Queensha.id – Jepara,
Di balik kesederhanaannya, lepet ternyata menyimpan jejak sejarah panjang yang tak lepas dari peran dakwah Islam di tanah Jawa. Panganan berbahan dasar ketan yang dibungkus janur ini diyakini diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga pada abad ke-15 hingga ke-16, khususnya di wilayah Demak.
Lepet bukan sekadar makanan tradisional yang sering hadir saat Lebaran, tetapi juga sarat nilai filosofi. Dalam tradisi masyarakat Jawa, lepet biasanya disandingkan dengan ketupat dalam perayaan Syawalan atau Lebaran Ketupat merupakan sebuah simbol penyucian diri setelah Ramadan.
Secara etimologi, nama “lepet” berasal dari ungkapan Jawa “silep kang rapet”, yang berarti menyimpan atau menutup rapat. Filosofi ini dimaknai sebagai ajakan untuk mengubur kesalahan, tidak mengungkit aib, serta menjaga keharmonisan hubungan sosial.
Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menyebut bahwa lepet adalah bentuk komunikasi budaya yang cerdas dari para Walisongo.
“Lepet bukan sekadar makanan, tetapi simbol rekonsiliasi sosial. Ketan yang lengket melambangkan eratnya persaudaraan, sementara janur mencerminkan jatining nur atau cahaya sejati dalam kehidupan manusia,” ujarnya.
Bentuk lepet yang diikat rapat menyerupai jenazah juga memiliki makna mendalam. Biasanya diikat dengan tiga tali, yang melambangkan bahwa kesalahan harus “dikubur” agar tidak berkembang menjadi konflik atau dendam di kemudian hari.
Di tengah modernisasi, lepet tetap bertahan sebagai warisan kuliner sekaligus simbol budaya yang hidup. Bahkan kini, lepet tidak hanya hadir saat perayaan tradisional, tetapi juga menjadi teman santai yang cocok dinikmati saat ngopi hingga menghadirkan rasa legit sekaligus nostalgia akan kearifan lokal.
Keberadaan lepet membuktikan bahwa kuliner tradisional bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang nilai, sejarah, dan identitas. Dari tangan Sunan Kalijaga, lepet menjelma menjadi medium dakwah yang lembut dan mengikat rasa, budaya, dan persaudaraan dalam satu balutan janur.
***
(27 Maret 2026)

Tinggalkan Balasan