Queensha.id – Jepara,
Kabar membanggakan datang dari dunia seni rupa. Seniman asli Kabupaten Jepara, Budi Karya, berhasil terpilih menjadi satu-satunya wakil Jepara dalam proyek seni kolosal bertaraf nasional hingga internasional bertajuk “Lukisan Garam (meneruskan) Nasirun”.
Karya besar tersebut diproyeksikan menjadi Lukisan Garam Terbesar di Dunia, dengan melibatkan seniman dari berbagai daerah di Indonesia serta seniman-petani garam Desa Dasun, Lasem, Kabupaten Rembang.
Prestasi Budi Karya menjadi bukti bahwa seniman Jepara mampu membawa nama daerah ke panggung nasional melalui kreativitas, dedikasi, dan karya seni.
Budi Karya Bawa Nama Jepara di Antara Seniman Nasional
Sebanyak 10 seniman dari berbagai daerah di Indonesia terpilih melalui proses open call yang cukup ketat untuk mengikuti proyek seni tersebut.
Puluhan portofolio dari berbagai latar belakang masuk, mulai dari komunitas seni akar rumput, akademisi, hingga seniman yang telah memiliki pengalaman dalam berbagai kegiatan seni nasional maupun internasional.
Dalam daftar seniman terpilih tersebut, nama Budi Karya dari Jepara berdiri sejajar dengan seniman dari Yogyakarta, Jakarta, Jatiwangi, Kediri, Pati, dan daerah lainnya.
Adapun 10 seniman yang terpilih yaitu:
- Tri Wahyudi (Yogyakarta)
- Putut Pasopati (Pati)
- Prabowo Setyadi (Jatiwangi)
- Budi Karya (Jepara)
- Aqilur Rachman Abdul Charizs (Jakarta)
- Dwiki Naufal Ilham (Lasem)
- Sonia Prabowo (Yogyakarta)
- Munna Laili Hidayana (Kediri)
- Kharisma Widya Kartika (Rembang)
- Andita Purnamasari (Yogyakarta)
Mereka nantinya akan berkolaborasi bersama seniman-petani garam Desa Dasun, yakni Tri Murti, Mulyono, Arif Yulianto, M. Sholeh, Suparlan, Mariyadi, Suparno, Agung, Anas Kristiawan, dan Rohmadi.
Residensi Seni Belajar Tradisi Garam Lasem
Proses penciptaan karya akan berlangsung melalui kegiatan residensi selama empat hari, mulai 14 hingga 17 Oktober 2026.
Para seniman akan tinggal bersama masyarakat Desa Dasun, Lasem, Rembang, untuk mempelajari langsung kehidupan masyarakat pesisir, sejarah garam Lasem, proses produksi garam dari tambak hingga meja makan, serta nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Memetri Kawitane Uyah”, yang memiliki makna menghormati asal-usul dan perjalanan garam sebagai bagian dari kehidupan masyarakat pesisir.
Meneruskan Gagasan Maestro Seni Rupa Nasirun
Proyek seni ini juga menjadi upaya meneruskan gagasan maestro seni rupa Indonesia, Nasirun, yang sebelumnya telah memiliki gagasan untuk membuat karya bersama petani garam Dasun.
Setelah Nasirun berpulang pada 1 Agustus 2026, gagasan tersebut kemudian diteruskan melalui kolaborasi para seniman terpilih bersama masyarakat petani garam.
Karya ini tidak hanya menghadirkan nilai estetika, tetapi juga mengangkat cerita tentang budaya, tradisi, kerja keras masyarakat pesisir, dan hubungan manusia dengan alam.
Jepara Bangga dengan Perjalanan Budi Karya
Keberhasilan Budi Karya menjadi representasi bahwa seniman daerah memiliki kemampuan untuk bersaing di tingkat nasional.
Dari Kota Ukir Jepara, seorang seniman mampu membawa identitas daerah melalui karya seni yang memiliki nilai budaya tinggi.
Perjalanan Budi Karya juga menjadi pengingat bahwa perkembangan seni tidak hanya lahir dari panggung besar, tetapi juga dari ketekunan para seniman yang terus berkarya.
Masyarakat Jepara patut memberikan apresiasi atas pencapaian tersebut. Kehadiran Budi Karya dalam proyek Lukisan Garam Terbesar di Dunia menjadi kebanggaan tersendiri bagi dunia seni Jepara.
Proses kegiatan tersebut dapat disaksikan masyarakat pada 14–17 Oktober 2026 di Tambak Desa Dasun, Lasem, Rembang, Jawa Tengah.
Selamat untuk Budi Karya. Jepara bangga memiliki seniman yang membawa nama Kota Ukir ke panggung nasional.
***
Sumber: YAA.

Tinggalkan Balasan