Queensha.id – Jepara,

 

Kasus dugaan keracunan massal menimpa ratusan siswa dan guru di Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Para korban dilaporkan mengalami gangguan pencernaan akut setelah mengonsumsi paket Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan pada Senin (7/9/2025).

Program MBG tersebut diproduksi oleh Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Jepara Mlonggo Sekuro 01 milik Yayasan Persyarikatan Muhammadiyah Mlonggo.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jepara, Hadi Sarwoko, membenarkan adanya laporan tersebut. Menurutnya, Dinkes menerima laporan resmi dari Deputi Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional pada Rabu (9/9/2025), kemudian langsung melakukan penanganan dan investigasi.

 

Kronologi Dugaan Keracunan

Peristiwa bermula setelah ribuan paket MBG dibagikan kepada siswa dan tenaga pendidik di sejumlah sekolah pada Senin (7/9/2025).

Keesokan harinya, Selasa (8/9/2025) sekitar pukul 07.45 WIB, sejumlah siswa mulai mengeluhkan sakit perut, diare, mual, dan gangguan pencernaan yang muncul sejak malam hari setelah mengonsumsi makanan tersebut.

Mendapat laporan tersebut, pihak SPPG bersama Dinas Kesehatan segera melakukan pemeriksaan ke 11 sekolah penerima manfaat program MBG.

Hasil penelusuran menemukan adanya gangguan pencernaan massal di tiga sekolah.

“Total ada 118 siswa dan guru yang mengalami gejala gangguan pencernaan dan diare,” ujar Hadi Sarwoko.

Rincian Korban

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, jumlah korban berasal dari tiga sekolah, yaitu:

  • SMK Nawakartika: 33 siswa dan 4 guru.
  • MA Nawakartika: 13 siswa.
  • SD Negeri 1 Srobyong: 60 siswa dan 8 guru.

Secara keseluruhan terdapat 118 orang yang mengalami gejala gangguan pencernaan.

Meski demikian, seluruh korban hanya mengalami gejala ringan hingga sedang sehingga tidak memerlukan perawatan inap di rumah sakit maupun Puskesmas.

 

Menu MBG yang Dikonsumsi

Menu Makan Bergizi Gratis yang dikonsumsi para siswa terdiri atas:

  • Nasi putih.
  • Ayam bakar taliwang.
  • Sambal terasi.
  • Saus tomat saset.
  • Tahu goreng.
  • Lalapan timun dan kemangi.

Pada hari tersebut, SPPG mendistribusikan sekitar 1.650 paket makanan, terdiri dari:

  • 1.374 porsi untuk siswa.
  • 276 porsi untuk guru dan tenaga kependidikan.

Distribusi makanan dilakukan sekitar pukul 10.00 hingga 10.15 WIB ke sekolah-sekolah penerima manfaat.

 

Dinkes Temukan Sejumlah Catatan

Tim Dinas Kesehatan langsung melakukan inspeksi terhadap dapur produksi SPPG Muhammadiyah Mlonggo.

Secara umum, proses produksi dinilai telah mengikuti Standar Operasional Prosedur (SOP). Namun demikian, petugas menemukan beberapa catatan penting yang berpotensi meningkatkan risiko kontaminasi.

Salah satunya adalah tata letak area loading in dan loading out yang masih menyatu sehingga berpotensi menimbulkan kontaminasi silang selama proses distribusi makanan.

Selain itu, hasil pemeriksaan awal juga menemukan dugaan penggunaan air yang belum memenuhi standar keamanan pangan.

 

Dugaan Penyebab Masih Didalami

Menurut Hadi Sarwoko, dugaan sementara penyebab gangguan pencernaan berasal dari kualitas air dan sebagian bahan makanan yang digunakan saat proses produksi.

Dinkes menduga air yang dipakai berasal dari air keran dan bukan air minum yang memenuhi standar keamanan pangan.

Selain itu, sebagian telur yang digunakan juga ditemukan memiliki kualitas yang kurang baik.

Meski demikian, Dinas Kesehatan menegaskan bahwa penyebab pasti dugaan keracunan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang telah dikirim untuk diuji.

 

Investigasi Terus Berlanjut

Pemerintah Kabupaten Jepara bersama Dinas Kesehatan, Badan Gizi Nasional, dan pihak penyelenggara MBG akan terus melakukan investigasi secara menyeluruh untuk memastikan penyebab insiden tersebut.

Hasil uji laboratorium nantinya akan menjadi dasar dalam menentukan sumber kontaminasi sekaligus menjadi bahan evaluasi agar pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis ke depan semakin aman, higienis, dan memenuhi standar keamanan pangan.

Pemerintah juga diharapkan memperketat pengawasan terhadap kualitas bahan baku, sanitasi dapur, pengolahan makanan, hingga distribusi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi dan kepercayaan masyarakat terhadap program pemenuhan gizi bagi peserta didik tetap terjaga.

 

***

Sumber: BS.