Queensha.id – Jepara,

 

Tradisi tahlilan selama tujuh hari setelah kematian kembali menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Di sejumlah wilayah di Kabupaten Jepara, keluarga yang sedang berduka kerap menghadapi tekanan sosial untuk menyediakan jamuan bagi para tamu yang datang melayat dan mengikuti doa bersama.

 

Fenomena ini dinilai mulai bergeser dari nilai empati dan gotong royong yang seharusnya menjadi ruh utama dalam tradisi takziah.

 

Di tengah suasana kehilangan, keluarga duka justru sering dipusingkan dengan urusan konsumsi harian, mulai dari makanan ringan, minuman, hingga kebutuhan lain untuk menjamu tamu selama beberapa hari berturut-turut.

 

Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai tradisi yang awalnya bertujuan mempererat solidaritas sosial itu kini dalam beberapa kasus berubah menjadi tekanan sosial tersendiri, terutama bagi warga kurang mampu.

 

“Ketika keluarga sedang berduka, fokus utama seharusnya adalah pemulihan emosional dan doa. Namun di lapangan, banyak keluarga justru terbebani biaya konsumsi dan tuntutan sosial,” ujarnya, Senin (11/5).

 

Beban Finansial dan Psikologis

Bagi keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, tradisi menjamu tamu selama tujuh hari dapat menjadi beban berat. Tidak sedikit warga yang rela berutang demi menjaga perasaan tetangga atau menghindari anggapan kurang menghormati tamu.

 

Selain beban finansial, kondisi mental keluarga juga menjadi perhatian. Dalam suasana berduka, mereka tetap dituntut melayani tamu dan memastikan kebutuhan konsumsi tercukupi setiap hari.

 

Biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit. Mulai dari kebutuhan dapur, jajanan, kopi, hingga rokok untuk tamu disebut bisa menghabiskan jutaan rupiah.

 

 

Dinilai Bertentangan dengan Nilai Dasar Empati

Dalam ajaran Islam, tradisi membantu keluarga yang berduka sebenarnya lebih ditekankan dibanding membebani mereka dengan kewajiban menjamu tamu.

 

Rasulullah SAW menganjurkan tetangga dan kerabat untuk mengirimkan makanan kepada keluarga yang sedang berduka, atau dikenal dengan Sunnah Ja’far.

 

Karena itu, sejumlah tokoh masyarakat dan pemerhati sosial mulai mendorong perubahan pola budaya agar lebih ringan bagi keluarga duka.

 

 

Muncul Gerakan “Back to Sunnah” dan Gotong Royong

Di beberapa desa di Jepara, mulai muncul kesadaran kolektif untuk mengurangi beban keluarga yang sedang kehilangan anggota keluarganya.

 

Beberapa langkah yang mulai diterapkan antara lain:

  • Iuran kematian tingkat RT/RW untuk membantu biaya pemakaman dan konsumsi.
  • Tetangga secara sukarela membawa nasi atau lauk untuk keluarga duka.
  • Warga bergotong royong membantu kebutuhan teknis selama masa takziah.
  • Edukasi tokoh agama agar masyarakat memahami bahwa jamuan bukan kewajiban keluarga duka.
  • Mengurangi budaya gengsi sosial dalam penyajian hidangan.

 

Langkah tersebut dinilai mampu memperkuat solidaritas sosial sekaligus mengembalikan esensi empati di tengah masyarakat.

 

Masyarakat pun diharapkan dapat membangun budaya takziah yang lebih ringan, humanis, dan tidak memberatkan keluarga yang sedang mengalami musibah.

 

 

***

(Queensha Jepara, 11 Mei 2026)