Queensha.id – Jepara,
Tekanan warga akhirnya membuahkan hasil. Setelah berulang kali melakukan aksi protes, masyarakat Desa Ngetuk, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara berhasil mendorong penutupan sejumlah kandang ayam broiler ilegal yang selama ini dikeluhkan mencemari lingkungan.
Sedikitnya tujuh titik kandang ayam dilaporkan menjadi sumber utama masalah. Warga mengaku setiap hari harus menghadapi bau menyengat serta serbuan lalat yang mengganggu aktivitas dan berpotensi membahayakan kesehatan.
Dalam aksi demonstrasi, warga membawa spanduk bertuliskan,
“Tutup Kandang Ayam Ilegal di Desa Ngetuk Tanpa Tebang Pilih, Kami Butuh Lingkungan yang Sehat dan Nyaman.”
Orasi demi orasi disampaikan sebagai bentuk kekecewaan atas lambannya penanganan, meski sebelumnya berbagai dinas terkait dan aparat Polsek Nalumsari disebut telah turun ke lokasi.
Agus, salah satu warga sekitar, menegaskan bahwa tuntutan mereka tidak bisa ditunda lagi.
“Kami sudah terlalu lama hidup dalam kondisi seperti ini. Bau menyengat masuk ke rumah setiap hari, lalat ada di mana-mana. Ini soal kesehatan. Kami minta kandang ayam ilegal ini ditutup secepatnya tanpa alasan apa pun,” ujarnya, Senin (6/4).

Akhirnya, di bawah tekanan massa, perangkat Desa Ngetuk turun langsung dan melakukan penutupan terhadap kandang ayam yang tidak memiliki izin tersebut. Penutupan ditandai dengan pemasangan spanduk besar bertuliskan,
“Ditutup, Tempat Usaha Tidak Berizin.”
Petinggi Desa Ngetuk, Farullidayano, saat dikonfirmasi pada Senin (6/4/2026), menyatakan bahwa langkah penutupan tersebut sebenarnya sudah menjadi kesepakatan bersama sebelumnya.
“Saya selaku pemdes setuju, bahkan itu sudah kami sepakati pada waktu pertemuan hari Kamis setelah Lebaran. Pengusaha juga siap tidak beroperasi sebelum punya izin dan memenuhi syarat ketentuan dari dinas terkait. Kecuali yang masih ada umur 10 hari pada waktu itu agar ditoleransi sampai panen, satu kandang,” tuturnya.
Warga berharap langkah ini menjadi awal dari penegakan aturan yang lebih tegas dan konsisten, agar kejadian serupa tidak kembali terulang di kemudian hari.
***
Wartawan: Agus AP.
(Queensha Jepara | 6 April 2026)

Tinggalkan Balasan