Queensha.id – Jepara,
Langkah berbeda ditempuh PT Samwon Busana Indonesia pada dua fasilitas produksinya di Jawa Tengah. Saat Unit Jepara dijadwalkan menghentikan operasional mulai 1 Agustus 2026, Unit Semarang justru melakukan ekspansi dengan menambah daya listrik hingga 56 persen untuk meningkatkan kapasitas produksi.
Perbedaan kondisi tersebut sempat memunculkan spekulasi bahwa perusahaan garmen asal Korea Selatan itu akan meninggalkan Indonesia. Namun, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan bahwa kabar tersebut tidak benar.
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif, menyampaikan bahwa PT Samwon Busana Indonesia masih berkomitmen menjalankan usahanya di Indonesia. Penghentian operasional hanya dilakukan pada Unit Jepara sebagai bagian dari restrukturisasi internal perusahaan.
“Badan usaha PT Samwon Busana Indonesia tidak keluar dari Indonesia, melainkan sedang melakukan restrukturisasi operasional pada Unit Jepara. Meski demikian, nasib sekitar 670 pekerja terdampak di Jepara tetap menjadi prioritas perhatian kami,” ujar Febri dalam keterangan resminya di Jakarta.
Unit Semarang Dipersiapkan Tingkatkan Produksi
Di tengah penataan ulang operasional Unit Jepara, fasilitas produksi PT Samwon di Semarang justru menunjukkan aktivitas yang semakin meningkat.
Pada 16 Juli 2026, perusahaan merealisasikan penambahan daya listrik sebesar 56 persen, yang dinilai menjadi indikasi kuat bahwa Unit Semarang dipersiapkan untuk meningkatkan kapasitas produksi guna memenuhi permintaan ekspor, khususnya dari pasar internasional.
Langkah tersebut sekaligus menegaskan bahwa perusahaan masih mempertahankan kegiatan manufakturnya di Indonesia, meski melakukan efisiensi pada salah satu unit produksi.
Kemenperin Siapkan Lima Langkah Mitigasi
Selain memastikan keberlangsungan investasi, Kemenperin juga memprioritaskan perlindungan terhadap sekitar 670 pekerja yang terdampak restrukturisasi di Unit Jepara.
Pemerintah telah menyiapkan lima langkah mitigasi, yaitu:
- Evaluasi kerugian dan pengalihan aset, termasuk meminta penjelasan manajemen mengenai penyebab kerugian serta rencana pemindahan mesin dan pesanan produksi ke Semarang.
- Pengawasan hak pekerja, melalui koordinasi dengan Kementerian Ketenagakerjaan dan Dinas Tenaga Kerja agar pesangon serta seluruh hak normatif pekerja dibayarkan sesuai ketentuan.
- Program re-skilling dan re-employment, bekerja sama dengan BPSDMI, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), APINDO, serta perusahaan garmen di Jawa Tengah guna membuka peluang kerja baru bagi para pekerja terdampak.
- Menjaga kepercayaan investor Korea Selatan, melalui komunikasi dengan kantor pusat grup perusahaan agar komitmen investasi di Indonesia tetap berlanjut.
- Mengamankan pasar ekspor Amerika Serikat, dengan menjalin komunikasi bersama para pembeli (buyer) agar pesanan pakaian jadi tetap diproduksi di fasilitas manufaktur Indonesia.
Dampak terhadap Industri Garmen Jepara
Penutupan operasional Unit Jepara menjadi perhatian karena sektor garmen merupakan salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di wilayah tersebut. Kehilangan ratusan lapangan pekerjaan berpotensi memengaruhi kondisi ekonomi keluarga pekerja maupun aktivitas usaha pendukung di sekitar kawasan industri.
Meski demikian, pemerintah berharap restrukturisasi ini tidak menjadi awal hengkangnya investasi asing dari Indonesia. Dengan tetap beroperasinya Unit Semarang dan meningkatnya kapasitas produksi di sana, PT Samwon Busana Indonesia dinilai masih memiliki prospek untuk mempertahankan kontribusinya terhadap industri tekstil dan produk tekstil nasional.
Restrukturisasi yang dilakukan PT Samwon Busana Indonesia menunjukkan adanya penyesuaian strategi bisnis, bukan penutupan seluruh kegiatan usaha di Indonesia. Di satu sisi, Unit Jepara harus menghentikan operasional yang berdampak pada sekitar 670 pekerja. Di sisi lain, Unit Semarang justru diperkuat untuk menopang produksi dan menjaga keberlanjutan ekspor.
Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian bersama kementerian dan lembaga terkait menyatakan akan terus mengawal pemenuhan hak pekerja sekaligus menjaga iklim investasi agar industri manufaktur nasional tetap kompetitif di tengah tantangan ekonomi global.
***
Sumber: SJ.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan