inovasi dalam satu paket bernama “Almubam” yaitu singkatan dari alat musik bambu. Di dalamnya terdapat saron bambu, chord bambu, bass bambu, gambang, celo, hingga calung gantung.

Pasarnya pun meluas. Produk buatannya telah dipesan oleh guru seni dari berbagai daerah seperti Pati, Demak, Yogyakarta, hingga Kepulauan Bangka Belitung.

 

Bahkan, sebagian produknya telah menembus pasar luar negeri.
Harga produknya bervariasi, mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah, tergantung jenis dan tingkat kerumitan.

Menariknya, di tengah pencapaian tersebut, Prasetya mengaku tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah. Seluruh usaha dirintis secara mandiri, mulai dari mencari bahan baku hingga pemasaran.

“Dulu cari bambu sendiri di sekitar rumah. Sekarang lebih sering beli karena kebutuhan produksi meningkat,” ungkapnya.

Kini, bagi masyarakat yang ingin memiliki kerajinan bambu karyanya, bisa memesan melalui media sosial atau langsung datang ke kediamannya di Desa Bandengan.

Kisah Prasetya menjadi bukti bahwa kreativitas, ketekunan, dan keberanian mengambil peluang mampu membawa produk lokal menembus pasar global—bahkan tanpa sokongan fasilitas pemerintah sekalipun.

 

***