Queensha.id – Jepara,

 

Kisah kepulangan dari luar negeri sering kali identik dengan kesuksesan dan kehidupan mapan. Namun tak semua takdir berjalan demikian. Sosok Raden Mas Panji Sosrokartono justru mengalami ironi kehidupan: pernah dielu-elukan di Eropa, tetapi berakhir dalam kesunyian di tanah kelahirannya.

Lahir pada 10 April 1877 dari keluarga priyayi, Sosrokartono merupakan kakak kandung Raden Ajeng Kartini. Namun, kiprahnya di dunia internasional tak kalah gemilang. Ia bahkan dikenal sebagai salah satu orang Indonesia pertama yang meraih gelar sarjana di Eropa.

 

Menaklukkan Eropa dengan Kecerdasan

Perjalanan intelektual Sosrokartono dimulai saat ia menempuh pendidikan di Polytechnische School te Delft sebelum melanjutkan ke Universitas Leiden.

Puncaknya, pada 1908 ia lulus dengan gelar Sarjana Bahasa dan Sastra Timur. Kecerdasannya begitu menonjol hingga ia menguasai puluhan bahasa asing, mulai dari Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, hingga Rusia.

Kemampuan luar biasa itu mengantarkannya menjadi jurnalis internasional. Sosrokartono tercatat aktif menulis di berbagai surat kabar, termasuk menjadi bagian dari redaksi Bintang Timoer yang dipimpin Abdul Rivai.

Kariernya terus melesat. Saat Perang Dunia I pecah, ia dipercaya menjadi juru bicara bagi negara-negara Sekutu. Reputasinya sebagai ahli bahasa membuatnya dijuluki “Si Jenius dari Timur”.

 

Pulang Kampung, Justru Terpinggirkan

Namun, kejayaan itu seolah runtuh ketika ia kembali ke Indonesia. Di bawah pemerintahan kolonial Hindia Belanda, Sosrokartono justru dipandang sebagai sosok yang “tidak kooperatif”.

Ia menolak bekerja sama dengan pemerintah kolonial dan lebih memilih berpihak pada perjuangan bangsa. Sikap tersebut membuatnya dijauhi, bahkan ruang geraknya dipersempit.

Kesempatan kerja menjadi sulit didapat. Ia juga kerap menjadi sasaran fitnah dan tekanan sosial. Dari seorang intelektual kelas dunia, Sosrokartono perlahan terjerumus dalam kehidupan penuh keterbatasan.

 

Akhir Hidup yang Sunyi

Tekanan panjang yang dialami turut memengaruhi kondisi kesehatannya. Sejak 1942, ia mulai mengalami penurunan fisik hingga akhirnya menderita kelumpuhan.

Hingga akhir hayatnya, kondisi itu tak kunjung membaik. Pada 8 Februari 1952, Sosrokartono wafat dalam usia 74 tahun di dalam keadaan jauh dari gemerlap kehidupan yang pernah ia rasakan di Eropa.

 

Warisan yang Terlupakan

Kisah Sosrokartono menjadi potret getir tentang bagaimana seorang putra bangsa yang begitu berjasa justru terabaikan di tanah sendiri. Ia bukan hanya kakak Kartini, tetapi juga simbol kecerdasan, keberanian, dan idealisme.

Namun sejarah mencatat, tidak semua pejuang mendapatkan penghargaan yang layak di zamannya.

Kini, Jepara dan Indonesia punya tanggung jawab moral untuk kembali mengingat dan menghargai sosok besar ini dan bukan sekadar sebagai catatan sejarah, tetapi sebagai inspirasi tentang integritas dan pengabdian.

 

***
(03 Mei 2026)