Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Sebuah unggahan yang beredar di media sosial TikTok akun @Lambewedok kembali menarik perhatian warganet. Dalam unggahan tersebut terdapat pesan yang mengajak masyarakat untuk tidak mudah mengomentari kehidupan orang lain maupun mencampuri urusan yang bukan menjadi tanggung jawabnya.

Isi pesan tersebut berbunyi:

“Biasakan buat gak gampang ngomentarin hidup orang lain dan gak ikut campur sama hal yang memang bukan urusan kita. Karena tiap orang punya cara hidup, pilihan, dan masalahnya masing-masing yang belum tentu kita mengerti sepenuhnya.”

Unggahan itu juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah menyimpulkan seseorang hanya dari apa yang terlihat di permukaan, sebab kenyataan yang sebenarnya bisa saja berbeda.

Pesan tersebut mendapat beragam tanggapan. Banyak warganet menilai nasihat itu relevan dengan kondisi media sosial saat ini, di mana seseorang kerap menjadi sasaran komentar, cibiran, hingga penilaian tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya.

Islam Mengajarkan Menjaga Lisan dan Prasangka

Dalam ajaran Islam, menjaga lisan merupakan salah satu akhlak mulia yang sangat ditekankan. Umat Islam diperintahkan untuk berhati-hati dalam berbicara, menulis, maupun berkomentar, termasuk di media sosial.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 12 agar orang-orang beriman menjauhi banyak prasangka, tidak mencari-cari kesalahan orang lain, dan tidak menggunjing (ghibah), karena perbuatan tersebut diibaratkan seperti memakan daging saudaranya sendiri yang telah meninggal.

Ayat ini menjadi dasar penting bahwa seorang Muslim hendaknya tidak mudah berburuk sangka (suuzan), apalagi menyebarkan komentar yang belum jelas kebenarannya.

Rasulullah SAW Menganjurkan Berkata Baik atau Diam

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut mengajarkan bahwa setiap ucapan memiliki konsekuensi. Bila sebuah komentar tidak membawa manfaat, lebih baik ditahan daripada berpotensi melukai hati orang lain.

Ulama: Jangan Mudah Menghakimi

Banyak ulama menjelaskan bahwa manusia hanya mampu melihat apa yang tampak di luar. Adapun isi hati, niat, dan kondisi seseorang hanya diketahui oleh Allah SWT.

Karena itu, para ulama mengingatkan agar umat Islam tidak mudah menghakimi seseorang berdasarkan potongan cerita, foto, video, atau unggahan di media sosial.

Imam Asy-Syafi’i pernah mengajarkan pentingnya husnuzan (berbaik sangka). Jika sebuah ucapan masih memungkinkan dimaknai dengan kebaikan, maka hendaknya memilih penafsiran yang baik daripada langsung berprasangka buruk.

Media Sosial Harus Menjadi Sarana Menebar Kebaikan

Perkembangan media sosial memang memberikan kebebasan kepada siapa saja untuk menyampaikan pendapat. Namun, kebebasan tersebut tetap harus disertai tanggung jawab moral dan etika.

Tidak semua persoalan pribadi layak menjadi konsumsi publik. Begitu pula tidak semua unggahan harus dikomentari. Sikap bijak dalam menggunakan media sosial merupakan bagian dari akhlak seorang Muslim.

Memberikan nasihat dengan cara yang santun, menjaga kehormatan sesama, serta menghindari ghibah dan fitnah merupakan bentuk nyata dari ajaran Islam yang mengedepankan kasih sayang dan persaudaraan.

Jadikan Media Sosial sebagai Ladang Amal

Unggahan viral tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan setiap orang memiliki ujian yang berbeda-beda. Apa yang tampak di permukaan belum tentu menggambarkan keadaan sebenarnya.

Islam mengajarkan umatnya untuk lebih banyak melakukan introspeksi daripada sibuk mencari kesalahan orang lain. Dengan menjaga lisan, menghindari prasangka buruk, dan menghormati privasi sesama, masyarakat dapat menciptakan lingkungan, baik di dunia nyata maupun di media sosial, yang lebih damai, beradab, dan penuh empati.

Pada akhirnya, setiap perkataan dan tulisan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Karena itu, sebelum berkomentar, hendaknya setiap Muslim bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ucapan ini membawa manfaat, atau justru menyakiti orang lain?

 

***

Sumber: Akun TikTok.

Penulis: Vico Rahman.