Queensha.id – Edukasi Islam,

 

Di era modern, kesibukan sering dianggap sebagai simbol kesuksesan. Jadwal yang padat, pekerjaan yang menumpuk, notifikasi ponsel yang tak henti berbunyi, hingga berbagai target hidup sering membuat seseorang merasa produktif. Namun, Islam mengingatkan bahwa di balik kesibukan tersebut terdapat potensi kelalaian yang dapat menjauhkan seorang hamba dari Allah SWT.

Para ulama menjelaskan bahwa setan tidak selalu menggoda manusia melalui dosa-dosa besar. Dalam banyak keadaan, godaan justru hadir dalam bentuk yang tampak baik, tetapi perlahan membuat seseorang kehilangan waktu untuk beribadah dan mengingat Allah.

 

Strategi Setan yang Diabadikan dalam Al-Qur’an

Allah SWT mengabadikan tekad iblis dalam Al-Qur’an:

“Kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.”
(QS. Al-A’raf: 17)

Ayat ini dipahami oleh banyak ulama tafsir sebagai gambaran bahwa setan akan menggunakan berbagai cara untuk menyesatkan manusia. Godaan tidak selalu berupa ajakan melakukan maksiat secara terang-terangan, tetapi juga dapat berupa hal-hal yang membuat seseorang lalai dari kewajibannya kepada Allah.

 

Kesibukan yang Melalaikan

Dalam QS. At-Takatsur ayat 1–2, Allah berfirman:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”

Menurut para mufasir, ayat ini mengingatkan manusia agar tidak terlena dalam perlombaan mengejar dunia hingga melupakan kehidupan akhirat.

Perlombaan itu bisa berbentuk mengejar harta, jabatan, popularitas, pengikut di media sosial, maupun kesibukan yang terus bertambah tanpa menyisakan waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Islam tidak melarang umatnya bekerja keras atau meraih prestasi. Namun, yang dilarang adalah ketika seluruh perhatian tertuju pada urusan dunia sehingga ibadah menjadi nomor sekian.

 

Pandangan Ulama tentang Kesibukan

menjelaskan bahwa salah satu tipu daya setan adalah menyibukkan manusia dengan perkara yang kurang bermanfaat sehingga kehilangan kesempatan melakukan amal yang lebih utama.

Sementara dalam berbagai karyanya mengingatkan pentingnya muhasabah atau introspeksi diri. Menurutnya, hati yang terus dipenuhi urusan dunia tanpa diselingi zikir dan ibadah akan menjadi keras dan mudah lalai.

Adapun menegaskan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan (wasathiyah), yaitu bekerja untuk kehidupan dunia tanpa mengabaikan bekal akhirat.

 

Produktif Boleh, Lalai Jangan

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang bisa saja merasa sangat produktif, tetapi secara spiritual justru mengalami kemunduran.

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Shalat mulai dikerjakan terburu-buru.
  • Tilawah Al-Qur’an semakin jarang dilakukan.
  • Doa hanya dipanjatkan ketika sedang memiliki kebutuhan.
  • Tidak lagi menyempatkan waktu untuk berzikir atau bermuhasabah.
  • Selalu berkata, “Nanti kalau sudah tidak sibuk.”

Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, seseorang berisiko kehilangan kedekatan dengan Allah tanpa benar-benar menyadarinya.

 

Dunia Adalah Ujian

Allah SWT juga berfirman:

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
(QS. Ali Imran: 185)

Sementara dalam QS. Al-Hadid ayat 20, Allah mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga, dan berlomba memperbanyak harta maupun keturunan.

Ayat-ayat tersebut bukan melarang manusia mencari rezeki atau berkarya, melainkan mengingatkan agar dunia tidak menjadi tujuan utama yang mengalahkan orientasi akhirat.

 

Menjaga Keseimbangan Hidup

Islam mengajarkan bahwa bekerja mencari nafkah, menuntut ilmu, maupun membangun usaha merupakan ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan tidak melalaikan kewajiban kepada Allah.

Karena itu, para ulama menganjurkan agar setiap Muslim senantiasa menjaga keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Kesibukan hendaknya tidak menghilangkan waktu untuk shalat tepat waktu, membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, dan melakukan muhasabah.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu direnungkan setiap Muslim bukanlah seberapa sibuk dirinya, melainkan apakah seluruh kesibukan tersebut benar-benar mendekatkannya kepada Allah SWT atau justru tanpa disadari menjauhkannya dari tujuan hidup yang sesungguhnya.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.