Queensha.id – Edukasi Islam,
Sebuah unggahan dari akun Facebook Rahma Fitri yang membahas tentang taubatnya orang yang pernah berzina kembali mengingatkan masyarakat bahwa dalam ajaran Islam, sebesar apa pun dosa seseorang, pintu ampunan Allah tetap terbuka selama manusia benar-benar kembali dan memperbaiki dirinya.
Dalam unggahannya disebutkan pesan bahwa seseorang yang pernah terjerumus dalam zina tidak boleh kehilangan harapan kepada Allah. Manusia bisa saja jatuh karena kelemahan iman, godaan hawa nafsu, lingkungan, maupun kesalahan dalam mengambil keputusan.
Namun Islam mengajarkan bahwa manusia yang menyadari kesalahannya dan sungguh-sungguh bertaubat masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan ampunan Allah.
Zina Dalam Pandangan Islam Merupakan Dosa Besar
Dalam ajaran Islam, zina termasuk perbuatan yang dilarang keras karena dapat merusak kehormatan manusia, keluarga, serta tatanan sosial.
Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”
(QS. Al-Isra: 32)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak hanya melarang perbuatan zina, tetapi juga melarang segala jalan yang dapat mengantarkan seseorang menuju perbuatan tersebut.
Menurut para ulama, larangan zina memiliki tujuan menjaga:
- kehormatan manusia,
- keturunan,
- keluarga,
- kesehatan moral masyarakat.
Apakah Orang yang Pernah Berzina Masih Bisa Diampuni Allah?
Jawabannya: Ya, selama seseorang benar-benar bertaubat.
Allah SWT berfirman:
“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosanya, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.”
(QS. Ali Imran: 135)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa orang yang melakukan dosa bukan berarti kehilangan kesempatan untuk kembali kepada Allah.
Yang menjadi ukuran adalah apakah seseorang:
- menyesali dosa tersebut,
- memohon ampun kepada Allah,
- meninggalkan perbuatan dosa,
- berusaha memperbaiki kehidupannya.
Syarat Taubat dari Perbuatan Zina Menurut Ulama
Para ulama menjelaskan bahwa taubat yang benar memiliki beberapa unsur penting.
1. Menyesali Perbuatan Dosa
Seseorang harus memiliki rasa penyesalan dalam hati bahwa perbuatannya telah melanggar aturan Allah.
Penyesalan bukan hanya karena takut diketahui manusia, tetapi karena sadar telah jauh dari jalan Allah.
2. Meninggalkan Perbuatan Zina
Taubat bukan hanya ucapan “astaghfirullah”, tetapi harus disertai perubahan nyata.
Jika seseorang masih terus melakukan zina tanpa usaha meninggalkan dosa tersebut, maka taubatnya belum menunjukkan kesungguhan.
3. Bertekad Tidak Mengulangi
Manusia memang bisa memiliki kelemahan, tetapi orang yang bertaubat harus memiliki niat kuat untuk menjaga dirinya.
Caranya dengan:
- menjauhi lingkungan buruk,
- menjaga pergaulan,
- memperbanyak ibadah,
- mendekatkan diri kepada orang-orang saleh.
4. Memperbanyak Amal Kebaikan
Islam mengajarkan bahwa kebaikan dapat menjadi jalan untuk memperbaiki kehidupan seseorang.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan.”
(QS. Hud: 114)
Pandangan Ulama Indonesia Tentang Taubat dari Zina
Buya Yahya: Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah
Ulama Indonesia seperti Buya Yahya sering menjelaskan bahwa seseorang yang pernah melakukan dosa besar tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah.
Menurut beliau, selama seseorang masih hidup dan benar-benar kembali kepada Allah, kesempatan taubat tetap terbuka.
Taubat bukan untuk orang yang tidak pernah berdosa, tetapi untuk manusia yang ingin memperbaiki diri.
Ustaz Abdul Somad: Allah Maha Mengampuni Orang yang Bertaubat
Dalam berbagai kajiannya, Ustaz Abdul Somad menjelaskan bahwa Allah memiliki sifat Maha Pengampun.
Namun, taubat harus dibuktikan dengan meninggalkan maksiat dan memperbaiki kehidupan.
Seseorang tidak boleh menjadikan luasnya ampunan Allah sebagai alasan untuk terus melakukan dosa.
Prof. Quraish Shihab: Rahmat Allah Lebih Luas dari Kesalahan Manusia
Menurut penjelasan Prof. Quraish Shihab, manusia tidak boleh merasa dirinya sudah tidak memiliki harapan hanya karena pernah melakukan kesalahan.
Allah memberikan kesempatan kepada manusia untuk berubah dan kembali menuju kebaikan.
Jangan Membuka Aib Masa Lalu Setelah Bertaubat
Islam juga mengajarkan agar seseorang yang sudah bertaubat tidak perlu membuka kembali dosa masa lalunya kepada orang lain.
Menutupi aib diri sendiri dan memperbaiki kehidupan adalah bagian dari menjaga kehormatan.
Masyarakat juga tidak boleh terus menghukum seseorang yang telah benar-benar berubah.
Allah melihat usaha seseorang dalam memperbaiki dirinya.
Masyarakat Jangan Menghina Orang yang Sudah Bertaubat
Dalam kehidupan sosial, masih banyak orang yang memberikan label buruk kepada seseorang karena masa lalunya.
Padahal Islam mengajarkan bahwa manusia tidak boleh merasa dirinya lebih suci dibandingkan orang lain.
Seseorang yang pernah jatuh tetapi kemudian memperbaiki diri bisa menjadi manusia yang lebih dekat kepada Allah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang bertaubat.”
(HR. Tirmidzi)
Hikmah dari Taubat Seorang Pendosa
Orang yang pernah melakukan dosa kemudian bertaubat dengan sungguh-sungguh dapat mengambil banyak pelajaran:
- Lebih menghargai nikmat iman.
- Lebih berhati-hati dalam pergaulan.
- Lebih dekat kepada Allah.
- Memahami kelemahan diri.
- Menjadi pribadi yang lebih baik.
Jadi, pesan yang disampaikan dalam unggahan Facebook Rahma Fitri tentang taubat dari zina mengandung pengingat bahwa manusia tidak boleh kehilangan harapan kepada Allah.
Dalam Islam, zina memang termasuk dosa besar, tetapi rahmat dan ampunan Allah jauh lebih luas bagi hamba yang benar-benar bertaubat.
Taubat bukan hanya menangisi masa lalu, tetapi membuktikan perubahan melalui iman, amal baik, dan meninggalkan perbuatan yang dilarang.
Sebesar apa pun kesalahan seseorang, selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan seseorang kembali kepada Allah dengan tulus, pintu taubat masih terbuka.
Allah tidak mencari manusia yang tidak pernah salah, tetapi manusia yang mau kembali dan memperbaiki diri.
***
Sumber: Queensha Jepara/Rahma Fitri.

Tinggalkan Balasan