Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Momen Idul Fitri identik dengan silaturahmi, saling memaafkan, dan mempererat hubungan. Namun di balik hangatnya kunjungan dari rumah ke rumah, tak jarang terselip sikap yang justru merusak makna hari raya: kesombongan.

Fenomena ini kerap muncul dalam berbagai bentuk yang merasa lebih kaya, lebih sukses, lebih rapi dalam penampilan, hingga tanpa sadar merendahkan orang lain. Sikap ini sering kali tidak diucapkan secara langsung, tetapi tampak dari gestur, cara berbicara, hingga cara memandang orang lain.

Dalam perspektif Islam, kesombongan (takabur) termasuk penyakit hati yang berbahaya. Ia bisa menghapus nilai ibadah dan merusak hubungan sosial, terlebih di momen sakral seperti Lebaran.

Ciri-Ciri Kesombongan yang Sering Muncul Saat Lebaran

Beberapa tanda yang kerap terlihat di tengah silaturahmi antara lain:

– Merasa paling berhasil dan gemar membandingkan diri dengan orang lain.

– Suka memamerkan harta, jabatan, atau penampilan.

– Berbicara dengan nada merendahkan atau menyindir.

– Enggan menyapa lebih dulu karena merasa “lebih tinggi”.

– Menilai orang lain dari pakaian atau status sosial.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, KH Miftachul Akhyar, dalam berbagai kesempatan mengingatkan bahwa kesombongan sering kali tidak disadari oleh pelakunya.

“Orang yang sombong biasanya merasa dirinya paling benar dan sulit menerima orang lain,” menjadi pesan yang kerap disampaikan dalam kajian keislaman.
Ulama kharismatik dari Nahdlatul Ulama, KH Maimun Zubair (alm), juga pernah menegaskan bahwa kesombongan adalah penghalang terbesar dalam menjaga ukhuwah (persaudaraan).

Menurutnya, sikap merendahkan orang lain justru menunjukkan kelemahan hati, bukan kelebihan diri.

Sementara itu, Ketua Umum Muhammadiyah, KH Haedar Nashir, menekankan bahwa kesuksesan sejati tidak diukur dari apa yang ditampilkan, melainkan dari kerendahan hati dan manfaat bagi sesama.

Ia mengingatkan bahwa budaya pamer dan merasa lebih unggul dapat merusak nilai keikhlasan dalam beribadah dan bersosial.

Fenomena “sombong saat Lebaran” ini menjadi ironi. Di saat semua orang seharusnya kembali ke fitrah—bersih, rendah hati, dan saling memaafkan—justru ada yang terjebak dalam ego dan gengsi.

Padahal, inti dari Idul Fitri bukanlah menunjukkan siapa yang paling hebat, tetapi siapa yang paling mampu menundukkan egonya.

Ulama sepakat, kunci menghindari kesombongan adalah dengan memperbanyak introspeksi diri, mensyukuri nikmat tanpa berlebihan, serta menyadari bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan.

Di tengah kemeriahan hari raya, menjaga hati tetap rendah justru menjadi ibadah yang paling sulit namun juga paling bernilai.

Sebab pada akhirnya, bukan pakaian mewah atau status sosial yang menentukan kemuliaan seseorang, melainkan ketulusan dan kerendahan hatinya.

 

***