Queensha.id – Edukasi Sosial,
Perdebatan mengenai suami yang diam-diam mengirim uang kepada ibunya tanpa sepengetahuan istri kembali menjadi perbincangan di media sosial. Banyak yang menilai tindakan tersebut dapat memicu konflik rumah tangga, bukan semata karena uang yang diberikan, melainkan karena tidak adanya keterbukaan antara pasangan.
Dalam sebuah narasi yang beredar, seorang istri mengetahui suaminya rutin mengirim uang kepada ibu kandungnya setelah adik iparnya tanpa sengaja menceritakan hal tersebut. Sang istri pun merasa kecewa karena selama ini tidak pernah diajak berdiskusi mengenai kondisi keuangan keluarga maupun bantuan kepada orang tua.
Lantas, bagaimana pandangan Islam mengenai persoalan ini?
Berbakti kepada Orang Tua adalah Kewajiban
Dalam Islam, berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain) merupakan kewajiban yang sangat dianjurkan. Seorang anak, termasuk setelah menikah, tetap memiliki kewajiban menghormati dan membantu orang tuanya, terutama jika mereka membutuhkan bantuan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 23 agar manusia berbuat baik kepada kedua orang tua dan tidak berkata kasar kepada mereka.
Karena itu, apabila seorang suami memiliki kemampuan finansial, membantu ibu atau ayahnya merupakan amal yang berpahala, terlebih jika orang tuanya berada dalam kondisi kekurangan.
Namun, Hak Istri dan Keluarga Tidak Boleh Diabaikan
Meski demikian, para ulama menjelaskan bahwa seorang suami juga memiliki kewajiban utama untuk menafkahi istri dan anak-anaknya.
Apabila kondisi ekonomi keluarga sedang sulit, maka kebutuhan istri dan anak menjadi prioritas. Memberikan bantuan kepada orang tua tetap dianjurkan, tetapi jangan sampai mengurangi nafkah wajib yang menjadi hak keluarga inti.
Islam mengajarkan keseimbangan antara berbakti kepada orang tua dan menunaikan tanggung jawab sebagai kepala keluarga.
Perlukah Memberi Tahu Istri?
Dalam fikih, harta yang diperoleh suami pada dasarnya merupakan hak suami. Selama digunakan untuk hal yang halal dan tidak menelantarkan kewajiban nafkah, suami memiliki hak mengelolanya.
Namun, para ulama juga menekankan pentingnya musyawarah, keterbukaan, dan menjaga keharmonisan rumah tangga.
Rasulullah SAW mengajarkan agar suami memperlakukan istri dengan baik (mu’asyarah bil ma’ruf). Salah satu bentuknya adalah membangun komunikasi yang jujur, terutama dalam urusan yang berkaitan dengan kondisi ekonomi keluarga.
Dengan keterbukaan, istri tidak akan merasa dibohongi atau dikesampingkan. Bahkan tidak sedikit istri yang justru mendukung suami membantu orang tuanya apabila dilakukan dengan cara yang baik dan sesuai kemampuan.
Mengapa Istri Bisa Merasa Kecewa?
Dalam banyak kasus, yang melukai hati pasangan bukanlah nominal uang yang diberikan, melainkan hilangnya rasa saling percaya.
Ketika istri mengetahui adanya pengeluaran yang disembunyikan, muncul anggapan bahwa dirinya tidak dianggap sebagai partner dalam rumah tangga. Hal inilah yang sering menjadi sumber pertengkaran.
Karena itu, komunikasi menjadi kunci agar tidak terjadi prasangka dan kesalahpahaman.
Pandangan Ulama
Mayoritas ulama menjelaskan bahwa membantu orang tua merupakan perbuatan mulia, bahkan bisa menjadi kewajiban apabila orang tua benar-benar tidak mampu dan anak memiliki kemampuan.
Namun, ulama juga mengingatkan agar seorang suami:
- Tidak mengabaikan nafkah wajib kepada istri dan anak.
- Menyesuaikan bantuan dengan kemampuan ekonomi.
- Mengedepankan musyawarah dan keterbukaan demi menjaga keharmonisan rumah tangga.
- Tidak menjadikan bantuan kepada orang tua sebagai penyebab perselisihan dalam keluarga.
Islam tidak melarang seorang suami membantu ibu atau ayahnya, bahkan hal tersebut merupakan bentuk bakti yang sangat dianjurkan. Akan tetapi, dalam kehidupan rumah tangga, keterbukaan dan komunikasi tetap menjadi prinsip penting.
Suami sebaiknya mengajak istri berdiskusi mengenai kondisi keuangan keluarga dan rencana membantu orang tua. Dengan demikian, kewajiban kepada orang tua tetap terlaksana tanpa mengorbankan keharmonisan rumah tangga.
Pada akhirnya, keluarga yang dibangun di atas kejujuran, saling menghargai, dan musyawarah akan lebih mudah menghadapi berbagai persoalan, termasuk dalam mengatur keuangan demi kebaikan bersama.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan